Peran Apoteker Dalam Upaya Pencegahan Penyakit Reproduksi Pada Remaja
Penulis: Nasywa Amalia, mahasiswa Prodi Farmasi Fakultas Ilmu Kesehatan, Universitas Muhammadiyah Malang
TABLOIDMATAHATI.COM, MALANG– Masa remaja merupakan tahap terakhir perkembangan manusia, masa ini merupakan masa transisi dari anak-anak menuju dewasa. Perkembangan yang terjadi pada masa remaja tidak hanya perubahan fisik saja, namun perubahan yang terjadi meliputi perubahan biologis, psikologis, hingga perubahan sosial. Pada masa ini banyak sekali terjadi kejadian yang membingungkan bagi para remaja hingga menimbulkan banyak tingkah laku yang aneh, canggung, dan kalau tidak dikontrol akan menimbulkan kenakalan pada remaja salah satunya berupa risiko perilaku seksual berisiko.
Kesehatan reproduksi remaja merupakan hal yang harus dipahami karena menjaga kesehatan reproduksi merupakan hal yang penting terkait keberlangsungan manusia dari generasi ke generasi. Kesehatan reproduksi merupakan keadaan sehat secara fisik, mental, dan sosial secara utuh, tidak semata-mata bebas dari penyakit atau kecacatan yang berkaitan dengan sistem, fungsi, dan proses reproduksi pada laki-laki dan perempuan.
Usia remaja merupakan usia yang sangat rentan dengan berbagai masalah Kesehatan reproduksi. Banyak faktor yang memengaruhi tejadinya penyakit reproduksi, seperti faktor sosial, kurangnya edukasi tentang penyakit tersebut, hingga rasa ingin tahu yang tinggi. Hal-hal tentang penyakit reproduksi seperti faktor penyebab hingga dampak yang terjadi terhadap tubuh mereka harus mereka dapatkan sedini untuk meminimalisir resiko yang mereka ambil dari keputusan mereka di kemudian hari.
Penyakit reproduksi yang umumnya masyarakat ketahui adalah HIV/AIDS, PCOS, PMS (Penyakit Menular Seksual), hingga terjadinya kanker. Terkadang para remaja tidak menyadari saat mereka terjangkit penyakit tersebut, namun lambat laun penyakit tersebut sangatlah mematikan. Sebagai tenaga kesehatan kita dapat melakukan berbagai cara untuk menekan penyebaran penyakit ini, hal yang paling mudah dapat kita lakukan adalah dengan melakukan penyuluhan di desa maupun di sekolah.
Apoteker sebagai salah satu tenaga kesehatan juga berperan penting terhadap upaya pencegahan penyakit reproduksi yang umum diderita oleh para remaja. Ada berbagai cara bagi apoteker untuk membantu menekan angka pertumbuhan dari permasalahan kesehatan reproduksi, yakni yang pertama adalah melakukan atau mengikuti program penyuluhan kesehatan reproduksi yang diadakan di berbagai tempat. Peran apoteker komunitas dianggap dianggap penting dalam mempromosikan intervensi perawatan diri dan memberdayakan individu, keluarga, dan komunitas. Selain dengan berpartisipasi dalam program penyuluhan, apoteker juga berperan penting dalam pemberian informasi mengenai terapi yang harus dijalani oleh para pasien yang terjangkit berbagai macam penyakit tersebut. Pemberian informasi yang disampaikan oleh apoteker yaitu mengenai dosis yang sesuai, waktu penggunaan, hingga cara penggunaan obat tersebut dengan tepat agar mendapatkan hasil terapi yang sesuai.
Disisi lain apoteker juga harus berusaha untuk mengontrol ketersediaan obat obat yang digunakan sehingga pasien tidak akan kesulitan dalam mencari obat yang akan dikonsumsi, kita ambil contoh penyakit HIV yang harus mengonsumsi obat seumur hidupnya sehingga sudah seharusnya apoteker mampu untuk menyediakan obat-obatan tersebut, apoteker juga harus mengontrol kualitas obat-obatan yang akan dikonsumsi oleh pasien.
Dapat disimpulkan bahwa edukasi kesehatan reproduksi merupakan hal yang sangat penting untuk dilakukan sedini mungkin, dilihat dari banyaknya kasus yang terjadi adalah karena para remaja kurang mendapatkan edukasi terkait hal tersebut, terlebih lagi kepada para remaja yang berada di umur rawan. Penyuluhan dapat dilakukan oleh siapapun, namun akan lebih baik apabila dilakukan oleh tenaga kesehatan seperti apoteker. Namun sebagai apoteker, melakukan penyuluhan bukanlah satu-satunya hal yang dapat dilakukan. Memberikan informasi terhadap obat-obatan yang akan dikonsumsi oleh pasien agar mendapatkan hasil terapi yang maksimal juga menjadi tanggung jawab apoteker, dan yang terakhir adalah sebagai apoteker kita juga harus mengontrol sediaan produk dan kualitas produk yang akan diberikan kepada pasien.( Nasywa Amalia, NIM :202310410311131, Prodi : Farmasi Fakultas Ilmu Kesehatan, Universitas Muhammadiyah Malang, Email: nasywaamalia5@gmail.com)
