Peran Masyarakat Dalam Penanggulangan Kasus Bunuh Diri di Kalangan Mahasiswa
Penulis: Pritha Divani, mahasiswa Prodi Farmasi, FIKES, Universitas Muhammadiyah Malang
TABLOIDMATAHATI.COM, MALANG– Bunuh diri merupakan upaya seseorang untuk mengakhiri hidupnya secara sengaja. Bunuh diri seringkali dilakukan oleh seseorang akibat putus asa sehingga dia beranggapan dengan bunuh diri akan menyelesaikan semua permasalahan dalam hidupnya. Padahal dilihat dari segi agama, segi sosial, maupun norma sangat tidak baik. Tetapi, sangat disayangkan kasus bunuh diri terus bertambah dari tahun ke tahun. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan bahwa terdapat rata-rata satu orang meninggal dikarenakan bunuh diri di dunia setiap 40 detik. Indonesia sendiri menempati peringkat 159 kasus bunuh diri di dunia.
Keputusasaan merupakan inti dari tindakan bunuh diri yang dapat berpengaruh dalam menjalani kehidupan. Perasaan terpendam, kenyataan tidak sesuai dengan ekspektasi, masalah keluarga, beban pendidikan, masalah ekonomi, dan masih banyak lagi penyebab kompleks dari aksi bunuh diri.
Pelaku bunuh diri di Indonesia sendiri tidak memandang usia muda atau tua. Akhir- akhir ini yang marak terjadi kasus bunuh diri pada kalangan mahasiswa, baik dari mahasiswa baru atau mahasiswa tingkat akhir.

Mahasiswa sendiri termasuk dalam kategori remaja yang berpeluang menciptakan ide atau percobaan bunuh diri. Masa transisi dari remaja ke dewasa awal pasti membuat mahasiswa mengalami banyak kesulitan. Proses dimana harus bertanggung jawab terhadap diri sendiri, mengemban amanah yang besar baik dari keluarga maupun akademik, dan tentunya jiwa ingin hidup bebas yang masih bergejolak.
Beban pendidikan yang terlalu berat, uang kuliah yang terlalu tinggi, hingga faktor sosial yang menyebabkan tidak sedikit di dalam kampus terdapat kesenjangan sosial. Adanya kesenjangan sosial ini menyebabkan mahasiswa sulit beradaptasi dengan lingkungan baru dan menyesuaikan diri dengan teman atau orang baru yang memiliki kelas sosial berbeda dengan dirinya. Masa-masa ini seringkali menimbulkan masalah pada mahasiswa.
Penyebab kasus bunuh lainnya yaitu jurusan kuliah yang bukan minatnya namun dipaksakan oleh keluarga untuk berhasil pada bidang akademik sehingga muncul ambisi yang begitu berlebih untuk menjadi lulusan yang terbaik. Kita tidak salah berambisi untuk menjadi lulusan yang terbaik tapi kita harus mengetahui batas kemampuan sehingga ketika kita mencoba namun gagal, itu tidak akan membuat kita jatuh.
Baru-baru ini telah terjadi beberapa kasus bunuh diantaranya yaitu: Di FKH Unair korbannya adalah Bernadette Caroline Angelica Harianto. Dia ditemukan tidak bernyawa di mobilnya pada Minggu (5/11). Kasus di FK Unand, korbannya berinisial HAN, dia ditemukan rekannya yang tinggal di rumah kost yang sama bernama Onya. HAN ditemukan tergangtung di balik gorden kamar kos, kawasan Jati, Kecamatan Padang Timur, Kota Padang, Kamis (16/11). Sedangkan kasus bunuh diri yang masih menjadi pembicaraan terjadi di Universitas Brawijaya Malang pada kamis (14/12/23) korban diduga melompat dari lantai 12.
Bermacam cara tindakan bunuh diri dilakukan oleh mahasiswa dari gantung diri, menabrakkan diri ke rel kereta api, meminum racun serta lompat dari gedung tinggi.
Dari peristiwa yang menyedihkan ini penting dalam memahami masalah serta kesehatan mental yang sedang dihadapi oleh para mahasiswa.
Untuk menanggulangi kasus bunuh diri di kalangan mahasiswa tersebut perlu adanya peran dari berbagai pihak terutama dari masyarakat. Masyarakat mempunyai tanggung jawab dalam mencegah tindakan bunuh diri seperti: Masyarakat memiliki peran penting dalam memberikan pengaruh positif terhadap individu untuk tidak merusak diri sendiri. Masyarakat perlu membangun pertahan sosial seperti mengadakan terapi dan pelayanan kesehatan mental untuk pencegahan bunuh diri. Mengadakan suatu organisasi di dalam masyarakat dimana suatu individu merasa nyaman dalam organisasi tersebut. Membuat program pencegahan bunuh dengan mengangkat isu lokal dan di program tersebut kita menjabarkan apa saja kerugian dari tindakan bunuh diri. Dan kita sebagai masyarakat ketika kita menemui seseorang yang mempunyai masalah, kita seharusnya mengayomi mereka bukan malah mengejek atau membicarakannya, karena hal yang kita lakukan tersebut justru membuat mereka stres sehingga muncul pikiran untuk melakukan tindakan bunuh diri.
Jangan kamu habiskan umurmu untuk sesuatu yang merugikan dirimu, karena dari setiap masalah yang kita hadapi pasti ada hikmah dan jalan keluarnya. Ingatlah ALLAH tidak pernah memberikan suatu cobaan melebihi batas kemampuan hamba-NYA. Pilihan-NYA, rencana-NYA, pengaturan-NYA selalu lebih indah dari apa yang inginkan untuk diri kita.
Maka dari itu, ketika kita sedang terbebani suatu masalah seperti trauma akan masa lalu dan ketakutan akan masa depan, manusia harus memahami dan memperbaiki diri dengan evaluasi diri, melakukan pendekatan, dan berusaha agar hal tersebut tidak terulang lagi. Merasa capek itu boleh , tapi harus mendorong kita untuk menjadi lebih kuat. Bunuh Diri bukan jalan keluar dari setiap masalah melainkan akan menambah masalah terhadap orang yang kita tinggalkan. Mari Bersama-sama saling menguatkan, kita pasti bisa!!!. (pritha divani, kelas: farmasi E, NIM: 202310410311211)
