Tantangan Terhadap Kesehatan Masyarakat: Fenomena Menghidari Obat-Obatan Meskipun Diperlukan Terapi
Penulis: Devi Komalasari, Mahasiswa Prodi Farmasi, FIKES, Universitas Muhammadiyah Malang
TABLOIDMATAHATI.COM, MALANG – Obat merupakan suatu senyawa yang dapat berfungsi untuk menyembuhkan, memulihkan, mencegah penyakitmaupun meningkatkan kesehatan apabila digunakan sesuai dengan aturan dan fungsi obat tersebut. Namun sebaliknya, jika tidak digunakan dengan tepat, obat bukan saja tidak berguna, bahkan bisa merugikan karena obat merupakan bahan kimia yang selain memiliki efek terapi, juga dapat menimbulkan efek yang tidak diinginkan. Maka dari itu, obat dapat bersifat sebagai obat maupun racun bagi penggunanya.
Penggunaan obat-obatan sebagai bagian dari terapi medis merupakan suatu langkah yang seringkali sangat penting untuk pemulihan dan pemeliharaan kesehatan. Namun, belakangan ini, muncul suatu fenomena di masyarakat di mana beberapa individu lebih cenderung untuk menghindari obat-obatan, bahkan ketika terapi tersebut menjadi suatu kebutuhan yang mendesak. Artikel ini akan menjelaskan fenomena tersebut dan faktor-faktor yang mungkin mempengaruhinya.
- Kepercayaan pada Pengobatan Alternatif
Salah satu faktor utama dalam fenomena ini adalah kepercayaan masyarakat pada pengobatan alternatif atau terapi alami. Beberapa individu merasa bahwa penggunaan bahan-bahan alami lebih aman dan lebih sesuai dengan prinsip-prinsip kesehatan holistik. Kendati demikian, perlu ditekankan bahwa pengobatan alternatif juga seharusnya didukung oleh bukti ilmiah yang memadai dan dikonsultasikan dengan profesional kesehatan.
- Ketakutan akan Efek Samping
Masyarakat seringkali terpengaruh oleh informasi mengenai efek samping obat-obatan yang dapat ditemukan di internet atau melalui pengalaman pribadi atau orang terdekat. Ketakutan akan efek samping dapat membuat beberapa individu lebih memilih menghindari obat-obatan, bahkan jika manfaatnya jauh lebih besar daripada risiko yang mungkin terjadi. Pentingnya edukasi mengenai manfaat dan risiko obat-obatan perlu diperkuat untuk mengatasi ketakutan ini.
- Kurangnya Pemahaman Tentang Pentingnya Terapi Medis
Beberapa orang mungkin kurang memahami urgensi dan pentingnya terapi medis dalam mengatasi penyakit atau kondisi kesehatan tertentu. Terapi medis, termasuk penggunaan obat-obatan, seringkali dirancang untuk memberikan hasil terbaik dalam jangka waktu yang relatif singkat. Edukasi kesehatan yang fokus pada pemahaman ini dapat membantu mengubah persepsi masyarakat.
- Tidak Adanya Sosialisasi Kesehatan yang Efektif
Sosialisasi kesehatan yang kurang efektif atau kurangnya akses masyarakat terhadap informasi yang akurat juga dapat berkontribusi pada fenomena ini. Penting untuk memiliki kampanye informasi yang mencakup manfaat obat-obatan, prosedur terapi, dan dampak positifnya terhadap kesehatan masyarakat.
- Peran Penting Profesional Kesehatan
Profesional kesehatan memainkan peran kunci dalam membimbing masyarakat mengenai penggunaan obat-obatan. Konsultasi dengan dokter atau apoteker dapat memberikan pemahaman yang lebih mendalam mengenai manfaat, dosis yang tepat, dan pemantauan terhadap kemungkinan efek samping. Melibatkan masyarakat dalam dialog terbuka mengenai peran obat-obatan dalam terapi medis dan memastikan informasi yang akurat dapat diakses oleh semua pihak adalah langkah penting dalam mengatasi fenomena ini. Keseimbangan antara pengobatan konvensional dan alternatif, bersama dengan pemahaman yang lebih baik tentang terapi medis, akan membantu masyarakat membuat keputusan kesehatan yang lebih baik.
Umumnya masyarakat mendapatkan obat dari suatu fasilitas kesehatan seperti apotek, klinik, puskesmas ataupun rumah sakit. Berdasarkan standar pelayanan kefarmasian baik itu di apotek, klinik, puskesmas ataupun rumah sakit mewajibkan seorang apoteker untuk menjelaskan bagaimana aturan ataupun cara penggunaan dan informasi penting berkaitan dengan obat yang diberikan (Menteri Kesehatan RI, 2016). Hal itu dilakukan dengan harapan bahwa obat akan memberikan efek terapi sesuai harapan. Namun fenomena yang terjadi di masyarakat adalah terkadang masyarakat mengkonsumsi obat tidak sesuai dengan aturan pakai yang semestinya dan menggunakan obat tidak sesuai dengan cara penggunaan yang benar. Hal ini tentunya akan mengakibatkan tidak tercapainya tujuan terapi yang seharusnya.
Fenomena yang di jelaskan dapat terjadi pada penggunaan obat baik sintetik maupun obat tradisional. Pada obat sintetik banyak contoh kasus yang terjadi di masyarakat berkaitan dengan ketidaksesuaian penggunaan obat. Ketidaksesuaian dapat berasal dari segi dosis, aturan pakai, dan cara pakai. Sebagai contoh, obat yang seharusnya rutin diminum setiap hari belum dipenuhi kepatuhannya. Pasien hanya mengkonsumsi obat apabila mengalami keluhan saja. Hal ini sering terjadi pada obat hipertensi, jantung ataupun diabetes. Kemudian ada pula obat pil KB yang seharusnya rutin diminum pada jam yang sama namun pasien tidak patuh. Dari segi cara pakai juga banyak masyarakat yang masih belum paham terutama penggunaan obat dengan cara yang khusus seperti inhaler, salep mata, suppositoria, tetes telinga, dan obat lain.
Ketidaksesuaian penggunaan juga terjadi pada obat tradisional yang berasal dari bahan alam. Masyarakat pada umumnya menggunakan obat tradisional untuk pengobatan masih berpedoman pada bukti empiris turun temurun yang digunakan hingga saat ini. Hal ini tentunya baik apabila bukti empiris tersebut telah dibuktikan dengan penelitian ilmiah. Sebagai contoh, kasus yang terjadi pada tahun 2023 yaitu pemberian ramuan tradisional kepada bayi berusia 2 bulan yang mengakibatkan bayi tersebut meregang nyawa.
Berdasarkan uraian fenomena di atas, maka penting adanya pemberian edukasi kepada masyarakat dengan tujuan masyarakat lebih paham berkaitan dengan penggunaan obat sintetis dan bahan alam yang sesuai, dengan tujuan terapi yang diharapkan dan menghindari efek samping yang merugikan.
