Dampak LGBT dan Antisipasinya
Penulis: Uvic Naily Usfiatin, mahasiswaProgram Studi Farmasi, Fakultas Ilmu Kesehatan, Universitas Muhammadiyah Malang
TABLOIDMATAHATI.COM, MALANG– Akhir-akhir ini, isu tentang lesbian, gay, biseksual dan transgender, atau dikenal dengan istilah LGBT, mengemuka di dunia. Ini tidak lain karena semakin terlihatnya berbagai masalah social termasuk kesehatan pada kelompok LGBT. Lesbian, gay dan biseksual adalah masalah identitas seks (sexual identities). Masalah kesehatan yang dialami LGBT diantaranya penyakit terkait perilaku seks, merokok dan pemakaian narkoba, serta masalah psikologi seperti depresi atau bunuh diri. Masalah social yang sering dialami kelompok LGBT adalah stigma dan diskriminasi, termasuk akses ke pelayanan kesehatan.
LGBT di Indonesia masih merupakan hal yang tabu khususnya bagi kelompok yang
pemikirannya didasari agama, Sebagian besar masyarakat menolak perilaku dan orientasi seksual kelompok LGBT ini. Namun, ada juga Sebagian masyarakat bersikap netral, menerima LGBT akan tetapi tidak mendukung LGBT melakukan kegiatan secara terbuka.
Indonesia merupakan salah satu negara yang berpegang teguh dan berpedoman kepada norma agama bahkan masih kental dengan ajaran agama, moral, dan etika yang telah berkembang dan mengakar di seluruh kalangan masyarakat. Meskipun Sebagian masyarakat menerima keberadaan kaum LGBT tentu tidak bisa diterima begitu saja, karena selalu ada alasan dibalik penolakan tersebut, selain bertentangan dengan ajaran agama dan nilai- nilai sosia masyarakat prilaku ini dapat menyebabkan penularan penyakit.
Contoh dampak Kesehatan yang dapat disebabkan oleh prilaku LGBT
Kanker anus atau dubur
Para gay umumnya melalukan seks anal sehingga mereka memiliki resiko tinggi terkena kanker anus. Seks anal sangat tidak dianjurkan karena dapat membuat pendarahan hingga menyebabkab wasir, alasannya karena anus tidak memiliki pelumas sebanyak vagina.
Kanker mulut
Kebiasaan melakukan seks oral dapat menularkan virus hpv yang bisa menyebabkan kanker mulut.
Sifilis
Melakukan hubungan seks oral dan seks anal merupakan salah satu penyebabab penularan infeksi bakteri pada alat kelamin
HIV/AIDS
Umumnya para LGBT memiliki gaya hidup seks bebas, sehingga kecenderungan terkena virus HIV/AIDS sangat tinggi.
Walaupun sudah banyak sumber yang menyatakan bahwa LGBT dapat beresiko dalam Kesehatan, namun tidak mudah menghilangkan perilaku LGBT ini, perlu adanya kemauan dari diri sendiri dan tidak bisa dipaksakan oleh orang lain, karena kelompok LGBT umumnya mengharapkan perlakuan yang lebih seimbang dan adil dari pemerintah, maka diperlukannya kesadaran diri sendiri untuk keluar dari perilaku tersebut.
Jika masalah ini tidak dibendung, maka eksitensi LGBT akan semakin menjadi masalah sosial dan krusial. Fondasi LGBT ini akan memicu perubahan sosial yang mengancam sendi-sendi kemanusiaan dan peradaban masyarakat Indonesia pada khususnya. LGBT juga dapat munculnya masyarakat hedonis yang amoral, permisif dan sakit secara fisik maupun psikologis.
Lebih mirisnya adalah ‘lost young generation’ yang terpengaruh dan terpapar oleh life trend LGBT sejak masa muda/masa remaja, karena sejatinya yang diharapkan adalah generasi muda sebagai penopang bangsa dan masyarakat yang beradab serta memiliki akhlak mulia dan bukan generasi muda yang militan sebagai penganut dan pembela LGBT. Oleh karena itu, hal ini sangat urgensi untuk dilakukan guna membuka wawasan awal langkah preventif dari pandangan masyarakat khususnya membentengi anak-anak muda atas perilaku masif dan intensnya Gerakan LGBT saat ini.
Penanggulangan kasus LGBT dapat dilakukan dengan peninjauan Kembali peraturan tentang perilaku LGBT, mendirikan pusat kajian yang membantu penderita/ korban LGBT agar bisa berperilaku normal Kembali, dan berbagai kalangan Bersatu untuk membantu mengembalikan penderita LGBT agar dapat berperilaku dan bersikap normal Kembali.
Pencegahan LGBT bisa dimulai dengan melakukan Pendidikan seksual kepada anak-anak, mereka akan dapat memahami perilaku-perilaku menyimpang yang dilakukan LGBT. Orang tua bisa mulai membangun komunikasi yang mudah dimengerti tentang nilai-nilai fitrah seksual, sehingga nilai-nilai tersebut tertanam dan terinternalisasi sejak dini. Selain itum pengawasan orang tua terhadap tontonan anak-anak juga sangat penting dalam pecegahan kasus ini,karena pada masa sekarang keberadaan media sosial saat ini sudah menjadi kebutuhan bagi masyarakat, tak terkecuali anak-anak, sehingga kemudaha akses informasi dan pengetahuan di media sosial menjadi sarana yang tidak dapat dilepaskan dari kehidupan sehari-hari. Pasalnya, beberapa tayangan anak memang bersifat mendidik, namun ada juga yang tidak mendidik alias menyimpang, karna faktanya penyebaran LGBT begitu cepat. Bahkan, yang tadinya terlahir dengan “normal” dapat terkena hal tersebut.
Kegiatan terakhir yaitu tahap evaluasi terhadap penggunaan media luar ruang sebagai sarana sosialisasi dengan mengadakan diskusi terbatas dengan pihak berwajib yang berada disekitar lingkungan mengenai efektivitas informasi yang dijelaskan serta dihabarkan melalui media tersebut. Hal ini dilakukan bertujuan untuk menghindari perilaku menyimpang seperti seks bebas dan sejenisnya. Remaja LGBT menghadapi tantangan perkembangan dan psikososial unik yang harus dipahami dan dipertimbangkan oleh dokter kesehatan mental saat merumuskan rencana pengobatan. Idealnya, dokter kesehatan mental harus siap dan nyaman mendiskusikan perkembangan seksual dan identitas gender ketika berkonsultasi dengan keluarga atau dokter anak yang mencari pengobatan untuk pasien anak atau remaja. Upaya terapeutik yang berfokus pada konsolidasi identitas dan mengatasi stigma diri (penderitaan pasien terkait identitas mereka sendiri) dapat membantu mendorong perkembangan psikoseksual yang sehat bagi remaja LGBT. Dokter yang merasa tidak nyaman bekerja dengan populasi ini harus mencari pengawasan dan memahami alternatif klinis, yang mungkin mencakup telepsikiatri dan/atau konsultan, sehingga mereka dapat merujuk pasien ke terapis yang dapat memberikan perawatan yang tepat. Selain itu, berbagai sumber daya dan publikasi yang berbasis bukti dan ditinjau oleh rekan sejawat oleh organisasi profesional dan komunitas tersedia untuk memberikan panduan tentang pilihan pengobatan dan tantangan setiap kali muncul pertanyaan mengenai perawatan remaja LGBT dengan gangguan kejiwaan. (*)
