Menginspirasi Harmoni: Kontribusi Generasi Z dalam Mempromosikan Keberagaman Indonesia
Oleh: Viola Emylia, mahasiswi Prodi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Muhammadiyah Malang
TABLOIDMATAHATI.COM, MALANG– Wilayah Indonesia dari ujung barat Aceh sampai ujung timur Papua, terdiri dari berbagai budaya, suku, adat istiadat, bahasa, agama, dan ras. Dengan semua keberagamannya, Indonesia memiliki tantangan dan potensi besar dalam menjaga harmoni di tengah keberagaman ini. Untuk itu, Gen Z sebagai generasi yang akan menentukan bangsa ini mau dibawa kemana harus mampu menjaga dan peduli dengan keberagaman negeri ini.
Dalam upaya mempromosikan keberagaman tentu saja benyak sekali tantangan yang akan dihadapi Gen Z. kondisi sosial dan politik Indonesia menjadi salah satu faktor seperti tantangan terkait dengan ketidakadilan dan intoleransi masih menjadi kenyataan yang harus kita hadapi sehari-hari. Oleh karena itu, kita perlu membangun jaringan yang kuat dan memperkuat solidaritas untuk mengatasi tantangan-tantangan ini.
Mengenal Gen Z
Generasi Z atau yang lebih akrab disapa Gen Z merupakan generasi yang lahir antara tahun 1997-2012. Menurut studi yang dicetuskan oleh McKinsey pada 2018 Gen Z memiliki empat karakter bahwa mereka adalah generasi yang mencari kebenaran. Pertama, Gen Z disebut sebagai “the undefined ID”, yang berarti Gen Z menghargai setiap individu dan memiliki keterbukaan terhadap keunikan tiap individu.
Kedua, Gen Z disebut sebagai “the communaholic”, yang artinya generasi ini memiliki ketertarikan untuk terlibat dalam suatu komunitas untuk memperluas manfaat apa yang ingin mereka berikan. Ketiga, Gen Z disebut sebagai “the dialoguer”, yaitu generasi yang percaya pentingnya komunikasi dalam memulai perubahan dengan adanya dialog dan pentingnya komunikasi dalam penyelesaian masalah. Keempat, Gen Z disebut sebagai “the realistic”, yaitu generasi yang realistis dan analitis dalam mengambil keputusan.
Generasi ini lahir di era globalisasi dan perkembangan teknologi informasi yang pesat membuat mereka tak bisa terlepas dari akses internet maupun media sosial. Guru maupun orang tua tidak bisa mengharapkan Gen Z meninggalkan internet dan perkembangan teknologi yang berkembang di masyarakat seperti komputer, internet, web, maupun yang lainnya karena jejaring sosial dan teknologi merupakan budaya yang sudah melekat pada Gen Z.
Aksi Gen Z
- Memiliki Kesadaran akan Kebhinekaan
Tumbuh dalam era globalisasi yang bersahabat dengan teknologi membuat Gen Z mudah terpapar oleh berbagai budaya, nilai-nilai, dan pandangan baru dari seluruh dunia. Untuk itu, Gen Z harus memiliki kesadaran pentingnya keberagaman dalam pembentukan identitas sosial dan memandang sebagai aset berharga untuk kemajuan bangsa. Dengan kesadaran tentang kebhinekaan, kita dapat menjadi agen perubahan yang bersama-sama membangun Indonesia yang lebih inklusif.
- Pendidikan
Luasnya akses pendidikan dan informasi mengenai keberagaman, tentunya kita tidak boleh menyia-nyiakan. Kita harus belajar mengenai menghargai perbedaan, memahami keberagaman, dan membangun keterampilan berkomunikasi dan berinteraksi dengan orang-orang yang mempunyai latar belakang yang berbeda.
Dengan pendidikan inklusif kita dapat lebih mudah memiliki sikap yang terbuka terhadap ide-ide baru dan perubahan, dan menerima konsep-konsep keberagaman. Pendidikan yang inklusif dan berorientasi pada keberagaman, akan membantu kita menjadi agen perubahan yang mampu mempromosikan harmoni dalam masyarakat yang heterogen.
- Aktivisme dan Organisasi
Aktif terlibat dalam kegiatan aktivisme sosial dan organisasi yang berfokus pada kegiatan inklusi juga bisa kita lakukan. Kita bisa terlibat dalam berbagai aksi sosial seperti advokasi gender, aksi peduli lingkungan, kampanye anti-rasisme, memperjuangkan hak asasi manusia, keadilan dan perdamaian. Melalui partisipasi aktif ini, Gen Z menjadi suara yang berpengaruh dalam mempromosikan keberagaman.
- Konten Tik Tok
TikTok sendiri merupakan platform media sosial untuk berbagi video berdurasi pendek yang diluncurkan oleh sebuah perusahaan teknologi internet di Beijing pada 2012. Tik Tok menjadi aplikasi favorit Gen Z karena dengan penggunaan Tik Tok, Gen Z bisa membuat video yang kreatif dan inovatif. Mengutip dari laman Forbes, lebih dari 60% pengguna Tik Tok adalah Gen Z, hal ini terbukti dari demografi utama pengguna Tik Tok yang berusia 16-24 tahun.
Tik Tok yang digunakan Gen Z sebagai media penyampaian edukasi maupun argumentasi ini, dapat menjadi upaya mengubah cara pandang masyarakat terhadap media sosial yang selalu dianggap negatif. Jika ditanya, mengapa harus melalui TikTok ? Karena saat ini, TikTok dapat dipandang sebagai “Window on Event and Experience” yang artinya sebagai jendela atas peristiwa yang mampu memperluas pandangan masyarakat.
Melalui Tik Tok kita bisa menyebarkan pesan positif mengenai keberagaman Indonesia, pesan inklusi, mendorong penghargaan terhadap perbedaan, dan menghapus stereotip negatif. Selain itu, kita juga bisa mengadakan kampanye online untuk mendukung kesetaraan, keadilan sosial, dan hak asasi manusia. Dengan adanya konten kita dapat menciptakan kampanye-kampanye yang kreatif dan berdampak, dan menyuarakan pentingnya persatuan ditengah perbedaan.
Gen Z harus mampu membawa perubahan dalam mempromosikan keberagaman di Indonesia. Melalui kesadaran akan kebhinekaan, pendidikan inklusi, keterlibatan dalam aktivisme sosial dan organisasi, serta konten Tik Tok yang mengedukasi, dapat kita jadikan sebagai kontribusi kita dalam mempromosikan keberagaman. Dengan semangat untuk menjaga dan memajukan keberagaman, Gen Z telah menjadi pionir dalam membentuk masa depan Indonesia yang mampu bersatu ditengah perbedaan. (*)
