Mahasiswa Ilmu Komunikasi UMM-Situs Patirtaan Ngawonggo Gelar Srawung Suro, Refleksi Budaya Awal Tahun Jawa
TABLOIDMATAHATI.COM, MALANG– Khidmad dan khusyuk suasana di kawasan sakral Situs Patirtaan Ngawonggo, Kecamatan Tajinan, Kabupaten Malang, saat peringatan bulan Suro (28/6) 2025. Dijelaskan Project Manager Swargo, Mohammad Rizky, bahwa project ini melibatkan beberapa mahasiswa Prodi Ilmu Komunikasi UMM yakni Deswita Maharani, Afra Nur Afifa, Hafis Rahman, Manzila Nurul Istiqomah, Bara Aji Saputra, Hernando Yoga Pratama, dan Mahesa Bima Putra. Bahwa keterlibatan mahasiswa tidak berhenti di perayaan semata, tetapi juga menyentuh lapisan reflektif dan substansial dari budaya itu sendiri.
“Kami ingin menunjukkan bahwa keterlibatan anak muda dalam budaya itu tidak harus selalu dalam bentuk perayaan yang meriah. Melalui Srawung Suro, kami belajar bahwa budaya juga soal perenungan, makna, dan keberlanjutan. Ini adalah langkah kecil kami untuk menjaga agar tradisi tidak hanya dikenal, tapi juga dimaknai dan diteruskan,” ujar Rizky, mahasiswa semester enam Prodi Ilmu Komunikasi UMM ini.

Dijelaskan Rizky, kolaborasi ini membuktikan bahwa mahasiswa Komunikasi UMM mampu mengambil peran aktif dalam pelestarian budaya, tak hanya sebagai penyelenggara kegiatan, tetapi juga sebagai jembatan antar generasi. Melalui pendekatan kultural, mereka membantu menghidupkan kembali nilai-nilai lokal yang nyaris terlupakan.
Menarik pemaparan Rizky, mengungkapkan project Srawung Suro sebagai penanda bahwa pelestarian budaya bukan hanya tentang menghidupkan masa lalu, tetapi juga membawanya relevan dengan masa kini—melalui perenungan, kebersamaan, dan tindakan nyata dari generasi muda.

Kegiatan budaya bertajuk Srawung Suro merupakan hasil kolaborasi antara kelompok praktikum Public Relations 3 Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), yang tergabung dalam Arture, dengan pihak pengelola situs budaya Patirtaan Ngawonggo.
Mengusung semangat kebersamaan dan perenungan khas awal tahun Jawa, Srawung Suro menjadi lanjutan dari event budaya SWARGO yang sebelumnya sukses digelar di tempat yang sama (22/6) 2025. Jika SWARGO menyuguhkan nuansa kampung Jawa tempo dulu dalam suasana perayaan, maka Srawung Suro hadir sebagai ruang refleksi—tempat untuk meneng (diam), eling (mengingat), dan ngresiki ati lan pikiran (membersihkan hati dan pikiran).

Kata Rizky, keterlibatan warga RT setempat turut meramaikan acara dengan membawa encek, wadah makanan tradisional yang berisi lauk-pauk beragam. Acara dimulai dengan doa bersama secara adat dan secara Islam, kemudian dilanjutkan dengan momen saling bertukar encek. Tradisi ini diyakini sebagai bentuk syukur dan harapan atas limpahan berkah di tahun baru penanggalan Jawa.
Di tempat sama Kepala Pengelola Situs Patirtaan Ngawonggo, Cak Yasin, menjelaskan kegiatan suroan memang telah menjadi agenda tahunan di situs tersebut. Momen ini bukan sekadar rutinitas budaya, tetapi sarat nilai spiritual.
“Suroan di Patirtaan ini sudah berlangsung turun-temurun. Filosofinya sederhana tapi dalam: kembali suci, merenung, dan bersyukur karena bisa bertemu lagi di tahun baru. Bertukar encek itu bentuk syukur dan kebersamaan,” ucap Cak Yasin.

Salah satu yang menjadi ikon khas dalam acara ini adalah jenang suro, sajian tradisional yang hanya muncul saat bulan Suro. Jenang ini berbahan dasar beras dan polo pendem (umbi-umbian), dipadukan dengan topping seperti irisan telur, serundeng, cambah, teri, dan kacang mete. Filosofi dari makanan ini adalah simbol kesucian.
“Bahan-bahannya sederhana dan alami, tapi maknanya dalam. Jenang suro itu lambang kesucian, bahwa manusia harus kembali bersih lahir dan batin di awal tahun Jawa,” tambahnya.
Cak Yasin juga mengungkapkan bahwa bulan Suro dalam budaya Jawa memiliki posisi sakral. Karenanya, masyarakat cenderung menghindari kegiatan besar seperti pernikahan atau pembangunan rumah selama bulan ini. Tradisi tersebut menjadi cara untuk menghormati waktu sebagai ruang refleksi spiritual.
Yang membedakan Srawung Suro tahun ini adalah kehadiran para peserta dari event SWARGO, sebagai bentuk kesinambungan nilai dan semangat yang telah dibangun sebelumnya. Dengan keikutsertaan mereka, Srawung Suro tidak hanya menjadi acara warga lokal, tetapi juga media penguatan makna budaya yang telah dieksplorasi dalam event sebelumnya. (Wita)
