Solutif, PMM 7 UMM Ubah Sampah Plastik Menjadi Kursi Ecobrick
TABLOIDMATAHATI.COM, MALANG – Solutuif program kerja Pengabdian masyarakat oleh Mahasiswa (PMM) kelompok 7 gelombang 2 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini. Yakni mengubah sampah plastik menjadi ecobrick. Pengabdian Masyarakat oleh Mahasiswa (PMM) ini adalah untuk mengaplikasikan hilirisasi hasil penelitian Universitas Muhammadiyah Malang (UMM).
Adapun PMM kelompok 7 gelombang 2 UMM ini di bawah arahan Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) Rinaldy Achmad Roberth Fathoni, S. AB, MM, anggotanya atas nama Sandra Krisna Nugraha Putri, Amanda Wijayati, Vina Habibah Camellia, Natasya Setyaning Maharani, dan Desinta Ayu Ramandani.
Ecobrick adalah inovasi sederhana yang melibatkan pemadatan sampah plastik ke dalam botol plastik bekas hingga menjadi padat dan keras, kemudian dimanfaatkan sebagai bahan bangunan atau kerajinan tangan.

Proses pembuatan ecobrick mudah bisa dilakukan siapapun. Pertama mengumpulkan sampah plastik, seperti kantong kresek, kemasan makanan, dan botol plastik yang tidak terpakai. Lalu dibersihkan dan dikeringkan. Setelah itu dimasukkan ke dalam botol plastik bekas bertahap dan dipadatkan menggunakan alat seperti kayu atau besi kecil hingga botol tersebut menjadi padat dan keras.
Hasil akhirnya adalah ecobrick, bisa dimanfaatkan sebagai bahan dasar untuk berbagai produk kerajinan tangan yang memiliki nilai ekonomis. Salah satu contoh pemanfaatan ecobrick yang semakin diminati adalah sebagai tempat duduk atau kursi.
Proses pembuatan kursi ecobrick sederhana tidak memerlukan peralatan atau teknologi. Pertama, beberapa ecobrick disusun dan direkatkan menggunakan lem atau bahan perekat lainnya hingga membentuk struktur yang kokoh dan stabil. Umumnya ecobrick disusun secara vertikal atau horizontal untuk membentuk bagian dasar atau penopang kursi.
Setelah struktur dasar kursi terbentuk, bagian atasnya bagian atasnya dilapisi dengan bahan yang lebih nyaman seperti triplek. Triplek dipilih karena kekuatan, ringan, dan mudah dibentuk sesuai ukuran dan kebutuhan.
Alas triplek ini berfungsi sebagai penutup permukaan atas kursi yang memberikan kenyamanan saat digunakan. Triplek yang telah dipotong sesuai ukuran kemudian ditempelkan di atas susunan ecobrick dengan menggunakan lem kayu atau paku kecil agar tetap kokoh.

Setelah itu, alas triplek dapat dilapisi dengan busa atau kain pelapis untuk menambah kenyamanan dan estetika kursi. Dengan sentuhan kreativitas, kursi ecobrick ini dapat dihias dengan cat, motif, atau ornamen lainnya untuk meningkatkan nilai estetikanya.
Kerajinan tangan dari ecobrick seperti tempat duduk ini memiliki banyak keunggulan. Pertama, bahan bakunya mudah didapat dan murah, karena memanfaatkan sampah plastik. Kedua, pembuatan kursi ecobrick sangat ramah lingkungan karena mengurangi sampah plastik menumpuk di tempat pembuangan akhir. Ketiga, produk yang dihasilkan sangat fungsional dan tahan lama, mengingat ecobrick memiliki ketahanan yang kuat terhadap tekanan dan benturan.
Selain memberikan manfaat bagi lingkungan, pembuatan kursi dari ecobrick juga memiliki nilai ekonomi. Produk ini dapat dijual sebagai furniture alternatif yang ramah lingkungan. Ecobrick tidak hanya berkontribusi dalam pengelolaan sampah plastik, tetapi juga menciptakan peluang usaha baru bagi masyarakat, terutama bagi komunitas yang berada di daerah dengan tingkat sampah plastik yang tinggi.
Inisiatif ini juga berpotensi memberdayakan masyarakat dengan keterampilan baru dalam kerajinan tangan dan pengelolaan sampah. Penggunaan ecobrick yang dipadukan bahan seperti triplek untuk pembuatan kursi juga berfungsi sebagai alat edukasi. Program pelatihan yang mengajarkan cara membuat ecobrick dan kursi dari ecobrick dapat menjadi sarana untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya pengelolaan sampah dan pelestarian lingkungan.
Terlebih lagi, kursi ecobrick dapat digunakan di ruang publik, sekolah, atau taman, yang semakin memperkuat pesan tentang pentingnya daur ulang dan keberlanjutan.
Oleh karena itu, Mahasiswa Kelompok 7 Gelombang 2 PMM Universitas Muhammadiyah Malang mengelola sampah plastik menjadi produk yang bermanfaat. Pembuatan kursi dari ecobrick dengan alas triplek adalah salah satu contoh nyata bagaimana limbah plastik dapat diolah menjadi kerajinan tangan yang tidak hanya berfungsi sebagai furnitur, tetapi juga sebagai simbol gerakan keberlanjutan dan pengelolaan sampah yang bertanggung jawab.
Inisiatif ini menunjukkan bahwa dengan kreativitas dan kolaborasi, sampah plastik yang sebelumnya dianggap sebagai masalah besar dapat diubah menjadi solusi yang mendukung lingkungan, ekonomi, dan kesejahteraan masyarakat. (penulis: pmm 7 gelombang 2 umm)
