Seminar Nasional, PGSD UMM Bahas Inovasi Pembelajaran Literasi Numerasi Berbasis Teknologi Bagi Siswa SD
TABLOIDMATAHATI.COM, MALANG – Program studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (Prodi PGSD) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melalui seminar nasional (8/1) 2026 di GKB IV membahas tema Inovasi Pembelajaran Literasi Numerasi Berbasis Teknologi Untuk Siswa Sekolah Dasar. Menurut Ketua Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UMM, Dr. Enik Chairul Umah, M.Pd, seminar nasional ini diharapkan menjadi Penguatan Literasi dan Numerasi di Sekolah Dasar. Hal ini selaras dengan judul materi yang disampaikan sebagai opening seminar.
Menurut Enik Chairul Umah, bahwa literasi adalah keterampilan mental berpikir peserta didik dalam memaknai informasi, yang mempengaruhi tidak hanya pengetahuan, melainkan sikap dan pengambilan keputusan. Tidak hanya itu literasi juga adalah kemampuan untuk mengidentifikasi, memahami, menafsirkan, membuat, menghitung, dan berkomunikasi menggunakan materi visual, audio, dan digital lintas disiplin ilmu dan dalam konteks apa pun.

Nah, terkait penguatan literasi dalam pembelajaran dan asesmen, Enik Chairul Umah menegaskan bahwa para guru atau pendidik menyiapkan buku bacaan yang bermutu untuk peserta didik, seperti buku yang memiliki daya pikat visual dan daya pikat cerita, memiliki tema dan materi yang diminati oleh peserta didik, kesesuaian dengan kemampuan membaca peserta didik, muatan budaya yang mewakili peserta didik atau budaya lain yang meluaskan wawasan pengetahuan peserta didik, serta pemantik kegembiraan bagi anak dekat dengan kehidupan anak, melibatkan dan menginspirasi peserta didik.
Di tempat sama, Ketua Prodi PGSD UMM, Dr. Beti Istanti Suwandayani, M.Pd, mengupas materi tentang Numerasi Itu Seru! Mengajar Matematika SD Dengan Pembelajaran Kontekstual. Bahwa numerasi adalah kemampuan yang dimiliki oleh seseorang dalam menggunakan pengetahuan matematika yang dimilikinya dalam menjelaskan kejadian, memecahkan masalah, atau mengambil keputusan dalam kehidupan sehari-hari.
Numerasi tidak hanya berhitung tetapi memahami angka dalam kehidupan, bernalar dan mengambil keputusan, dan menyelesaikan masalah sehari hari. Numerasi juga menekankan penggunaan pengetahuan matematika secara kontekstual, kritis, dan fungsional dalam kehidupan sehari-hari.

Itu sebabnya perlu diketahui tentang kompetensi numerasi yaitu knowing (pemahaman), applaying (penerapan), dan reasoning (penalaran). Terlebih lagi bagi mahasiswa PGSD untuk bermain operasi bilangan yang dilakukan dengan berdiri di atas ubin dan menghitung sesuai dengan peraturan operasi bilangan. Permainan tersebut bertujuan meningkatkan konsentrasi dan kemampuan berhitung.
Selain itu, Beti Istanti Suwandayani meberikan contoh numerasi lintas mata pelajaran seperti literasi yang memiliki unsur numerasi bilangan, pendidkan IPA unsur numerasi pengukuran (berat), Pendidikan IPS unsur numerasi pengukuran (waktu), seni music unsur numerasi (bilangan dan pola), Pendidikan jasmani unsur numerasi (geometri), dan seni budaya unsur numerasi pengukuran dan geometri.
Berikutnya, Prof. Dr. Moh. Mahfud Effendi, MM, sebagai pemateri ketiga mengupas tentang Inovasi Pengembangan Kurikulum Literasi dan Numerasi Berbasis Teknologi di Sekolah Dasar: Aspek Humanis dan Integratif. Pengembangan kurikulum literasi dan numerasi yang memanfaatkan teknologi di Sekolah Dasar saat ini menjadi kebutuhan mendesak, mengingat kemajuan teknologi dan tuntutan kompetensi abad ke‑21.
Kurikulum Merdeka memberi kebebasan kepada guru untuk menyusun pembelajaran yang kontekstual, tematik, dan dapat disesuaikan dengan kebutuhan siswa. Teknologi tidak hanya dijadikan alat bantu, melainkan menjadi bagian integral dari pengalaman belajar yang bermakna melalui media interaktif, aplikasi edukatif, dan sistem pembelajaran adaptif. Meskipun begitu, implementasinya masih terhambat oleh faktor seperti kesiapan guru, keterbatasan infrastruktur, dan kurangnya sumber daya pendukung.
Oleh karena itu, tandas Prof. Mahfud Effendi, diperlukan indikator kompetensi yang jelas serta kerja sama berkelanjutan antara sekolah, guru, orang tua, dan pemangku kepentingan lainnya agar kemampuan literasi dan numerasi siswa dapat berkembang secara optimal.

Inilah perlunya pendekatan humanis menjadi landasan yang penting dalam pengembangan kurikulum dengan menempatkan siswa sebagai pusat pembelajaran yang memiliki karakteristik dan kebutuhan berbeda. Kurikulum yang humanis mendorong pembelajaran yang memperhatikan aspek emosional, fleksibel, dan adaptif, serta menumbuhkan budaya literasi dan numerasi di lingkungan sekolah maupun luar sekolah. Kemudian integrasi pembelajaran dilakukan melalui rancangan pembelajaran tematik terpadu, penilaian autentik berbasis teknologi, dan kolaborasi interdisipliner.
Hal ini dilengkapi dukungan kebijakan, peningkatan profesionalisme guru, penyediaan infrastruktur, serta keterlibatan orang tua dan komunitas, pengembangan kurikulum ini mampu meningkatkan kualitas pendidikan dasar dan mempersiapkan siswa menjadi generasi yang kompeten, mandiri, dan berkarakter.
Sekedar diketahui, seminar nasional ini di-ikuti mahasiswa PGSD UMM. Tampil sebagai opening tarian tradisional oleh mahasiswa UKM Sansekerta PGSD UMM. Usai sesi pemaparan materi oleh para nara sumber peserta antusias bertanya tentang implementasi numerasi dan literasi. (tim pgsd umm/don)
