Muhammadiyah Sleman Expo, Kokohkan Peran Persyarikatan Bangkitkan UMKM- Ekosistem Halal
TABLOIDMATAHATI.COM, SLEMAN– Muhammadiyah terus membuktikan komitmennya dalam memperkuat pilar ekonomi umat. Komitmen ini tercermin secara nyata dalam rangkaian kegiatan Muhammadiyah Sleman Expo (MSE) #1 yang berlangsung pada 9–11 Januari 2026. Salah satu agenda utama yang menarik perhatian publik adalah diskusi panel bertajuk “Peran Muhammadiyah dalam Pembangunan UMKM dan Produk Halal”.
Kegiatan yang digelar di tengah dinamika ekonomi nasional ini menegaskan bahwa Muhammadiyah tidak hanya bergerak di bidang dakwah sosioreligius, tetapi juga menjadi motor penggerak pemberdayaan ekonomi kerakyatan.
Dalam sesi talkshow yang dipandu oleh moderator Ngudah Khusnul Hayati dari Pimpinan Cabang Aisyiyah (PCA) Sleman, narasumber H. Tetra Budiarto, S.H., M.M., menekankan bahwa kekuatan UMKM Muhammadiyah terletak pada landasan nilainya.
Menurut Tetra, Muhammadiyah mendorong tumbuhnya unit usaha yang memegang teguh prinsip kejujuran, amanah, dan tanggung jawab sosial. “Nilai-nilai keislaman ini bukan sekadar label, melainkan pondasi agar usaha masyarakat bersifat berkelanjutan dan memiliki tingkat kepercayaan yang tinggi di mata konsumen,” ujarnya.
Sektor produk halal menjadi sorotan tajam dalam diskusi ini. Drs. Sutarman, M.A. dan H. Kurnia Widia Mulia, S.I.Kom., M.Sc., selaku pakar di bidang sertifikasi halal, menjelaskan bahwa Muhammadiyah kini lebih proaktif dalam mendampingi pelaku usaha menghadapi regulasi wajib halal.
Muhammadiyah melampaui sekadar aspek hukum agama dengan menekankan prinsip Halalan Thayyiban. Artinya, produk yang dihasilkan UMKM binaan harus memenuhi standar kualitas, kebersihan, dan keamanan pangan yang ketat.
“Kami melakukan pendampingan end-to-end, mulai dari perbaikan manajemen usaha, pencatatan keuangan yang tertib, hingga pengurusan izin edar dan sertifikasi halal. Tujuannya jelas: agar UMKM lokal bisa ‘naik kelas’ dan menembus pasar internasional,” papar Kurnia Widia Mulia.
Peran strategis lainnya yang terungkap dalam Expo ini adalah integrasi pendidikan kewirausahaan. Melalui jaringan sekolah dan perguruan tinggi Muhammadiyah, organisasi ini menyemai jiwa entrepreneurship sejak dini untuk menciptakan inovasi produk yang siap bersaing.
Tak berhenti pada edukasi, Muhammadiyah juga menyediakan solusi konkrit pada hambatan klasik UMKM: Permodalan. Melalui Baitut Tamwil Muhammadiyah (BTM) dan koperasi syariah, pelaku usaha diberikan akses pembiayaan yang adil dan terhindar dari praktik ribawi. Hal ini menciptakan ekosistem ekonomi syariah yang sehat dan mandiri di wilayah Sleman dan sekitarnya.
Sebagai organisasi dengan jejaring yang luas, Muhammadiyah memposisikan diri sebagai jembatan (hub) antara pelaku UMKM dengan pemerintah serta sektor swasta. Expo ini menjadi bukti bagaimana kolaborasi lintas sektor dapat mempercepat pertumbuhan industri halal di Indonesia.
Acara yang berlangsung selama tiga hari ini tidak hanya menjadi ajang pameran produk, tetapi juga ruang edukasi kolektif. Melalui dialog yang intensif, diharapkan tantangan yang dihadapi UMKM—seperti digitalisasi pemasaran dan standardisasi produk—dapat segera teratasi melalui skema pendampingan yang berkelanjutan oleh Muhammadiyah.
MSE #1 menjadi sinyal kuat bahwa kemandirian ekonomi umat bukan sekadar impian, melainkan agenda nyata yang sedang dikerjakan dengan penuh kesungguhan. (arief hartanto/mpi pdm sleman)
