Merayakan Ilmu Pengetahuan
Penulis: Raditya Weka Nugraheni, Dosen Program Studi Farmasi, Universitas Muhammadiyah Malang. Saat ini sedang menempuh studi di School of Pharmacy, Post-Graduate Research, Queen’s University Belfast, United Kingdom.
TABLOIDMATAHATI.COM, MALANG-Sebuah keluarga yang terdiri dari ayah, ibu, dan dua anaknya yang berusia 8-10 tahunan memasuki ruang seminar di Ulster Museum. Mereka memilih untuk duduk di deret kedua dari depan. Segera setelah duduk, salah satu anak membuka sebuah buku yang cukup tebal, novel klasik Moby-Dick; or, The Whale karya Herman Melville. Jujur, saya merasa kagum karena yang sering saya lihat, anak seusia itu lebih antusias bermain game dengan gawai pintarnya.
Sepuluh menit berselang, Profesor Ben Garrod, seorang ahli biologi evolusi dari University of East Anglia memasuki ruangan. Beliau tampil casual dengan T-shirt dan celana jeans. Topik yang akan dibawakannya adalah kepunahan massal yang pernah terjadi di muka bumi, termasuk punahnya dinosaurus. Materi yang cukup berat itu dibawakan dengan sangat menyenangkan, interaktif dan penuh gelak tawa. Beliau mengajak peserta untuk turut berpartisipasi menjawab pertanyaan yang dilemparkan, misalnya pertanyaan tentang nama spesies burung dan reptil yang telah punah. Lagi-lagi saya dibuat kagum, anak-anak kecil itu dengan sangat percaya diri mengacungkan tangan dan menjawab pertanyaan dengan benar. Hebat!
Di akhir pemaparannya, Profesor Ben mengatakan bahwa kepunahan di zaman ini adalah hal yang bisa dicegah karena penyebabnya adalah manusia. Beliau mengajak anak-anak untuk turut berkontribusi dengan menjadi ilmuwan dan tidak merasa berkecil hati bila ada orang lain yang meremehkan,”Do not let others decide what you want to be. Jangan biarkan orang lain memutuskan cita-citamu.”
Kegiatan seminar ini merupakan bagian dari Northern Ireland Science Festival (NISF) 2023 yang sudah memasuki tahun penyelenggaraan kesepuluh. Selain seminar singkat semacam ini, diselenggarakan pula berbagai workshop, pameran, serta aktivitas untuk semua target usia. Tidak hanya guru dan siswa yang turut serta, tetapi seluruh keluarga juga ikut meramaikannya. Apakah hanya anak-anak saja yang menikmatinya? Ternyata tidak. Saya sempat mengobrol pula dengan seorang peserta wanita yang sudah cukup lanjut usia, dia berkata bahwa puluhan tahun lalu ia adalah siswa sekolah sains, dan sekarang rasa ingin tahu membuatnya tertarik ikut dalam kelas yang membahas tentang sistem tata surya.
Ada sesuatu yang unik di sini. Pengetahuan dirayakan dengan kegembiraan. Keingintahuan tak dibiarkan mati dan terkubur dalam diam. Pengetahuan dirayakan dengan keberanian, berani bertanya dan menjawab tanpa khawatir akan jadi bahan cemoohan. Pengetahuan dirayakan tanpa mengenal batasan usia. Tidak ada yang melarang seseorang belajar sesuatu yang baru hanya karena merasa terlalu tua. Pengetahuan dirayakan dengan dukungan. Keluarga mendukung, dunia akademik mendukung, pemerintah mendukung, dan semua sepakat bahwa pengetahuan adalah kebutuhan.
Bila Anda pernah membaca puisi karya Taufiq Ismail yang berjudul,”Kupu-Kupu di dalam Buku”, kurang lebih seperti itulah pemandangan yang terpampang di hadapan saya. Semoga suatu saat negeri yang dirujuk dalam puisi itu adalah negeri kita.
“Ketika singgah di sebuah rumah,
kulihat ada anak kecil bertanya pada mamanya,
dan mamanya tak bisa menjawab keinginan-tahu puterinya,
kemudian katanya,
“tunggu, tunggu, mama buka ensiklopedia dulu,
yang tahu tentang kupu-kupu,”
dan aku bertanya di rumah negeri mana gerangan aku sekarang,”
(Kupu-kupu di Dalam Buku: Taufiq Ismail, 1996)
