Lazismu Metro-Pondok Wirausaha Payungi Pelatihan Urban Farming
TABLOIDMATAHATI.COM, METRO-Guna memperkuat kemandirian ekonomi berbasis komunitas, Lazismu Kota Metro berkolaborasi dengan Pesantren Wirausaha Payungi menggelar Pelatihan Penggerak Ruang Kreatif dan Urban Farming. Kegiatan ini berlangsung dan dipusatkan di kawasan Pesantren Wirausaha Payungi, Kota Metro. selama dua hari, Sabtu-Ahad 27–28 Desember 2025.
Hal ini di ungkapkan H.Bekti Satriadi, selaku ketua LazisMu Kota Metro, bahwa pelatihan tersebut dirancang untuk melahirkan agen perubahan yang mampu mengintegrasikan pertanian perkotaan, seni kriya, serta nilai-nilai spiritual dalam membangun lingkungan yang berdaya dan berkelanjutan.
Ia menegaskan pentingnya regenerasi penggerak di tingkat lokal.
“Pelatihan ini merupakan langkah konkret untuk mendorong tumbuhnya penggerak-penggerak baru di Kota Metro yang memiliki kepedulian terhadap kemandirian ekonomi dan kelestarian lingkungan,” ujar Bekti.
Akademisi Universitas Muhammadiyah Metro. Dr. Agus Sutanto , mengisi pelatihan dengan tema Teknologi Urban Farming,
Ia memaparkan dan memperkenalkan penggunaan Pumakkal, pupuk organik cair sebagai solusi pertanian ramah lingkungan di lahan terbatas.
“Kita harus menghidupkan urban farming mulai dari rumah tangga masing-masing, salah satu kunci utamanya adalah mendorong agar sampah dapat diolah menjadi sesuatu yang bermanfaat,” jelas Agus.
Ia juga menegaskan kesiapan timnya untuk berkolaborasi dengan berbagai komunitas dalam memasyarakatkan penggunaan pupuk organik tersebut.
Selain aspek pangan, peserta juga dibekali materi kreativitas oleh Baskoro Wicaksono dari Ruang Keramik. Ia menekankan pentingnya ruang eksperimen bagi masyarakat dalam mengembangkan potensi seni dan kriya (Kata lain dari Kerajinan.Red).
“Studio keramik menjadi ruang eksperimen untuk melahirkan karya yang orisinil dan selaras dengan nilai-nilai yang kita yakini. Kehadiran studio komunitas sangat penting dalam membangun pengetahuan kolektif,” ungkap Baskoro.
Materi estetika ruang kemudian diperdalam oleh Melpa, yang memaparkan konsep ruang publik ramah edukasi. Sementara itu, Dr.Dharma Setyawan, Founder Payungi, memberikan penguatan visi tentang ideologi penggerak ekonomi berbasis komunitas.
Menariknya, pelatihan ini tidak hanya berfokus pada penguatan keterampilan teknis (hard skill). Pada Sabtu malam, peserta mengikuti sesi kontemplasi bertajuk “Sungai Kehidupan” sebagai upaya membangun ketahanan mental.
Hari kedua dimulai sejak dini hari dengan sholat tahajud dan muhasabah untuk memperkuat fondasi spiritual dalam berwirausaha. Kegiatan ditutup pada Ahad sore dengan penyusunan Rencana Tindak Lanjut (RTL).
Pantauan media terlihat para peserta berkomitmen mengimplementasikan ilmu yang diperoleh, baik melalui pengelolaan sampah mandiri, pengembangan taman edukasi, maupun aktivasi ruang kreatif di lingkungan masing-masing. (ds/aw/tri priyo saputro/rilis grup media afiliasimu)
