Kolaborasi Tim PMM UMM-PMM Mitra Dosen, Upaya Meningkatkan Konsumsi Susu di SDN Merjosari 5 Kota Malang
TABLOIDMATAHATI.COM, MALANG – Susu merupakan pangan hewani asal ternak, selain daging dan telur yang kaya sumber zat gizi baik dalam bentuk makro maupun mikro. Kandungan zat gizi makro pada susu meliputi lemak dan protein. Sementara itu, kandungan zat gizi mikro pada susumeliputi berbagai unsur mineral dan vitamin seperti zat besi, seng, vitamin B kompleks, vitamin A, kalsium, dan fosfor. Keseluruhan kandungan zat gizi pada susu diperlukan oleh tubuh untuk melakukan proses metabolisme dalam rangka mencapai keseimbangan (homeostasis) tubuh.

Selain kaya akan kandungan zat gizi makro dan mikro, susu juga merupakan sumber protein dengan mutu yang sangat tinggi. Kadar protein susu sapi sekitar 3,5 %. Protein susu pada umumnya dapat dibagi menjadi dua golongan, yaitu kasein dan protein whey. Kasein merupkan komponen protein yang terbesar dalam susu mencapai 80 % dan sisanya berupa protein whey. Selain itu, pada susu sapi juga terkandung unsur gizi yang mampu menjaga kestabilan kualitas dan berat tubuh manusia. Jenis susu bervariasi yaitu susu bubuk, susu cair, Susu Kental Manis (SKM) dan susu segar.
Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2021 melaporkan tingkat konsumsi susu per kapita masyarakat Indonesia di tahun 2020 adalah sebesar 16,27 kg/kapita/tahun, namun angka tersebut masih dibawah negara-negara Kawasan. Malaysia misalnya mecatatkan konsumsi susu masyarakatnya sebesar 26,2 kg/kapita/tahun. Myanmar mengonsumsi susu sebanyak 26,7 kg/kapita/tahun dan Thailand yang juga mencapai 22,2 kg/kapita/tahun.

Penyebab rendahnya konsumsi susu masyarakat Indonesia yaitu masih menganggap bahwa harga susu sendiri itu mahal dikarenakan rendahnya populasi sapi perah di Indonesia sehingga mengharuskan pemerintah untuk ekspor susu dari luar negeri. Penyebab lainnya adalah faktor biologis, yaitu intoleransi laktosa atau kondisi seseorang tidak mampu mencerna laktosa atau gula dalam susu sepenuhnya dikarenakan kekurangan enzim lactase yang terdapat di dalam saluran pencernaan. Intoleran laktosa sendiri seringkali diturunkan dalam keluarga (keturunan) baik dari ibu atau ayahnya.
Namun pada kondisi tersebut dapat diatasi dengan mencari susu yang rendah laktosa atau ada juga yang bebas laktosa. Tidak ada alas an untuk tidak meminum susu sebenarnya, apabila masyarakat sadar akan pentingnya meminum susu masyarakat Indonesia sendiri tidak akan banyak yang terkena stunting.

PMM (Pengabdian Masyarakat oleh Mahasiswa) sendiri merupakan kegiatan pendampingan dan pelayanan mahasiswa untuk pengembangan dan pemberdayaan masyarakat dalam menerapkan aplikasi, desain, teknologi atau perubahan sosial ke arah yang lebih baik yang dinaungi oleh Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kegiatan Pengabdian Masyarakat oleh Mahasiswa (PMM) ini adalah untuk mengaplikasikan hilirisasi hasil penelitian Universitas Muhammadiyah Malang.
Program pemberian susu gratis pada siswa kelas 4 di SDN Merjosari 5 oleh PMM Mitra Dosen 125 yang didampingi oleh Ibu Yohana Puspitasari Wardoyo, M.H disambut antusias warga sekolah. Dalam kegiatan ini, tidak hanya dilakukan pemberian susu gratis namun siswa-siswinya dapat mengetahui proses pengolahan susu segar yang baik dan benar.

Pengolahan susu segar dengan suhu tinggi ada dua yaitu diantaranya pasteurisasi dan serilisasi. Pengolahan pasteurisasi dengan tujuan membunuh bakteri pathogen dengan suhu 0-60℃, sedangkan pengolahan sterilisasi memiliki pengertian pengawetan dengan suhu tinggi yang membunuh mikroorganisme dan sporanya yang suhunya mencapai 135℃.
Pengolahan susu yang dilakukan oleh PMM Mitra Dosen 125 sendiri dengan cara rumahan dengan peralatan rumahan sehingga siswa-siswi mengetahui prosesnya juga diberi pengetahuan bahwa susu segar sebaiknya tidak dikonsumsi secara langsung diperlukan adanya pengolahan untuk membunuh bakteri yang menyebabkan diare. Utamanya pada pengolahan susu yaitu mencapai suhu yang ditentukan dengan waktu yang ditentukan pula. (rilis: tim pmm mitra dosen 125 umm)
