Karya Lampion Limbah Plastik PMM 39 UMM Hiasi Kampung Ledoksari Dampit
TABLOIDMATAHATI.COM, MALANG – Pada Kamis, 1 Agustus 2024, Kampung Ledoksari Kelurahan Dampit, Kecamatan Dampit, Kabupaten Malang, indah karena betebaran lampion dari bahan plastik bekas. Lampion tersebut adalah karya Pengabdian Masyarakat oleh Mahasiswa (PMM) kelompok 39 Gelombang 06 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM).
PMM kelompok 39 Gelombang 06 UMM, di bawah arahan Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) Uun Zulfiana, M.Psi, sedangkan mahasiswa tim PMM atas nama Nimas Noveria Prastita (202210430311076), Aditya Candra Nugraha (202210430311060), Khusnul Khotimah (202210430311067), Mariska Alfiaturrahma (202210430311068), dan Amru Auzia Yenisma Kristanto (202210430311077). Pengabdian Masyarakat oleh Mahasiswa (PMM) ini adalah untuk mengaplikasikan hilirisasi hasil penelitian Universitas Muhammadiyah Malang (UMM).

PMM 39 gelombamg UMM mengusung tema mendaur ulang sampah plastik menjadi barang bernilai guna, dalam rangka menyambut HUT RI ke-79. Saat mendaur ulang sampah plastik mahasiswa UMM bersama ibu-ibu warga setempat mengubah botol plastik bekas menjadi lampion.
Botol plastik ukuran 1,5 liter, diubah menjadi lampion-lampion warna-warni. Proses pembuatan dimulai dengan memotong botol plastik menjadi beberapa bagian. Botol-botol tersebut kemudian dicat dengan marna merah putih yang melambangkan semangat kemerdekaan.
Selain itu, bagian bawah botol yang telah dipotong diberi sentuhan kreatif dengan menambahkan gelas plastik bekas dan potongan rumbai-rumbai dari bahan bekas lainnya. Hasilnya, lampion-lampion tersebut tidak hanya menjadi hiasan yang menarik tetapi juga mencerminkan semangat gotong royong dan kepedulian terhadap lingkungan.

Aditya Candra Nugraha, salah satu mahasiswa yang terlibat dalam kegiatan ini, menyatakan, “Kami sangat antusias dengan program kegiatan ini. Selain sebagai bentuk implementasi hilirisasi hasil penelitian kami, kegiatan ini juga sebagai sarana untuk mendekatkan diri dengan masyarakat. Lampion-lampion yang kami buat bukan hanya akan menghias kampung, tetapi juga menyebarkan pesan tentang pentingnya daur ulang dan pengelolaan sampah.”
Selama kegiatan, dari pukul 18.00 hingga 20.00 WIB, mahasiswa bersama warga bekerja dengan penuh semangat. Khusnul Khotimah, mahasiswa lainnya menambahkan, “Kegiatan ini memberikan kami kesempatan untuk belajar dan berkontribusi langsung dalam masyarakat. Melalui kegiatan ini, kami berharap bisa menginspirasi orang lain untuk memanfaatkan barang bekas secara kreatif.”
Keberhasilan program kegiatan ini juga didorong oleh antusiasme dan dukungan warga setempat yang aktif berpartisipasi dalam proses pembuatan lampion. Partisipasi masyarakat tidak hanya mempercepat proses, tetapi juga memperkuat ikatan sosial di antara warga Kampung Ledoksari. Kegiatan ini menjadi platform bagi warga untuk belajar bersama, saling bertukar ide, dan menciptakan sesuatu yang bermanfaat dari barang-barang yang biasanya dianggap tidak berguna.

Dalam rangka memperingati 17 Agustus, lampion-lampion hasil karya mahasiswa UMM akan menghiasi Kampung Ledoksari, menambah semarak suasana perayaan. Dengan lampion-lampion yang berwarna-warni dan penuh kreativitas ini, suasana kampung akan semakin meriah, menciptakan atmosfer yang istimewa untuk merayakan Hari Kemerdekaan. Kegiatan ini tidak hanya memberikan keindahan visual tetapi juga memperkuat semangat kebersamaan dalam perayaan kemerdekaan. Ibu Yeni, sebagai Ibu RT 04 Kampung Ledoksari mengatakan “Kedatangan mahasiswa UMM disini sangat membantu kami dengan ide kreatif mereka yang membuat lampion dari barang bekas untuk menghiasi kampung kami dalam rangka kemerdekaan Indonesia”.
Lebih dari sekadar dekorasi, inisiatif ini diharapkan dapat membangun kesadaran tentang keberlanjutan dan pengelolaan sampah di kalangan masyarakat. Dengan melibatkan warga dalam proses daur ulang, kegiatan ini menunjukkan bagaimana kolaborasi antara pendidikan tinggi dan komunitas dapat menghasilkan dampak positif yang berkelanjutan. Hal ini juga menjadi contoh nyata bagaimana inovasi dalam pengelolaan sampah dapat menyentuh kehidupan sehari-hari dan menginspirasi perubahan yang lebih besar di masyarakat. (penulis/foto: pmm kelompok 39 gelombang umm/editor: hamara)
