Inovatif, KKN 171 Berdampak UMM Ubah Sumur Terbengkalai Jadi Sumber Air Siap Minum
MALANG – Krisis air bersih masih menjadi persoalan yang dihadapi sejumlah wilayah di Kabupaten Malang, terutama saat musim kemarau. Menjawab tantangan tersebut, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Berdampak Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Kelompok 171 menghadirkan inovasi teknologi tepat guna dengan mengubah sumur yang selama bertahun-tahun terbengkalai menjadi sumber air siap minum bagi masyarakat Dusun Majapurna, Desa Sumberagung, Kecamatan Sumbermanjing Wetan, Kabupaten Malang.
Inovasi ini menjadi bukti nyata implementasi tridarma perguruan tinggi yang berdampak langsung bagi masyarakat. Sejalan dengan komitmen UMM sebagai UNESCO Chair on Sustainable Water Ecosystem, program tersebut tidak hanya menyediakan akses air bersih, tetapi juga memperkuat upaya pengelolaan sumber daya air yang berkelanjutan melalui kolaborasi antara perguruan tinggi dan masyarakat.
Fasilitas penyedia air siap minum tersebut diwujudkan melalui pemasangan instalasi penyaring air berteknologi multi-stage filtration yang dikembangkan sebagai solusi atas keterbatasan akses air layak konsumsi di wilayah tersebut. Program berada di bawah pendampingan Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) Rindya Fery Indrawan, S.Pi., M.P., sementara secara kelembagaan bantuan alat diserahkan oleh Ir. Iis Siti Aisyah, ST., MT. PhD. IPM Selaku Sekretaris Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UMM kepada Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Sumbermanjing Wetan sebagai mitra pengelola.
Teknologi yang diterapkan memanfaatkan sumber air dari sumur yang sebelumnya tidak lagi dimanfaatkan masyarakat. Air dipompa menuju sistem penyaringan yang terdiri atas empat tahapan filtrasi untuk menghilangkan lumpur, partikel halus, bau, serta kontaminan lainnya. Pada tahap akhir, air disterilkan menggunakan teknologi Ultraviolet (UV Sterilizer) sehingga aman dikonsumsi secara langsung tanpa harus dimasak kembali.
Inovasi tersebut sejalan dengan agenda pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya Tujuan 6 (Clean Water and Sanitation) yang menekankan pentingnya akses terhadap air bersih dan sanitasi yang aman bagi seluruh masyarakat. Menurut UNICEF dan WHO, jutaan masyarakat di berbagai belahan dunia masih mengalami keterbatasan akses terhadap air minum yang layak, sehingga inovasi berbasis masyarakat menjadi salah satu strategi penting dalam meningkatkan kualitas hidup.
Dosen Pembimbing Lapangan KKN Berdampak UMM, Rindya Fery Indrawan, S.Pi., M.P., menjelaskan bahwa program tersebut dirancang tidak hanya untuk menyelesaikan persoalan air bersih, tetapi juga membangun kemandirian masyarakat dalam mengelola sumber daya air secara berkelanjutan.
“Program ini kami rancang agar memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat. Sebagai perguruan tinggi yang mengemban amanah UNESCO Chair on Sustainable Water Ecosystem, UMM memiliki tanggung jawab untuk menghadirkan inovasi yang mendukung pengelolaan air secara berkelanjutan. Mahasiswa kami tidak hanya belajar menyelesaikan persoalan melalui pendekatan akademik, tetapi juga menghadirkan solusi yang dapat langsung dirasakan masyarakat. Harapannya, fasilitas ini mampu meningkatkan kualitas kesehatan, mengurangi beban ekonomi warga, sekaligus menjadi contoh bagaimana teknologi tepat guna dapat diterapkan di desa,” jelas Indra yang merupakan Dosen Perikanan UMM.
Sementara itu, salah satu penerima manfaat, Pak Holi, mengaku kehadiran instalasi air siap minum tersebut membawa perubahan besar bagi kehidupan masyarakat Dusun Majapurna.
“Dulu sumur ini tidak digunakan karena airnya dianggap kurang layak untuk diminum. Sekarang, berkat bantuan mahasiswa UMM, airnya sudah bisa langsung dikonsumsi. Kami sangat terbantu karena tidak perlu lagi membeli air minum atau mengambil air dari tempat yang jauh. Semoga fasilitas ini bisa terus dimanfaatkan dan dirawat bersama oleh warga,” tuturnya.
Program ini juga mendapat sambutan positif dari masyarakat karena tidak hanya menyediakan fasilitas, tetapi juga disertai edukasi mengenai pentingnya menjaga kualitas sumber air, perawatan instalasi penyaring, serta pengelolaan air bersih secara berkelanjutan. Pendekatan tersebut diharapkan mampu menumbuhkan rasa memiliki sehingga keberlangsungan program tetap terjaga meskipun kegiatan KKN telah berakhir.
Melalui inovasi ini, KKN Berdampak UMM kembali menunjukkan bahwa kehadiran mahasiswa di tengah masyarakat bukan sekadar menjalankan program pengabdian, tetapi menjadi bagian dari upaya menciptakan solusi atas persoalan nyata yang dihadapi masyarakat. Dari sebuah sumur yang dahulu terbengkalai, kini mengalir air siap minum yang menjadi simbol harapan baru bagi warga Majapurna.
Program tersebut sekaligus mempertegas komitmen Universitas Muhammadiyah Malang sebagai Kampus Berdampak yang tidak hanya unggul dalam pendidikan dan penelitian, tetapi juga aktif menghadirkan inovasi untuk mendukung pembangunan berkelanjutan. Melalui perannya sebagai UNESCO Chair on Sustainable Water Ecosystem, UMM terus mendorong lahirnya berbagai solusi berbasis ilmu pengetahuan dalam mewujudkan ketahanan air, pelestarian ekosistem, dan peningkatan kualitas hidup masyarakat. (reporter: Nabil/Kelompok 171 KKN Berdampak UMM Harjokuncaran)
