Gadis Ceria Hadirkan Pembelajaran Pendidikan Pancasila Interaktif di SMKN 3 Batu
BATU – Inovasi menarik datang dari tim peneliti dosen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Dijelaskan Dr. Erna Yayuk, S.Pd, M.Pd, inovasi dimaksud tentang Pembelajaran Pendidikan Pancasila di SMK bernama Gadis Ceria pada siswa kelas X SMK Negeri 3 Kota Batu.

Selain dirinya, Erna Yayuk menyebutkan tim peneliti juga beranggotakan Prof. Dr. Prof. Lud Waluyo, M.Kes, dan Sutrisno, S.Pd. Bahwa inovasi Gadis Ceria merupakan singkatan dari Gambar, Diskusi, Cerita, dan Pemanfaatan Media. Tujuan inovasi ini menghadirkan pengalaman belajar kontekstual serta mendorong siswa aktif berpendapat, berdiskusi, solutif, dan menghubungkan materi dengan kehidupan sehari-hari.
Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan melibatkan satu guru Pendidikan Pancasila dan 30 siswa kelas X. Data diperoleh melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi, lalu dianalisis melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Keabsahan data diperiksa melalui triangulasi sumber dan teknik.
Implemetasinya, lanjut Erna Yayuk, guru menggunakan gambar fenomena kehidupan sosial dan nilai-nilai Pancasila untuk stimulus membangun perhatian dan rasa ingin tahu siswa. Gambar tersebut sebagai materi diskusi kelompok yang interaktif. Sebab siswa mengamati, menganalisis permasalahan, menyampaikan pendapat, mencari solusi, dan mempresentasikan hasil diskusi. Sedangkan dokumentasi menunjukkan aktivitas berdiskusi dan mempresentasikan hasil diskusi.

Melalui cerita siswa mengetahui antara materi pendidikan Pancasila dengan pengalaman nyata siswa. Sehingga siswa memahami nilai-nilai Pancasila dapat ditemukan dan diterapkan dalam kehidupan di sekolah, keluarga, masyarakat, maupun lingkungan kerja.
Sementara itu, pemanfaatan teknologi digital dilakukan melalui WhatsApp, Google Form, dan YouTube. Media tersebut digunakan untuk mendukung komunikasi, penyampaian materi, aktivitas pembelajaran, hingga evaluasi.
Dari proses tahapan penelitian ini, kata Erna Yayuk, menghasilkan Gadis Ceria mampu menciptakan suasana pembelajaran lebih interaktif, kreatif, dan berpusat pada siswa. Peserta didik termotivasi dan aktif mengikuti pembelajaran karena diberikan ruang menyampaikan pendapat, bekerja sama, memecahkan masalah, serta mengaitkan materi dengan pengalaman nyata.
Bagi guru, inovasi ini untuk mengembangkan kreativitas dalam merancang pembelajaran. Guru dapat mengombinasikan berbagai aktivitas sesuai dengan karakteristik materi dan kebutuhan peserta didik. Gadis Ceria memiliki empat komponen pembelajaran dalam satu desain yang fleksibel, sesuai kebutuhan guru dan karakteristik peserta didik.

Implementasi Gadis Ceria menghadapi sejumlah tantangan. Antara lain akses internet, kemampuan literasi digital siswa, serta keterbatasan waktu pembelajaran. Meski begitu tantangan ini dapat diatasi melalaui kreativitas guru serta antusiasme siswa.
Hasil penelitian? Erna Yayuk menjelaskan inovasi pembelajaran tidak selalu harus diwujudkan dalam bentuk teknologi yang kompleks. Integrasi sederhana antara gambar, diskusi, cerita kehidupan siswa, dan media digital dapat menjadi strategi menghadirkan pembelajaran Pendidikan Pancasila lebih bermakna. Itu sebabnya melalui Gadis Ceria, pembelajaran Pancasila diharapkan mendorong peserta didik memahami, mendiskusikan, menghayati, dan menerapkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan nyata. (tim penelitian dosen umm)
