Anti-AHPND: Teknologi Nanoenkapsulasi Berdaya Tahan Tinggi Lindungi Udang dengan BAL
Oleh : Nur Rosyidatul Hasanah, Mahasiswa Program Studi Akuakultur angkatan 2020, Fakultas Pertanian Peternakan, Universitas Muhammadiyah Malang
TABLOIDMATAHATI.COM, MALANG – Saat ini banyak inovasi yang digunakan untuk mencegak penyakit pada udang. Salah satunya permasalahan Acute Hepatopancreatic Necrosis Disease (AHPND) yang sebelumnya dikenal sebagai Early Mortality Syndrome (EMS) masih meresahkan pembudidaya udang vaname. Dikarenakan penyakit ini dapat mengakibatkan penurunan produksi dengan cara menginfeksi benur dengan angka kematian mencapai 100%. Masalah tersebut disampaikan oleh ratusan petambak bagian timur meliputi Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Lombok, Sumbawa, hingga Sulawesi. Wabah ini disebabkan oleh bakteri Gram-negatif, V. Parahaemolyticus yang mengandung plasmid yang mengkode toksin Pir A dan B, dimana dapat mematikan udang dalam kurun waktu 5-6 hari. Penyakit ini di Indonesia telah tercatat sejak 2011 dan perkiraan kerugian ditaksir mencapai $26 juta USD pada tahun 2015 untuk budidaya vaname.

Salah satu upaya pencegahan terhadap penyakit tersebut dengan meningkatkan imunitas udang. Namun, para pelaku usaha masih menggunakan antibiotik berbahan senyawa kimia yang telah diketahui berdampak buruk pada udang dan lingkungan. Penggunaan jahe, bawang merah dan madu awalnya juga menjadi harapan bagi petani udang yang mampu menghambat pertumbuhan bakteri dengan dosis 125gr/hari. Namun terbukti belum cukup efisien karena tingginya harga dan tergolong bahan pokok manusia. Berkembangnya teknologi, beberapa penelitian menunjukkan hasil positif dengan menggunakan bakteri asam laktat (BAL) yang diisolasi dari bahan pangan dalam mengatasi infeksi V. Parahaemolyticus secara in vitro. Namun metode ini tidak dapat bertahan lama mengingat bakteri asam laktat (BAL) memiliki jangka waktu pendek.

Oleh karena itu, Salah satu tim Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) Universitas Muhammadiyah Malang Program Studi Akuakultur memberikan solusi pemanfaatan bakteri indiginus usus udang sebagai sumber BAL yang mungkin mempunyai potensi antibakterial pada V. Parahaemolyticus. Hal tersebut dibuktikan bahwa pada usus udang vaname mempunyai BAL seperti Bacillus flexus yang dapat menghasilkan bakteriosin (antibiotik alami). Pada penelitian yang lain, Staphylococcus warneri berhasil diisolasi dan diidentifikasi pada usus L. vannamei menggunakan Sekuen Gen 16S rRNA. Salah satu mikroorganisme yang menghasilkan enzim protease ekstraseluler adalah Staphylococcus sp. Oleh karena itu, tujuan dalam pelaksanaan penelitian ini adalah untuk mengembangkan produk probiotik berupa potensi nanoenkapsulasi dari BAL sebagai booster imun L. vannamei untuk mengatasi AHPND.

Teknologi nanoenkapsulasi sendiri dipilih karena mikroenkapsulasi memiliki kelemahan, salah satunya adalah kemampuan penetrasi ke dalam jaringan tubuh terbatas sehingga diperlukan ukuran partikel yang lebih kecil yaitu mengarah pada ukuran. Sehingga hasil nanoenkapsulasi membuka peluang para pembudidaya menyimpan dan mempertahankan kualitas indigen BAL dalam waktu yang lama tanpa perlu melakukan proses kultur setiap hari.

Hasil penelitian dari Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) ini dapat membantu para petambak udang untuk mengatasi penyebaran penyakit AHPND, sehingga produksi udang tidak mengalami penurunan. Saya ucapkan terima kasih kepada Bapak Soni Andriawan, S.Pi, M.P., M.Sc selaku dosen pembimbing pada tim ini dan terima kasih kepada Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Reset dan Teknologi, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi yang telah memberikan kesembatan dan membantu mahasiswa dalam melaksanakan penelitian ini. (*)
