Adventure Class SMP IT Insan Permata Malang, Beri Kesempatan Siswa Tumbuh Mandiri
TABLOIDMATAHATI.COM, MALANG – Belajar dan berpetualang dalam Adventure Class (27/1), merupakan salah satu program unggulan SMP Islam Terpadu (SMP IT) Insan Permata Malang. Menurut Kepala SMPIT Insan Permata, ustadz Anang Tri Wahyudi, S.Si., adalah program dari kegiatan Project Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) yang disesuaikan dengan alur TERPADU (Telaah, Eksplorasi, Rumuskan, Presentasikan, Aplikasikan, Duniawi, dan Ukhrawi) yang dimiliki SMPIT.
“Kegiatan P5 kali ini i berbeda dari sebelumnya sebab dikemas dengan konsep baru harapan kami siswa terbentuk kemandiriannya, kepeduliannya, spiritualnya. Sehingga mereka benar-benar mempunyai bekal saat nanti mereka berada di sekolah lanjutan. Jadi kami memang memfasilitasi mereka bertumbuh sesuai dengan apa yang mereka butuhkan,” ujar ustadz Anang.

Kegiatan Adventure Class diikuti oleh siswa-siswi SMP IT kelas VII dan VIII. Tema dari kegiatan P5 Adventure Class tahun ini adalah ‘Gaya Hidup Berkelanjutan’ yang selanjutnya dibagi menjadi dua sub tema antar jenjang. Yakni untuk kelas VII bertemakan penghijuan, sedangkan kelas VIII adalah pengelolaan sampah.
Tim Acara Kelas VII, ustadzah Partini, S.Pd., Gr, menjelaskan Adventure Class untuk kelas VII terbagi menjadi pekan satu dan dua. Pekan pertama (15-20 Jan) kegiatan dilakukan di sekolah yang diawali dengan mengenalkan apa itu gaya hidup berkelanjutan. Siswa juga diberikan studi kasus bencana akhir-akhir ini seperti banjir di beberapa titik Kota Malang.

Setelah itu SMP IT juga berkolaborasi dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Malang untuk mengajarkan para siswa tentang penghijauan. Para siswa diajak pergi ke salah satu perkebunan di Punten, Kota Batu untuk mempelajari jenis tanaman dan cara menanamnya langsung dari para petani. Sepulang dari Kota Batu siswa berdiskusi untuk memilih tanaman apa yang sekiranya cocok ditanam di lingkungan sekolah.
Menuju pekan kedua, Adventure Class untuk kelas VII dimulai live in di Bantur, Malang Selatan. Mereka dibagi dalam 11 kelompok (putra-putri dipisah) dan menginap di rumah warga selama tiga hari dua malam tanpa pendampingan guru (terpisah). Para siswa akan mengikuti aktivitas masing-masing keluarga.

“Agar ada ikatan yang kuat antara siswa dan host family. Kenapa begitu? Karena mereka akan menemani dan membantu host family dalam beraktivitas seperti memasak bersama, mengikuti bekerja, dan masih banyak lagi,” ucap ustadzah Tini.
Selain itu para siswa juga dihimbau memakmurkan masjid, mengadakan bazar pakaian-barang layak pakai, dan mengadakan lomba untuk anak-anak kecil dan ibu-ibu. Ada juga kegiatan susur wilayah yang menjadi pengalaman pertama siswa karena merasakan perbedaan signifikan dengan lingkungan tempat tinggal mereka. Puncak dari serangkaian kegiatan adalah dengan menanam mangrove di area Hutan Bakau Pantai Ungapan.
Adventure Class siswa kelas VIII, dikatakan ustadzah Ika Puspitasari, S.Pd selaku Tim Acara Kelas VIII, dilaksanakan selama dua pekan. Pekan pertama, siswa diajak jalan santai bersih mengumpulkan sampah di beberapa titik untuk dianalisis bersama ketika kembali ke sekolah. Selanjutnya kegiatan disambung dengan nonton bareng film perbedaan pengolahan sampah di Indonesia dan luar negeri.

Ustadzah Ika, pada hari berikutnya siswa diajak ke TPA Supit Urang Malang. Mereka melakukan wawancara kepada petugas dan mengamati proses pengolahan sampah disana. Mereka juga berkesempatan melihat bagaimana budidaya magot. Pada hari selanjutnya juga mendatangkan Tunas Hijau dari Surabaya untuk mempelajari cara mengolah sampah dengan Ecobrick, Kompos, dan Biopori.
Pekan kedua, siswa memulai trip atau perjalanan Adventure Class yang mereka rancang sendiri. Dalam kegiatan ini terdapat tujuh kelompok yang terbagi menjadi tiga jalur trip dari Malang ke Yogyakarta. Ada yang melewati jalur utara, tengah, dan selatan. Seperti contoh untuk kelompok di jalur tengah akan singgah di beberapa kota seperti Kediri, Sragen, dan Solo. Para siswa akan didampingi guru tetapi semua keputusan akan diserahkan kelompok masing-masing. Bahkan untuk menginap mereka akan mencari masjid dan meminta izin secara mandiri di lokasi.
Ustadzah Ika menyebutkan, ada banyak hal unik yang mereka temukan seperti perbedaan jumlah ton sampah dan jenis sampah yang dihasilkan di masing-masing kota yang mereka singgahi. Beberapa kelompok juga fokus melakukan pengamatan tentang kesadaran membuang sampah pada tempatnya dengan menghitung aktivitas di taman-taman. Ada juga yang melakukan presentasi ke murid SD tentang ilmu yang sudah didapatkan di pekan pertama.

Hingga semuanya tiba di Yogyakarta sebagai puncak Adventure Class untuk kegiatan rayakan prestasi. Siswa bersama-sama tour Merapi dan saling berbagi cerita bagaimana keseruan masing-masing perjalanan. Hingga kembali lagi ke kota asal, setiap kelompok melaporkan perjalanannya dengan cara beragam seperti laporan tertulis, gambaran, atau video sesuai pilihan mereka sendiri. Tidak luput juga mereka juga membuat kampanye sadar lingkungan dan diunggah di media sosial masing-masing.
“Berdasarkan testimoni anak-anak kemarin katanya sangat seru karena belajar sambil jalan-jalan. Mereka jadi banyak tahu bahwa sampah ini menjadi momok besar tidak hanya di Indonesia tetapi di negara lain. Harapan kami kedepannya akan kami mulai dari pihak guru sekolah memberi contoh dan akan diikuti oleh murid secara berkelanjutan.” Tutup ustadzah Ika.
Sebagi informasi tambahan, saat ini SMPIT Insan Permata Malang masih membuka Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) tahun ajaran 2024/2024. Untuk informasi lebih lanjut bisa membuka link pendaftaran melalui web insanpermata.sch.id atau langsung menghubungi nomor WhatsApp 0822 3324 4018. (reporter: hamara)
