Mahasiswa PMM UMM Transformasi Digital-Inovasi Teknologi Pada Siswa SDN 5 Merjosari Kota Malang
TABLOIDMATAHATI.COM, MALANG – Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melaksanakan program Pengabdian Masyarakat oleh Mahasiswa (PMM) di SD Negeri Merjosari 5 Kota Malang. Menurut salah satu tim PMM UMM Lydia Ayu Fatmasari, selain dirinya nama kelompok PMM lainnya adalah Nora Maxalina, Hafidz Afifudin, dan Akhmad Zaini. Mereka dalam melaksanakan program kerja PMM di bawah arahan Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) Dr. Beti Istanti Suwandayani M.Pd.

Dijelaskan Lydia Ayu Fatmasari disapa Lydia, pelaksanaan Pengabdian Masyarakat oleh Mahasiswa (PMM) ini adalah untuk mengaplikasikan Hilirisasi hasil Penelitian Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Selain itu juga sebagai bentuk implentasi Tri Dharma Perguruan Tinggi bidang pengabdian masyarakat. Tujuan PMM tersebut mengintegrasikan pengetahuan akademik mahasiswa dengan kebutuhan nyata di masyarakat.
Dimana program perja PMM meliputi fokus dua aspek utama. Yakni digitalisasi pembelajaran di tingkat sekolah dasar dan penerapan teknologi tepat guna. Melalui pemanfaatan platform kreatif seperti CorelDraw, Tux Paint, Animated Drawing, dan gamifikasi lewat Wordwall, serta pembangunan sistem lampu sensor otomatis, program ini berhasil meningkatkan antusiasme belajar siswa dan efisiensi fasilitas sekolah.

Lydia mengungkapkan program kerja ini merupakan pendekatan multidimensi dalam pendidikan dasar. Sebab pendidikan di era digital menuntut pendidik untuk tidak hanya menyampaikan materi secara konvensional, tetapi juga adaptif terhadap perkembangan teknologi. Dalam pelaksanaan PMM di SDN 5 Merjosari Kota Malang, fokus utama adalah memberikan pengalaman belajar yang interaktif dan aplikatif bagi siswa kelas 1 hingga kelas 6.
Sehingga dapat membangun kreativitas melalui literasi visual digital. Salah satu program unggulan adalah pengenalan dunia animasi kepada siswa kelas rendah dan menengah. Di kelas 1 dan 2, penggunaan platform Animated Drawing memberikan pengalaman magis bagi siswa, dimana coretan tangan mereka dapat “dihidupkan” menjadi karakter bergerak. Hal ini bertujuan untuk menumbuhkan minat awal terhadap teknologi informasi.
Sementara di kelas kelas 3A dan 3B, materi ditingkatkan menggunakan CorelDraw dan Tux Paint. Siswa diajak untuk mengenal antarmuka perangkat lunak desain grafis. Melalui Tux Paint yang ramah anak, siswa belajar mengeksplorasi warna dan bentuk, sementara pengenalan dasar CorelDraw memberikan wawasan tentang profesionalisme dunia desain sejak dini. Kreativitas digital ini penting sebagai fondasi skill masa depan mereka.

Berikutnya, tandas Lydia, program PMM untuk gamifikasi pembelajaran. Yakni mata pelajaran matematika, Pancasila, dan budaya. Menghadapi tantangan kejenuhan siswa dalam materi teoritis, PMM UMM menerapkan metode gamifikasi menggunakan platform Wordwall. Metode ini diterapkan pada tiga mata pelajaran berbeda.
Yakni Pendidikan Pancasila (Kelas 6): Materi mengenai “Provinsi sebagai Bagian dari NKRI” yang biasanya bersifat hafalan, diubah menjadi kuis interaktif yang kompetitif. Siswa lebih mudah mengingat letak geografis dan identitas daerah melalui tantangan visual.
Kedua, Matematika (Kelas 4): Pembelajaran “Satuan Luas” seringkali dianggap sulit. Dengan Wordwall, soal-soal konversi satuan dikemas dalam bentuk permainan yang menuntut ketelitian sekaligus kecepatan, sehingga suasana kelas menjadi lebih hidup.
Ketiga mata pelajaran Aksara Jawa (Kelas 5): Melestarikan budaya di tengah gempuran zaman dilakukan dengan digitalisasi. Penulisan Aksara Jawa tidak lagi terasa kuno ketika disajikan dalam format digital interaktif, memudahkan siswa mengenali lekuk huruf melalui perangkat teknologi.
Menariknya, PMM UMM juga mengajarkan siswa tentang inovasi infrastruktur: smart lighting untuk taman sekolah. Tim PMM UMM memperbaiki infrastruktur sekolah melalui penerapan teknologi tepat guna. Yakni merancang dan memasang sistem lampu sensor otomatis untuk penerangan area taman sekolah. Penggunaan sensor (seperti sensor cahaya LDR) bertujuan untuk efisiensi energi. Lampu akan menyala secara otomatis saat hari mulai gelap dan padam saat fajar tiba tanpa memerlukan intervensi manual.
Selain memberikan keamanan tambahan di lingkungan sekolah pada malam hari, proyek ini juga menjadi sarana edukasi praktis bagi warga sekolah mengenai pentingnya penghematan energi dan cara kerja teknologi otomasi sederhana.
Dampak dan Kesimpulan Rangkaian program yang dijalankan menunjukkan bahwa integrasi teknologi dalam pendidikan dasar bukan lagi sekadar pilihan, melainkan kebutuhan. Penggunaan platform digital terbukti mampu meningkatkan retensi informasi siswa dan mengubah persepsi mereka terhadap pelajaran yang dianggap sulit. Di sisi lain, pembangunan fisik berbasis teknologi seperti lampu sensor memberikan manfaat jangka panjang bagi operasional sekolah. Secara keseluruhan, program PMM UMM ini berhasil menciptakan sinergi antara literasi digital, pelestarian budaya, dan inovasi infrastruktur yang berkelanjutan. Diharapkan langkah ini dapat diteruskan oleh pihak sekolah guna menciptakan lingkungan belajar yang modern dan efisien. (tim pmm umm/don)
