PMM 75 UMM Pengelolaan Sampah Organik Dengan Media Biopori di Dusun Kuso
TABLOIDMATAHATI.COM, MALANG – Kegiatan Pengabdian Masyarakat Oleh Mahasiswa (PMM) Universitas Muhammadiyah Malang kelompok 75 gelombang 1 (PMM 75 UMM) merupakan kegiatan yang wajib dilaksanakan oleh mahasiswa secara berkelompok yang bertujuan untuk memberikan manfaat serta menyalurkan berbagai kegiatan positif kepada masyarakat sesuai dengan peraturan Universitas Muhammadiyah Malang dalam melaksanakan pengabdian kepada masyarakat oleh mahasiswa.

Menurut Koordinator PMM 75 UMM, Ranti Dwi Kisowo, pengabdian ini dilakukan oleh kelompok 75 gelombang 1 di Dusun Kuso, Desa Kalisongo Kecamatan Dau, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Kegiatan PMM ini awal dilaksanakan pada 19 Januari 2024. Kegiatan Pengabdian Masyarakat oleh Mahasiswa (PMM) ini untuk mengaplikasikan Hirilisasi hasil penelitian Universitas Muhammadiyah Malang.
Anggota kelompok PMM Bhaktiku Negeri Kelompok 75 Gelombang 1 terdiri dari Ranti Dwi Kisowo (Koordinator), Devinta Angel Kartika Putri (Bendahara), Sriyatul Hikmah (Sekretaris), Faridah Winarsudi (PDD), dan Emy Bessy (Humas), yang berasal dari program studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Muhammadiyah Malang serta dibimbing oleh Dosen Pendamping Lapangan (DPL) Ramli Ramadhan, S.Hut, MA.

Melalui kegiatan ini, kelompok 75 gelombang 1 mengajak ibu-ibu anggota Dasawisma RT.02, Dusun Kuso belajar cara pengelolaan sampah organik dengan media Biopori. Sebelum memulai proses pembuatan Biopori, dilakukan sosialisasi kepada warga untuk mengenalkan biopori.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia biopori memiliki makna lubang buatan pada tanah yang diisi sampah organik untuk resapan air. Biopori atau yang juga biasa disebut dengan lubang resapan biopori merupakan lubang yang dibuat tegak lurus ke dalam tanah. Lubang ini memiliki diameter antara 10-30 cm dan tidak memiliki muka air tanah dangkal.

Lubang tersebut kemudian diisi dengan sampah organik yang memiliki fungsi sebagai makanan makhluk hidup yang ada di tanah, seperti cacing, akar dan tumbuhan.
Kegiatan ini memerlukan persiapan bahan dan peralatan, seperti pipa, galon bekas yang telah di daur ulang, tanah yang sudah dicampur arang sekam, pupuk urea dari kotoran kambing, sampah organik seperti daun, rumput, sisa sayur dan air. Cara pembuatannya yaitu memasukkan tanah kedalam galon bekas, memasukkan pipa yang berukuran sekitar 30 cm atau pipa yang berukuran sesuai media potnya, setelah itu dilapisi lubang menggunakan pipa yang ukurannya sama dengan diameter lubang.
Kemudian isi lubang pipa dengan sampah organik seperti daun, rumput, sampah sisa sayur. Setelah itu tutup lubang menggunakan tutup pipa yang sudah dilubangi terlebih dahulu. Isi lubang biopori dengan sampah organik secara bertahap setiap lima hari sekali sampai lubang terisi penuh dengan sampah.
Lubang resapan biopori yang sudah terisi penuh dengan sampah dibiarkan selama tiga bulan agar sampah tersebut nantinya menjadi kompos. Setelah tiga bulan, angkat kompos yang sudah jadi dari lubang biopori, dan lubang siap diisi kembali dengan sampah yang baru. Kompos siap digunakan untuk memupuk tanaman yang ada di halaman rumah.

Lubang resapan biopori tentunya memiliki sejumlah manfaat antara lain mengurangi sampah organik, menyuburkan tanah, mencegah terjadinya banjir, dan meningkatkan jumlah air tanah.
Dengan adanya kegiatan ini, diharapkan dapat memberikan pengetahuan kepada warga mengenai pengelolaan sampah organik dengan benar, salah satunya dengan media Biopori. Selain pemberian materi, para warga juga dilatih praktek membuat biopori, dengan tujuan agar para warga mendapatkan pengalaman dan juga dapat mempraktekkannya sendiri di rumahnya. (rilis: pmm 75 gelombang 1 umm)
