Pelajar Pancasila Mengembangkan Pendidikan Karakter Siswa dalam Pembelajaran untuk Mewujudkan Kebhinekaan Global
Penulis : Gina Ulfiya Idris, mahasiswa Prodi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Universitas Muhammadiyah Malang
Pendidikan karakter
TABLOIDMATAHATI.COM, MALANG– Adalah pendidikan perihal karakter, atau pendidikan yang memedomani esensi karakter dalam tiga ranah cipta, rasa, dan karsa (Daryono & Lestariningsih, 2017). Menurut Suwartini (2017), Pendidikan karakter merupakan suatu prosedur yang menumbuhkan nilai-nilai karakter terhadap pelajar meliputi wawasan, pemahaman diri, keteguhan hati, dan komponen semangat serta langkah mengimplementasikan nilai-nilai, baik terhadap Tuhan YME, diri sendiri, akan tetapi pada saat yang sama masyarakat melihat harapan masa depan bangsa. Inilah yang mendesak institusi pendidikan membekali pelajar secara ilmiah dan personal dalam bentuk pribadi yang bemoral, memiliki spiritualisme dan pengetahuan yang kuat. Adapun ke-18 Nilai Pendidikan Karakter menurut Kementrian Pendidikan Nasional adalah sebagai berikut: a) Religius. Sikap dan perilaku yang harus dipatuhi saat menunaikan ajaran agama masing-masing individu, dapat bertoleransi dengan pelaksanaan ibadah agama lain, dan hidup rukun dengan pemeluk agama lain. b) Jujur. Sikap yang membuat pribadi menjadi orang yang dapat dipercaya dalam ucapan, perilaku, dan tindakan. c) Toleransi. Perilaku yang menghormati agama, suku, etnis, pemikiran, sikap, dan tindakan orang lain yang tidak sama dengan dirinya. d) Disiplin. Menunjukkan sikap tertib dan patuh tehadap ketentuan dan peraturan yang berlaku. e) Kerja Keras. Sikap yang mencerminkan tindakan yang tidak kenal menyerah dan selalu berusaha dalam bekerja dan melakukan suatu hal.
Indonesia merupakan negara dengan keragaman budaya, agama, dan suku. Melalui profil pelajar Pancasila, peserta didik diajak untuk menghargai dan menghormati perbedaan, serta menjunjung tinggi nilai-nilai toleransi. Hal ini penting dalam membangun karakter yang inklusif dan mendorong perserikatan dalam kehidupan bermasyarakat. Dalam kehidupan bermasyarkat tentunya banyak tantangan dan masalah yang masih menjadi persoalan yang masih harus di hadapi oleh Bangsa Indonesia. Adapun permasalahan sosial tersebut seperti korupsi, kekerasan, dan ketidakadilan .Membangun karakter peserta didik melalui profil pelajar Pancasila dapat menjadi upaya untuk mengatasi permasalahan tersebut.
Tujuan Penguatan Pendidikan Karakter
Adapun tujuan penguatan pendidikan karakter yang dicanangkan kemendikbud antara lain:
1) Melatih dan membekali siswa untuk menjadi generasi emas Indonesia tahun 2045 untuk mengimbangi perubahan di masa depan.
2) Dengan memperhatikan keberagaman budaya Indonesia, mengembangkan landasan pendidikan nasional dengan pendidikan karakter sebagai jiwa utama.
3) Merevitalisasi dan meningkatkan kapasitas dan kapabilitas ekosistem pendidikan. Dengan harapan karakter anak didik kelak bisa dibarengi dengan aspek kemampuan berliterasi dan kemampuan dasar di abad 21 ini.
Menciptakan Generasi Pelajar Pancasila
Ada enam kriteria Pelajar Pancasila yang diinginkan Kemendikbud, yaitu beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan berakhlak mulia; mandiri; bernalar kritis; kebinekaan global; bergotong royong; dan kreatif. Lalu bagaimana cara Puspeka untuk mencapai target menciptakan Pelajar Pancasila? Puspeka mengembang berbagai tema kampanye melalui komunikasi publik di berbagi media. Tujuannya, para anak muda ini bisa mengubah paradigma (pola pikir) dan perilaku atau sikapnya sesuai dengan Pancasila.Strategi kampanye ini memiliki empat tahap untuk mencapai tujuannya. Pertama, sadar (aware), yakni membuat peserta didik lebih sadar atau peka akan lingkungan dan keadaan di sekitarnya. Tahap kedua, peserta didik memahami (understand) apa yang disampaikan; kemudian masuk ke tahap ketiga, yaitu ikut serta (join). Anak mulai mau masuk pada sebuah proyek pendidikan. Tahap terakhir, yaitu mau melakukan (do). Tidak hanya mengemukakan wacana atau pendapat, tetapi juga mengimplementasikan. Contohnya, dilakukan melalui hal sederhana, seperti membuang sampah pada tempat sampah. Pertama, tentunya harus memberi tahu ada akibat kalau sampah dibuang sembarangan, misalnya menimbulkan penyakit atau bau tidak sedap.Kemudian, guru atau siswa menunjukkan bagaimana seharusnya sampah itu dibuang di tempat sampah. Tentu saja, butuh waktu dan harus dilakukan berulang-ulang. Namun, setelah menjadi kebiasaan, hal ini bisa “menular” ke teman-temannya dan mengajak mereka untuk berbuat yang sama. Pendidikan karakter berlandaskan Pancasila ini akan dilakukan, baik dalam kurikulum, pedagogis, maupun penilaian. Saat ini, pendidikan ini dilakukan berbasis kelas, berbasis budaya sekolah, dan berbasis masyarakat. Untuk berbasis kelas, dapat diintegrasikan dalam mata pelajaran atau dalam muatan lokal.
Mengembangkan Karakter Berkebhinekaan Global Siswa dalam Pembelajaran
Salah satu profil Pelajar Pancasila adalah karakter berkebhinekaan global. Dalam hal ini, Pelajar yang memiliki profil pancasila yang berkebinekaan global memiliki semangat untuk mempertahankan budaya luhur, lokalitas dan identitas dan tetap berpikiran terbuka dalam berinteraksi dengan budaya lain, sehingga menumbuhkan rasa saling menghargai dan kemungkinan terbentuknya budaya baru yang positif dan tidak bertentangan dengan budaya luhur bangsa.
Terdapat 3 buah elemen kunci yang menjadi profil pelajar pancasila yang berkebinekaan Global, yaitu :
1. Mengenal dan menghargai budaya
2. Kemampuan komunikasi inter kultural dalam berinteraksi dengan sesama
3. Refleksi dan tanggung jawab terhadap pengalaman kebinekaan Kebhinekaan artinya beraneka ragam, bermacam-macam, banyak, beragam, dan lain-lain, yang mengarah kepada banyanknya perbedaan yang ada dalam masing-masing kehidupan, kebhinekaan lebih tertuju pada nilai nasional, yaitu beraneka ragamnya terdapat suku bangsa, ras, agama, budaya, bahasa, dlan lain-lain yang ada pada negara Indonesia (yang mana persatuan dan kesatuan sebagai penghubung dari kebhinekaan tersebut). Kebhinekaan global adalah perasaan menghormati keberagaman. Kebhinekaan global adalah toleransi terhadap perbedaan.
(penulis Gina Ulfiya Idris, mahasiswa Prodi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Universitas Muhammadiyah Malang, NIM: 202210430311019)
