Bahaya Merkuri Pada Kosmetik dan Skincare
Oleh: Adinda Wahyu Puspita, mahasiswa Program Studi Ilmu Keperawatan, Fakultas Ilmu Kesehatan, Universitas Muhammadiyah Malang
TABLOIDMATAHATI.COM, MALANG– Kulit merupakan bagian terluar pada manusia dan hewan. Kulit memiliki fungsi untuk melindungi tubuh dari ancaman eksternal seperti bakteri, virus, dan sinar matahari. Serta sebagai tempat ekskresi pengeluaran melalui keringat dan sebagai produksi vitamin D dari kulit yang terpapar sinar matahari untuk kesehatan tulang dan sistem kekebalan tubuh. Pada umumnya jenis kulit setiap orang berbeda-beda. Hal ini dapat diketahui berdasarkan aktivitas, suhu, kelembapan, paparan polusi, sinar UV, dan makanan yang dikonsumsi setiap harinya. Namun, secara umum jenis kulit dibagi menjadi 3 yaitu kulit normal, kulit kering, dan kulit berminyak. Jenis-jenis kulit tersebut bisa juga terjadi karna faktor genetik, hormon, jenis kelamin, dan usia, dan juga suatu penyakit yang diderita. Sehingga kita sangat memerlukan perlindungan dan perawatan untuk kesehatan kulit.
Perawatan kulit adalah langkah penting untuk menjaga kesehatan dan penampilan kita. Dalam upaya mencapai kulit yang sempurna, beberapa cara dilakukan oleh beberapa kalangan. Di era teknologi yang semakin pesat ini tidak hanya wanita dan orang dewasa saja. Tetapi juga sudah menyalur ke berbagai kalangan. Seperti remaja dan juga pria. Dari zaman kuno hingga zaman modern, setelah mencari bebagai upaya ditempuh, akhirnya pada zaman dimana teknologi dalam bidang industri yang telah berkembang pesat ini telah ditemukan skincare sebagai produk yang populer bagi masyarakat luas untuk menjaga dan meningkatkan kondisi kulit mereka. Produk perawatan skincare memiliki banyak varian. Mulai dari pembersih wajah, facial wash, toner, krim pelembab, serum, dan suncream. Dibalik skincare atau kosmetik yang dinilai masyarakat mampu merawat dan menyehatkan kulit, justru timbul permasalahan baru. Benarkah penggunaan skincare atau kosmetik dalam jangka waktu yang panjang akan menyehatkan kulit ataupun berdampak sebaliknya?.
Dibalik keindahan kulit yang sempurna terkadang ada resiko yang hampir tidak diketahui masyarakat. Karna semakin banyak produk skincare yang mampu membuat daya tarik masyarakat meningkat, menjadikan pabrik-pabrik lain untuk ikut membuat produk agar bisa memikat daya tarik masyarakat. Sebagian oknum yang tidak bertanggungjawab mencampuri produknya dengan bahan yang seharusnya tidak layak digunakan untuk kesehatan masyarakat. Tetapi sebagian kalangan kurang pandai dalam memilih skincare untuk digunakan. Mereka lebih tergiur perawatan kulit dengan harga lebih murah yang memberi efek kulit mereka glowing dalam kurun waktu yang singkat. Tanpa memikirkan efek jangka panjang yang akan menyangkut kesehatan mereka di masa mendatang. Salah satu bahan berbahaya yang dicampurkan dalam pembuatan skincare dan kosmetik adalah merkuri.
Apa sih merkuri itu? Merkuri adalah salah satu unsur kimia beracun yang dalam beberapa kasus masih digunakan dalam produk perawatan kulit. Merkuri termasuk logam berat yang mengandung senyawa klorida yang bisa ditemukan dalam berbagai bentuk. Merkuri juga melepaskan asam klorida yang dapat menyebabkan lapisan epidermis pada kulit meningkat serta pengelupasan pada kulit. Kulit adalah organ yang mampu menyerap zat-zat tertentu. Jadi, apabila kulit terlalu banyak terkena merkuri akan menjadikan kulit menipis, terjadi iritasi, terdapat alergi atau ruam dan kerusakan permanen pada kulit. Kemudian apabila pemakaian dalam jangka waktu yang lama akan menyebabkan senyawa dalam merkuri berpenetrasi kedalam pembuluh darah dan menyebabkan kerusakan pada organ tubuh seperti ginjal, hati, otak, paru-paru, dan sistem syaraf seperti kerusakan permanen pada kulit. Selain itu, kandungan merkuri pada suatu produk kosmetik atau skincare akan menekan pembentukan melanin sehingga kulit dapat berubah warna yang pada akhirnya apabila skincare atau kosmetik digunakan lagi maka kedua melanin akan terproduksi dengan amat pesat. Paparan merkuri tidak hanya terjadi saat produk dengan merkuri digunakan langsung diatas permukaan kulit. Tetapi juga melalui penguapan merkuri yang terjadi saat produk tersebut digunakan. Misalnya, jika seseorang menggunakan krim pemutih wajah dengan merkuri, uap merkuri dapat terhirup dan juga diserap melalui kulit.
Skincare yang memiliki kandungan merkuri yang tinggi biasanya tidak memiliki label komposisi yang jelas. Aroma atau bau yang aneh atau menyengat yang tidak biasa pada produk perawatan kulit. Kemudian harga yang terlalu murah dibandingkan produk sejenis. Adapun kemasannya tampak tidak profesional seperti sudah dibuka. Hasil pemutihan kulit yang begitu cepat setelah penggunaan yang singkat. Tetapi biasanya ciri yang sangat terlihat adalah reaksi kulit yang tidak biasa, namun seperti kemerahan, gatal, iritasi, atau alergi dari penggunaan produk tersebut.
Setelah mengetahui dampak negatif yang ditimbulkan oleh merkuri yang terkandung dalam skincare kita dapat menyimpulkan bahwa merkuri adalah bahan beracun yang tidak boleh digunakan dalam produk perawatan kulit dan kosmetik karena dapat menimbulkan resiko kesehatan yang cukup serius. Kemudian, penggunaan merkuri dalam produk perawatan kulit dan skincare dapat menyebabkan iritasi kulit, alergi, dan kerusakan permanen pada kulit. Selain kerusakan kulit juga dapat merusak organ tubuh seperti ginjal, otak, dan paru-paru. Kita selaku konsumen alangkah baiknya jika memilih dan memeriksa produk yang akan dipakai. Kita bisa memeriksa label produk. Alangkah baiknya jika produk perawatan kulit atau kosmetik telah mendapat persetujuan dari Badan Pengawas Obat dan Makanan atau BPOM. Bagaimana cara kita mengetahui apakah produk tersebut telah disetujui oleh BPOM? Biasanya sebuah produk yang telah mendapat persetujuan dari BPOM terdapat logo dari BPOM sendiri. Langkah yang dapat kita lakukan selanjutnya adalah memilih produk dari merk yang terpercaya, dan mengikuti regulasi kecantikan dan kesehatan yang telah berlaku untuk menjaga keamanan dan kesehatan tubuh kita.
Kesehatan menjadi harta yang tak ternilai dan kita semua memiliki tanggung jawab untuk menjaganya. Menjaganya dapat dimulai dari diri sendiri. Kalau bukan kita melainkan dari siapa lagi? Bukankah mencegah lebih baik daripada mengobati? Semoga artikel ini memberi informasi dan wawasan yang bermanfaat bagi pembaca untuk memilih yang terbaik bagi tubuh kita. Untuk mencapai kehidupan yang bugar dan bermakna, mari bersama-sama berkomitmen untuk merawat tubuh kita. (*)
