Kampus Berdampak dalam Aksi: Maharesigana UMM Cetak Generasi Siaga Bencana di SD Muhammadiyah 08 Dau
MALANG – Kampus tidak hanya menjadi tempat belajar, tetapi juga ruang lahirnya solusi bagi masyarakat. Hal itulah yang kembali dibuktikan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melalui Maharesigana dalam program pendampingan Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) di SD Muhammadiyah 08 Dau, Kabupaten Malang, Jumat (19/6). Melibatkan lebih dari 100 warga sekolah, kegiatan ini menjadi wujud nyata komitmen UMM sebagai kampus berdampak yang hadir membangun budaya sadar bencana sejak usia dini.

Lebih dari 100 warga sekolah yang terdiri dari siswa, guru, dan tenaga kependidikan mengikuti kegiatan tersebut. Mereka mendapatkan edukasi dan pelatihan intensif mengenai langkah-langkah menghadapi situasi darurat bencana, khususnya gempa bumi. Program ini dirancang untuk membangun kapasitas sekolah agar mampu menjadi lingkungan pendidikan yang aman, tangguh, dan siap merespons kondisi kedaruratan secara mandiri. Pemilihan jenjang sekolah dasar bukan tanpa alasan. Pada usia tersebut, pembentukan karakter dan budaya sadar bencana dinilai lebih efektif dilakukan. Melalui pendekatan yang edukatif dan menyenangkan, para relawan Maharesigana UMM memberikan pemahaman tentang pentingnya kesiapsiagaan bencana sejak dini. Dalam kegiatan tersebut, peserta tidak hanya menerima materi secara teoritis, tetapi juga mengikuti simulasi langsung. Para mahasiswa UMM memperagakan berbagai teknik penyelamatan diri yang mudah dipahami oleh anak-anak, mulai dari cara berlindung yang benar saat terjadi gempa bumi, mengenali dan membaca jalur evakuasi, hingga langkah-langkah mengelola kepanikan ketika berada dalam situasi darurat.
Menurut Indra Fery selaku Ketua Umum Maharesigana, pendampingan SPAB tidak hanya bertujuan meningkatkan pengetahuan kebencanaan siswa, tetapi juga menanamkan nilai kepedulian dan kesiapsiagaan sebagai bagian dari karakter generasi masa depan.
“Pendampingan SPAB yang kami lakukan merupakan bentuk dukungan terhadap implementasi Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 33 Tahun 2019 tentang Penyelenggaraan Program Satuan Pendidikan Aman Bencana. Regulasi tersebut menegaskan bahwa satuan pendidikan perlu membangun budaya aman, meningkatkan kapasitas warga sekolah, dan menyiapkan sistem penanggulangan bencana yang terintegrasi. Karena itu, edukasi dan simulasi kebencanaan kepada siswa sejak usia dini menjadi langkah penting untuk membangun generasi yang tangguh dan siap menghadapi berbagai potensi risiko bencana,” jelas Indra Fery.

Lebih lanjut, ia menambahkan bahwa keterlibatan mahasiswa dalam program ini menjadi sarana pembelajaran nyata untuk mengimplementasikan ilmu pengetahuan dan nilai kemanusiaan yang diperoleh selama perkuliahan. “Mahasiswa tidak hanya belajar di ruang kelas. Mereka hadir langsung di tengah masyarakat, mengidentifikasi kebutuhan, memberikan solusi, dan berkontribusi dalam pengurangan risiko bencana. Inilah bentuk nyata pembelajaran yang berdampak,” tambahnya.
Antusiasme juga ditunjukkan oleh para peserta. Salah seorang guru SD Muhammadiyah 08 Dau mengaku kegiatan tersebut memberikan pengalaman baru bagi siswa dalam memahami langkah-langkah penyelamatan diri ketika terjadi bencana. “Anak-anak sangat antusias mengikuti simulasi. Mereka tidak hanya mendengar penjelasan, tetapi juga mempraktikkan secara langsung apa yang harus dilakukan saat terjadi gempa. Ini sangat penting untuk membangun kesiapan mereka,” ungkapnya.
Melalui berbagai program pengabdian berbasis kemanusiaan, UMM terus memperkuat perannya sebagai kampus yang tidak hanya menghasilkan lulusan unggul, tetapi juga melahirkan agen perubahan yang mampu memberikan solusi bagi persoalan masyarakat. Pendampingan SPAB yang dilakukan Maharesigana menjadi bukti bahwa ilmu pengetahuan yang diperoleh di bangku kuliah dapat diterjemahkan menjadi aksi nyata yang berdampak langsung bagi keselamatan dan ketangguhan masyarakat.
Di tengah meningkatnya potensi bencana di Indonesia, langkah-langkah edukatif seperti ini menjadi investasi sosial yang sangat penting. UMM percaya bahwa membangun generasi tangguh tidak dimulai saat bencana terjadi, melainkan jauh sebelumnya, melalui pendidikan, pembiasaan, dan keterlibatan aktif seluruh elemen masyarakat. Dengan semangat tersebut, UMM terus berkomitmen menghadirkan kontribusi nyata bagi bangsa melalui program-program yang berkelanjutan, humanis, dan berdampak luas. (indra)
