Abdimas Skema Khusus, Dosen HI UMY Hibah Dana Modal Pada PCM Tempel Sleman
TABLOIDMATAHATI.COM, SLEMAN– Program Pengabdian Masyarakat (Abdimas) Universitas Yogyakarta kini menembangkan model skema khsus. Terdapat 14 skema khusus yang dikembangkan oleh UMY untuk 2026 ini, di antaranya adalah penguatan institusi Muhammadiyah di level Cabang Ranting, pembinaan kaum diabilitas, Pendampingan Koperasi Merah Putih dll.
Demikian dijelaskan oleh dr. drg. Laelia Dwi Anggraini sp., KGA. Ketika mendampingi sejumlah dosen UMY di Muhammadiyah Cabang Tempel beberapa Ahad lalu.
Khusus untuk Cabang Tempel, UMY menurunkan 10 dosen dengan focus utaama adalah penguatan kelembagaan dan manajemen organisasi Muhammadiyah. Salah satu dosen pengabdi adalah Muhammad Zahrul Anam, M. Si, yang juga dosen Hubungan Internasional. Dalam paparannya tentang “Penguatan Etika dan Moral Berpolitik dalam Islam” di hadapan Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Tempel, Zahrul menengarai “ banyaknya politisi yang kehilangan pijakan etika dan moral, sehingga banyak terjadi penyalah gunaan kekuasaan atau kinerja yang tidak maksimal”.
Meski Muhamadiyah bukan Gerakan politik, namun banyak kader Muhammadiyah yang bermain di arena politik. Kader kader ini mestinya senantiasa berpijak pada Erika dan moral politik sesuai dengan pedoman Islam.
Zahrul Anam menyampaikan bahwa salah satu tantangan di PCM Tempel adalah lemahnya implementasi etika politik Islam, yang sering tergerus oleh politik transaksional dan pragmatisme elektoral. “Tujuan program ini adalah untuk memperkuat pemahaman tentang prinsip-prinsip etika politik Islam yang terdapat dalam Alquran dan Hadis, seperti amanah, keadilan, dan kejujuran, serta menumbuhkan perilaku politik yang berlandaskan pada nilai-nilai profetik,” jelas Zahrul.
Tetapi, tantangan yang dihadapi oleh kelompok akar rumput adalah money politics. Mereka banyak yang berpikir jangka pendek untuk mendapatkan keuntungan finansial pada pemilu. “Penegakkan etika politik Islam memerlukan komitmen yang kuat dari umat Islam untuk menjauhi perilaku-perilaku yang bertentangan dengan prinsip-prinsip Islam termasuk melakukan jual-beli suara dalam pemilu”, jelas Zahrul.
Tidak mudah untuk menenggakkan idealisme etika politik Islam di tengah-tengah godaan gemerlap politik. Namun, pilihan untuk mengambil keuntungan politik sesaat menjadi penyebab tercerabutnya politik dari moralitas. Oleh karena itu, pengajian di Muhammadiyah menjadi instrumen yang cukup efektif untuk penguatan ideologi dan pengetahuan tentang politik Islam.
Dalam rangkan abdimas ini UMY juga menyerahkan hibah kepada PCM Tempel berupa modal untuk perternakan kambing. (arief hartanto/mpi pdm sleman)
