Budaya Mberot Melalui Lensa Moral Etika: Pandangan Pemilik Sanggar budaya Mberot dalam Menguatkan Identitas Lokal
TABLOIDMATAHATI.COM, MALANG- Budaya Mberot adalah tradisi masyarakat Malang sering dipandang sebatas hiburan rakyat identik dengan atraksi fisik dan pertunjukan jalanan. Namun berbeda dari pandangan sekelompok mahasiswa Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang memperoleh Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) 2025 Kemendiktisaintek, bahwa budaya Mberot menyimpan nilai-nilai moral dan etika yang mendalam.
Potensi tersebut dijelaskan Ketua Tim PKM PGSD UMM Meilisa Tri Adinda Putri, yang melaksanakan riset bersama anggota PKM atas nama Febila Serlina Efendi, Fitriya Maharani, Ana Maulida Azura, dan Wiga Septiyan Vindiani. Mereka saat riset dibawah dosen pembimbing Di bawah bimbingan Dr. Dyah Worowirastri Ekowati, M.Pd. Menariknya, riset PKM tersebut mengusung judul “Gayenge Malang: Kajian Pambudi Luhur Budaya Mberot Menggunakan Metode Gioia untuk Mitigasi Pergeseran Karakter Generasi Alpha di Wilayah Malang.

“Riset ini menyoroti budaya Mberot bukan hanya sebagai warisan budaya visual, namun tersimpan nilai-nilai moral dan etika yang kuat dengan metode wawancara dan observasi ke sejumlah pemilik sanggar di Kota Batu, Kota Malang dan Kabupaten Malang” ujar Meilisa.
Hasil riset? Meilisa mengungkapkan budaya Mberot bukan hanya sebagai ekspresi seni, tetapi sebagai sumber nilai moral dan etika yang dapat memperkuat karakter generasi muda. Penelitian ini menjadi langkah penting dalam menggali identitas lokal sekaligus merespons tantangan pergeseran karakter di era digital. Harapannya, budaya Mberot dapat menjadi inspirasi dalam pendidikan karakter yang kontekstual dan bermakna.
Penelitian ini menjadi langkah nyata dalam menggali kembali makna budaya Mberot sebagai ruang pembelajaran nilai-nilai moral dan etika. Dengan melibatkan pandangan langsung dari para pemilik sanggar, riset ini memperlihatkan bahwa warisan budaya bukan hanya soal tradisi, tetapi juga tentang bagaimana membentuk karakter dan memperkuat identitas lokal. Nilai-nilai luhur yang terkandung dalam budaya Mberot dapat terus hidup dan menjadi pijakan generasi muda dalam menghadapi tantangan zaman.

Meilisa menegaskan, melalui riset ini, mahasiswa PGSD UMM menunjukkan bahwa pelestarian budaya bisa dilakukan secara ilmiah dan berdampak sosial. Dengan pendekatan moral-etika dan kerja sama dengan pemilik sanggar, budaya Mberot kini mendapatkan ruang baru sebagai sarana pendidikan yang membumi dan bermakna.
Sementara itu, Pak Yoga pemilik sanggar menyampaikan jika da yang ikut aktif di sanggar mencerminkan seseorang bersedia bergotong royong dan bersosialisasi. Sebab aktifnya anak-anak dalam kegiatan Mberot menunjukkan nilai gotong royong dan tanggung jawab sosial.

Di tempat berbeda, Pak Heru pemilik sanggar lainnya, menekankan pentingnya membimbing anak-anak agar tetap menjunjung tinggi etika dan sopan santun dalam berbudaya. Menjaga sopan santun adalah penting, serta melatih anak-anak agar tetap memiliki etika dan sopan santun.
Pak Heru menyebutkan balam budaya Mberot terdapat dimensi moral etika mencakup sikap adil dan jujur, tanggung jawab sosial, empati dan toleransi, dan keteladanan. Budaya Mberot menjadi ruang bersama yang menumbuhkan karakter dan memperkuat identitas lokal berbasis nilai-nilai luhur masyarakat.
Bahwa budaya Mberot juga menjadi benteng nilai lokal di tengah derasnya pengaruh budaya luar. Selain menumbuhkan karakter seperti gotong royong dan sopan santun, sanggar menjadi ruang aman bagi anak-anak untuk bertumbuh secara sosial. (tim pkm pgsd umm/don)
