Mahasiswa PMM UMM Olah Sampah Organik Jadi Eco Enzyme, Manfaat Nyata Bagi Warga Watukenongo, Mojokerto
TABLOIDMATAHATI.COM, MOJOKERTO –Salah satu program kerja unggulan mahasiswa Pengabdian Masyarakat oleh Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (PMM UMM) kelompok 2 ini adalah bidang lingkungan hidup di Desa Watukenongo, Kecamatan Pungging, Kabupaten Mojokerto, 14 Agustus 2025. Hal ini dijelaskan Anggota PMM UMM Kelompok 2 Mojokerto.
Menurut Lutfiatus Sholliha anggota PMM UMM kelompok 2 Mojokerto ini terdiri atas nama Mir’atun Rabdiah (202310410311154-Koordinator), Mirzeda Selly R (202310410311137-Bendahara), Nindi Rahmatia R (202310410311140-PDD), Lutfiatus Sholliha (202310410311167-Sekretaris), Hamidatul Istikomah (202310410311169-Humas). Mereka di bawah arahan Dosen Pendamping Lapangan (DPL) Ilham Zul Fahmi, S.P., M.Sc. Bahwa kegiatan Pengabdian Masyarakat oleh Mahasiswa (PMM) ini adalah untuk mengaplikasikan Hilirisasi hasil penelitian Universitas Muhammadiyah Malang (UMM).

Salah satu proker unggulan membuat eco enzyme sebagai inovasi dalam mengolah sampah organik rumah tangga. Program ini dipilih karena mayoritas penduduk Desa Watukenongo bermata pencaharian sebagai “ompes” (pengupas bawang merah) sehingga setiap hari dihasilkan limbah organik berupa kulit bawang merah yang melimpah.
Kata Lutfiatus tujuan dari program ini adalah mengedukasi warga agar dapat mengelola sampah organik secara mandiri sehingga bermanfaat, dengan mengolahnya menjadi pupuk kompos cair yang ramah lingkungan.
Melalui pemanfaatan sampah rumah tangga, masyarakat tidak hanya mengurangi jumlah limbah, tetapi dapat menghasilkan produk yang berguna untuk pertanian dan kebersihan lingkungan sekitar.
Sekedar diketahui Eco enzyme adalah cairan fermentasi dari limbah organik rumah tangga seperti sisa sayuran, buah-buahan, atau kulit buah yang dicampur dengan gula (molase/gula merah) dan air, lalu diproses fermentasi yang memiliki banyak manfaat. Diantaranya pupuk cair, pestisida alami, hingga pembersih ramah lingkungan.

Eco enzyme menjadi salah satu inovasi sederhana dalam pengolahan sampah organik karena tidak hanya membantu mengurangi volume limbah rumah tangga, tetapi juga menghasilkan produk yang bermanfaat bagi lingkungan dan kehidupan sehari-hari.
Materi sosialisasi tentang pembuatan eco enzyme dilakukan dengan cara memotong sampah organik menjadi ukuran kecil agar mempercepat proses pembusukan. Sampah kemudian dicampur dengan air, EM4, dan molase.
Air berfungsi sebagai media utama untuk proses fermentasi, EM4 berperan sebagai sumber mikroorganisme pengurai yang mempercepat proses pembusukan, sedangkan molase menjadi sumber makanan bagi mikroba sehingga proses fermentasi dapat berlangsung optimal. Proses fermentasi berlangsung sekitar dua minggu dengan wadah harus dibuka sekali setiap hari menghindari tekanan gas. Setelah masa fermentasi selesai pupuk yang dihasilkan dapat digunakan dengan cara diencerkan menggunakan air.

Kegiatan sosialisasi berlangsung dengan antusiasme tinggi dari warga. Mereka terlihat aktif mengikuti arahan mahasiswa mulai dari tahap pemilahan sampah, proses fermentasi, hingga cara pemanfaatan eco enzyme. Tidak hanya itu, warga juga antusias mengajukan berbagai pertanyaan, mulai dari manfaat eco enzyme untuk tanaman, cara penyimpanan yang tepat, hingga kemungkinan pemanfaatannya untuk kebutuhan rumah tangga sehari-hari.
Dengan adanya program ini, diharapkan kesadaran masyarakat Desa Watukenongo terhadap pentingnya pengelolaan sampah semakin meningkat, sekaligus menciptakan lingkungan yang bersih, sehat, dan produktif. (rilis: pmm umm/don)
