PMM UMM Sosialisasi Anti Bullying-Kebersihan Masa Puber Siswa SDN 1 Saptorenggo
TABLOIDMATAHATI.COM, MALANG – Kelompok 3 Pengabdian Masyarakat Mahasiswa (PMM) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menyelenggarakan program edukasi terhadap siswa SDN 1 Saptorenggo, Pakis, Kabupaten Malang, tentang pencegahan bullying dan perawatan kebersihan tubuh selama masa pubertas.

Pelaksanaan PMM UMM ini dijelaskan Koordinator PMM UMM, Syahrul Sugianto Abiansah disapa Syahrul, bahwa kelompoknya beranggotakan Amelia Putri Amanda, Wakiatul Ulfa, Indra Maulana Efendi, dan Anta Mujarof Amin. Mereka dalam melaksanakan program kerja di bawah arahan Dosen Pendamping Lapang (DPL) Ir. Gita Indah Marthasari, ST.,M.Kom.
Pengabdian Masyarakat oleh Mahasiswa (PMM) ini adalah untuk mengaplikasikan hilirisasi hasil penelitian Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Selain itu kegiatan edukatif ini sebagai bentuk implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya dalam bidang pengabdian kepada masyarakat.

Menurut Syahrul kegiatan ini merupakan upaya preventif dalam membekali anak-anak dengan pengetahuan dasar yang penting untuk tumbuh kembang mereka. Pelaksanaan Program Kerja (Proker) dibagi menjadi dua sesi utama. Sesi pertama mengangkat tema Stop Bullying: Kita Sahabat, Bukan Musuh yang menggunakan metode pembelajaran interaktif melalui permainan peran dan diskusi kelompok. Sedangkan sesi kedua bertema Bersih itu Sehat, Sehat itu Keren! fokus pada edukasi kebersihan diri khususnya terkait perubahan tubuh selama pubertas.
“Alhamdulillah para siswa terlihat antusias mengikuti seluruh rangkaian kegiatan. Bahkan mereka peserta sosialisasi juga bertanya tentang materi yang telah disampaikan,” ujar Syahrul.

Di tempat sama, Guru SDN 1 Saptorenggo, Juliane Retnaningtias, S.Pd, sangat mengapresiasi proker PMM UMM tentang materi pencegahan munculnya bullying dan bagaimana cara menjaga keseharan diri saat pubertas pada siswa SDN 1 Saptorenggo. “Kami menyambut baik inisiatif ini. Program semacam ini sangat diperlukan untuk membekali siswa dengan pengetahuan dasar yang mungkin belum tercakup dalam kurikulum reguler,” ujarnya.
Sementara itu, salah satu siswa SDN 1 Saptorenggo peserta sosialisasi atas nama Rere, mengungkapkan bahwa dirinya baru mengetahui apabila dalam pergaulan menyebut nama orang tua teman itu bisa menyakiti teman. Itu sebabnya, dirinya sekarang akan lebih berhati-hati dalam berbicara ketika dalam pergaulan. (rilis: pmm umm/don)
