Unisa Yogyakarta Groundbreaking TK ABA Semesta
TABLOIDMATAHATI.COM, YOGYAKARTA– Universitas ‘Aisyiyah (Unisa) Yogyakarta pada Selasa (3/6) melaksanakan ground-breaking Taman Kanak-Kanak Bustanul Athfal (TK ABA) yang diberi branding “TK ABA SEMESTA”.
Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir memberi apresiasi kepada Unisa Yogyakarta dan ‘Aisyiyah atas prakarsa yang cerdas dan berwawasan ke depan itu.
Haedar menegaskan bahwa pembangunan dan pendirian TK ABA Semesta ini sangatlah relevan dan kontekstual. Pertama, keberanian Unisa Yogykarta dan ‘Aisyiyah melakukan prakarsa yang mengandung perubahan sungguh bukan hal mudah, karena di dalamnya selain mengandung jiwa dan pikiran maju, bersamaan dengan itu secara bertanggungjawab siap menghadapi segala tantangan yang ada di depan sebagaimana hukum dasar gagasan yang bersifat mendobrak keadaan (break trought) demi merancang masa depan sebagaimana pesan Allah dalam Al-Quran, yang artinya: “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS Al-Hasyr: 18).
“Masa depan jangan dibiarkan datang sendiri tanpa persiapan, tetapi harus diikhtiarkan dengan rancangbangun yang berwawasan luas dan jauh ke depan (futuristic oriented),”tegas Haedar.
Kedua, pendirian TK ABA Semesta ini hadir di era persaingan global dan nasional. Di bidang pendidikan, dunia saat ini sungguh sarat kompetisi dan melahirkan beragam model keunggulan lembaga-lembaga pendidikan di tingkat lokal dan nasional dalam tekanan dinamika global yang terus bergerak ke depan.
Haedar mengatakan, di Indonesia saat ini bertumbuh lembaga-lembaga pendidikan unggul yang berstandar internasional atau yang bersetara kualitas global, selebihnya bahkan hadir lembaga-lembaga pendidikan asing yang membombardir eksistensi pendidikan di tanah air, jika perkembangan baru tersebut tidak disikapi dengan pemikiran yang berorientasi ke masa depan.
Sehingga untuk menghadapi persaingan merupakan bagian dari jiwa ajaran Islam dalam spirit “fastabiqul khairat” yakni berlomba-lomba dalam kebaikan (QS Al-Baqarah: 148).
“Siapa yang tak mampu bersaing maka akan ketinggalan zaman yang terus berubah cepat,”jelas Haedar.
Ketiga, Unisa Yogyakarta dan ‘Aisyiyah menurut Haedar telah menunjukkan peran strategis yang berkesinambungan dalam usaha mencerdaskan kehidupan bangsa. Sebagaimana diketahui, bahwa lembaga pendidikan Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah yang memiliki sejarah kelahiran dan perkembangan yang panjang sarat perjuangan dalam mencerdaskan kehidupan bangsa berbasis pandangan Islam berkemajuan. Sebagaimana TKA ABA itu sendiri dikenal sebagai PAUD perintis dan pelopor di Indonesia yang lahir dari rahim ‘Aisyiyah sebagai gerakan perempuan berkemajuan, yang embrionya lahir sejak tahun 1919.
“Jika tidak melakukan reformasi diri dari dalam maka jejak kepeloporan itu selain akan menjadi kenangan masa silam yang boleh jadi akan dilupakan orang. Pada saat yang sama akan semakin berat dan mungkin berguguran satu persatu manakala tidak mampu melakukan perubahan secara transformasional (perubahan dinamis-progresif) yang bersifat maju, modern, dan profesional,”tutur Haedar.
Keempat, Unisa Yogyakarta dan ‘Aisyiyah dengan mendirikan TK ABA Semesta ini menunjukkan diri berwawasan ke depan yang mengglobal atau mendunia. Penguatan diksi “semesta” pada TK ABA tersebut tentu merupakan wujud matarantai berpikir dan dinamika eksistensi Pendidikan Usia Dini (PAUD) milik organisasi perempuan tertua yang dikenal progresif dalam menghadapi perkembangan dunia baru yang yang dikenal globalisasi sejak beberapa dekade terakhir.
Haedar menegaskan bahwa bangsa dan kelompok manapun saat ini tidak akan mampu melepaskan diri dari relasi dan pengaruh antarbangsa. Dunia makin tanpa sekat bangsa, ideologi, dan pemikiran meskipun masih dibatasi sistem administrasi.
Globalisasi bahkan bagaikan “juggernut”, yakni “raja alam semesta dalam mitologi klasik” atau kereta raksasa dalam dunia modern yang siap menggilas siapa saja yang ada di sekitarnya. Siapa yang hidup ekslusif, mengurung diri, dan tidak mau terbuka maka akan ketinggalan, bahkan digilas zaman.
Karena itu, Haedar berharap ‘Aisyiyah sebagai gerakan Islam berkemajuan sebagaimana Muhammadiyah niscaya berwawasan dan bersikap tajdid (pembaruan), karena Islam “shalihu zaman wa makan”, Islam itu sejalan dengan perkembangan waktu dan keadaan.
“Lebih dari itu Islam adalah agama yang bermisi dan berorientasi “rahmatan lil-‘alamin”, yakni agama yang mendunia untuk menebar serbakebaikan bagi alam semesta,”pungkas Haedar.
Ketua Badan Pembina Harian (BPH) Universitas ‘Aisyiyah (Unisa) Yogyakarta Siti Noordjannah Djohantini mengatakan, ‘Aisyiyah telah menjadi pionir dalam mendirikan PAUD pada tahun 1919 dengan nama Froubel Kindergarden dan selanjutnya pada Agustus tahun 1924 berubah menjadi TK ABA.
“Sampai saat ini ‘Aisyiyah telah memiliki puluhan ribu PAUD dan sejenis di seluruh pelosok Indonesia. Termsuk di DIY, saat ini telah hadir ribuan PAUD ‘Aisyiyah. Keberadaan TK ABA tentu harus semakin dirawat dan dikembangkan keberadannya oleh ‘Aisyiyah,” jelas Noordjannah.
Noordjannah menuturkan, kehadiran Taman Kanak-Kanak dan PAUD saat ini semakin dibutuhkan dan menjadi agenda besar dari pemerintah secara nasional.
“Keperluannya bukan hanya sekadar kuantitas tetapi tentu pendidikan yang berkualitas,” tegas Noordjannah.
Noordjannah juga menjelaskan bahwa misi dari PAUD ‘Aisyiyah memberikan fondasi dasar-dasar keagamaan bagi anak serta IPTEK dengan cara yang sesuai perkembangan anak, dan dengan penuh kegembiraan.
“Saat ini tantangannya ialah bagaimana menghadirkan generasi yang kuat. Generasi “ulul albab” dan “qurrata ayunin” serta bukan generasi “durriyatan dhiafan” atau yang lemah sebagaiman terkandung dalam Al Quran,” jelas Noordjannah.
Noordjannah juga menjelaskan bahwa kehadiran TK ABA Semesta ini untuk mengisi peluang ruang yang kompetitif dalam penyelenggaraan Taman Kanak-Kanak dan PAUD untuk berfastabiqul khairat.
“Dengan harapan berbagai komunitas masyarakat mendapatkan pelayanan pendidikan yang disiapkan oleh ‘Aisyiyah,” imbuh Noordjannah.
Noordjannah berharap TK ABA Semesta harus hadir untuk semakin kompetitif di tengah berbagai perubahan sebagai lahan dakwah yg semakin meluas.
“Dakwah ‘Aisyiyah melalui pendidikan harus semakin menyasar seluruh golongan masyarakat dan komunitas,” jelas Noordjannah.
Noordjannah menuturkan, bangunan TK ABA Semesta dirancang dengan sangat representatif oleh Unisa Yogyakarta dan diharapkan menjadi tempat wadah pendidikan dan berbagai kegiatan untuk pengembangan PAUD dan TK ‘Aisyiyah secara nasional. (adam/rilis grup media afiliasimu)
