SMK Mutu Gondanglegi Hadirkan Dua Profesor Malaysia-Tiga Guru Besar ITS Bahas Pendidikan dan Pembentukan Karakter Manusia
GONDANGLEGI – SMK Muhammadiyah 7 Gondanglegi dikenal SMK Mutu kemarin (23/9) 2026 menggelar seminar internasional dengan menghadirkan lima professor dari Malaysia dan Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya (ITS). Dijelaskan Kepala SMK Mutu Gondanglegi, ustadz Munali, ST, M.Pd, mengusung tema International Seminar for Future Education: Pendidikan dan Pembentukan Karakter Manusia. Kegiatan ini di-ikuti guru dan karyawan SMK Mutu Gondanglegi dengan nara sumber profesor dan akademisi terkemuka Indonesia dan Malaysia.

Siapa saja mereka? Ustadz Munali menyebutkan Profesor Ts. Dr. Muhammad Suzuri bin Hitam (Universitas Malaysia Terengganu), Professor Ts. Dr. Amiza binti Mat Amin (Universitas Malaysia Terengganu), Prof. Dr. Ir. Imam Robandi, MT, IPU (Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya), Prof. Dr. Vita Ratnasari, S.Si, M.Si (Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya), dan Prof. Drs. Ec. Ir. Riyanarto Sarno, M.Sc, Ph.D, (Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya).
Melalui seminar ini, tambah ustadz Munali, SMK Mutu Gondanglegi menegaskan komitmennya sebagai vokasi penggerak yang terus berinovasi, memperbarui pengetahuan guru dan karyawan dan membuka jejaring global demi mencetak lulusan yang berkarakter, unggul, dan siap menghadapi tantangan masa depan.

Seminar diawali Prof. Imam Robandi dalam paparannya menjelaskan cara menghadapi beragam karakter siswa. Para guru harus bisa menganalisis psikomotorik, afektif, dan kognitif siswa. Tujuannya supaya gaya belajar siswa bisa teridentifikasi dengan baik, sehingga guru bisa menentukan metode yang tepat untuk proses belajar siswa.
“Pendidikan yang efektif adalah merasakan, maka siswa harus bisa merasakan (mengalami). Oleh karena itu, guru harus bisa membedakan kebutuhan psikomotorik, afektif dan kognitif siswa agar bisa menentukan metode belajar yang tepat untuk mereka,” tandas Prof. Imam Robandi.
Di tempat sama, Prof. Riyanarto Sarno menjelaskan tantangan besar guru saat ini pada kemutakhiran teknologi khususnya penggunaan artificial intellegence (AI) untuk memperoleh informasi. Sebagai guru harus upgrade pengetahuan bahkan bisa melebihi perkembangan AI. Sebab ada aspek kreatifitas yang belum bisa disenstuh AI. Menggunakan AI bukan sebagai sumber jawaban utama, namun sarana basis keterbukaan teknologi. Misalnya mengajak siswa berdiskusi tentang jawaban AI, kreativitaskan jawaban itu sehingga lebih berbobot lagi hasilnya.
Menarik dikupas Prof Ts. Muhammad Suzuri dari Universitas Malaysia Terengganu mengungkapkan tiga wasiat Nabi Shallallahu Alaihi Wassallam tentang hati yang bersih saat berinteraksi dengan siswa. Sabda Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wassallam tentang tiga hal yang dibawa mati dan tidak terputus pahalanya yaitu: sedekah jariah, ilmu yang bermanfaat, dan doa anak saleh. Melalui hati yang tulus dan ikhlas membuat ilmu yang dipelajari berdampak nyata pada perbaikan akhlak dan kebaikan sehari-hari. (riska sri wulandari)
