Respons Dampak Vulkanik Merapi, MDMC Bantu Petani-Peternak
TABLOIDMATAHATI.COM, MAGELANG– Gunung Merapi kembali erupsi dengan mengeluarkan awan panas pada 11 Maret 2023. Dijelaskan Wakil Sekretaris LRB PP Muhammadiyah (MDMC), Budi Santoso, berdasarkan Laporan Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) luncuran awan panas mengarah ke sungai Bebeng dan Krasak Kabupaten Magelang.
Melihat perkembangan tersebut, kata Budi Santoso, Lembaga Resiliensi Bencana (LRB) Pimpinan Pusat Muhammadiyah atau yang dikenal sebagai Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) mengkoordinasikan potensinya untuk membantu masyarakat. Wakil Ketua MDMC PP Muhammadiyah, Naibul Umam, menyatakan bahwa sistem kesiapsiagaan relawan bersama masyarakat sudah dibangun cukup lama sejak naiknya status Gunung Merapi dari waspada ke siaga.
“MDMC Jawa Tengah dan DIY dari awal sudah memiliki perencanaan kesiapsiagaan sejak naiknya status Merapi menjadi siaga di tahun 2020 sampai sekarang. MDMC sudah membuka pos koordinasi dan pos pelayanan yang sampai sekarang masih buka. Artinya ketika ada kejadian erupsi baik itu erupsi freatik atau erupsi yang lebih besar sudah siap,” ujar Umam.

Menurut Umam, yang perlu diperhatikan adalah dampak luncuran awan panas sejauh 4 km dan juga munculnya abu vulkanik. Terdapat empat kecamatan yang terdampak sebaran abu vulkanik cukup berat yaitu kecamatan Sawangan, Dukun, Tegalrejo dan Candimulyo di Kabupaten Magelang.
Ada 20.000 masker yang sudah diberikan ke masyarakat dari mulai Kecamatan Dukun, Kecamatan Sawangan, Tegalrejo dan Kecamatan Candimulyo sampai dengan di kota Magelang. Respon darurat yang lainnya adalah membagikan google atau kacamata safety kepada warga seperti petani yang sawah dan kebunnya berada di lereng Merapi.
Saat ini tim MDMC terus melakukan pemantauan pada pos pelayanan di Desa Dukun, Desa Sawangan serta pos koordinasi di Magelang. Dari hasil asesment relawan pada tanggal 11 dan 12 Maret 2023, sebaran abu vulkanik berdampak kepada kesehatan manusia juga ternyata berpengaruh kepada ternak. Kata Naibul Umam, persediaan rumput sebagai sumber pakan ternak mulai menipis karena banyak terkena abu vulkanik, sehingga tidak layak dikonsumsi. Selain dampak kepada peternak, ditemukan tim MDMC adanya dampak pada keberlanjutan hidup bagi petani di lereng Merapi.
Karena banyak tanaman yang rusak karena abu vulkanik yang menempel di tanama. Contohnya terjadi pada petani kembang kol yang harus memanen lebih cepat karena takut rusak dan ketika dijual hasilnya sangat tidak sesuai harga jual semestinya.
Oleh karena itu yang mendesak dilakukan adalah solusi untuk membantu petani dan peternak di desa-desa terdampak tersebut. Komoditas pertanian warga yang terdampak itu adalah cabe, kembang kol dan tomat.
Perlunya distribusi bantuan air karena beberapa daerah sudah mulai kesulitan air, baik air untuk kebutuhan harian maupun untuk membersihkan lingkungan sekitar dari debu.
Masih kata Umam, MDMC juga mensiagakan relawan untuk daerah Klaten, Boyolali dan Sleman walaupun dampak erupsinya belum begitu serius. Warga diminta mengakses informasi dari sumber yang tepat seperti informasi dari BPPTKG.
Untuk daerah Boyolali ada beberapa desa yang di kawasan Tlogolele dan daerah Kecamatan Jrakah ada beberapa kawasan yang terdampak abu vulkanik. (rilis: riz/editor: doni osmon)
