Rakerwil LRB PWM DIY Wujudkan Muhammadiyah Tangguh Bencana
TABLOIDMATAHATI.COM, JATENG-Lembaga Resiliensi Bencana Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Daerah Istimewa Yogyakarta (LRB PWM DIY) menyelenggarakan Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) di Aula Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Kampus 4 pada Sabtu (12/08). Kegiatan ini dihadiri oleh Ketua LRB PP Muhammadiyah (Budi Setiawan), Wakil Ketua PWM Membidangi LRB (dr. Ahmad Faesol, Sp.RAD, M.Kes.), Rektor UAD (Dr. Muchlas, M.T.), Perwakilan LLHPB PWA DIY, Pusat Studi Lingkungan dan Bencana UAD, Pusat Studi Perempuan, Keluarga dan Bencana UNISA, dan perwakilan Pimpinan LRB PDM se – DIY.
Indrayanto, Ketua Lembaga Resiliensi Bencana (LRB) PWM DIY, mengawali sambutan dengan mengucapkan terima kasih kepada UAD melalui Dr. Muchlas, M.T., Rektor UAD, atas kesediaannya menjadikan kampus UAD sebagai lokasi Rakerwil LRB PWM DIY.
Selanjutnya, ia memberikan pengantar bahwasanya hari ini akan menjadi kesempatan untuk mendiskusikan program kerja untuk dikerjakan, beserta program prioritas. “Tentunya, apa yang akan kita bahas merupakan wujud turunan dari Musywil di mana visi pengembangan bidang resiliensi menjadi sebuah dasar atau rujukan,” ujarnya.
Rakerwil kali ini agak berbeda dibandingkan sebelumnya karena ada kehadiran Lembaga Lingkungan Hidup dan Penanggulangan Bencana (LLHPB) Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah Aisyiyah di DIY, yang kedepan akan berkolaborasi dalam kerja-kerja resiliensi yang diakukan di wilayah DIY. “Kita juga mendatangkan Pusat Studi Bencana untuk bersama-sama mewujudkan One Muhammadiyah, One Resiliensi yang akan kita diskusikan hari ini,” ujarnya.
Dr. Muchlas, M.T., Rektor UAD, menyampaikan bahwa ini kali pertama LRB—yang sebelumnya dinamai Lembaga Penanggulangan Bencana—mengadakan RAKERWIL di lingkungan kampus UAD, tepatnya kompleks Islamic Center UAD. Ia mengapresiasi penamaan resiliensi yang di dalamnya telah mencakup penanggulangan dan mitigasi bencana. “Ini selaras dengan perkembangan zaman yang saat ini telah memasuki digitalisasi, tepatnya Revolusi Industri 5.0 yang memiliki tiga ciri khas. Pertama, adanya kolaborasi efektif dan efisien antara manusia dengan smart machine. Kedua, adanya aspek keberlanjutan. Ketiga, adanya faktor resiliensi yang semangatnya telah dimiliki oleh teman-teman di LRB PWM DIY,” ujarnya.
Dr. Muchlas juga menyampaikan harapannya agar LRB PWM DIY dapat bersinergi dengan Fakultas Kedokteran UAD di mana terdapat konsentrasi keunggulan mengenai penanggulangan kebencanaan. “UAD juga memiliki berbagai mitra di luar negeri yang harapannya dapat terlibat dalam kolaborasi dengan LRB, mengingat terdapat para mitra UAD yang memiliki fokus dalam penanggulangan kebencanaan di lingkungan perguruan tinggi,” lanjutnya.
Ketua LRB PP Muhammadiyah, H. Budi Setiawan, S.T. dalam kesempatan tersebut menyampaikan sambutan sekaligus membuka kegiatan Rakerwil LRB PWM DIY. Ia sedikti mengenai penggantian nama dari Lembaga Penanggulangan Bencana menjadi Lembaga Resiliensi Bencana. “Artinya, kita perlu tangguh secara dinamis. Tidak hanya bertahan dalam kebencanaan yang terjadi, tetapi juga mengurangi, menghindari, dan mencegah bencana. Kita tetap bisa bertahan melaluinya dengan baik. Itulah contoh sikap resiliensi, di mana kita telah tahu dan siap mengenai apa yang harus dilakukan sebelum ‘bencana’ itu terjadi,” ujarnya.
Budi Setiawan menindaklanjuti ajakan kolaborasi dengan UAD yang disampaikan oleh Dr. Muchlas dalam sambutannya tadi. “Pusat-pusat studi di perguruan tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (PTMA) beserta organisasi-organisasi otonom (ortom) mempunyai kekuatan yang luar biasa, terutama dalam sisi keilmuan. Ini penting bagi kunci kerja sama untuk dilakukan oleh LRB PWM DIY. Ada koneksi sosial yang terhubung dengan baik, sehingga ada kohesi yang kuat maka penting membangun koneksi dan kohesi sosial untuk ketangguhan.” ujarnya. (adaptasi bulletinslemen.com/rilis: grup media afiliasimu/editor: hamara)
