PMM Mitra Dosen Prodi Akuakultur UMM, Tingkatkan Sistem Budidaya Ikan Nila
TABLOIDMATAHATI.COM, MALANG – Prodi Akuakultur Fakultas Pertanian Peternakan Universitas Muhammadiyah Malang (FPP UMM) menjalankan Pengabdian Masyarakat Mahasiswa (PPM) Mitra Dosen Prodi Akuakultur pada kelompok pembudidaya ikan Gemari Jaya di Desa Jedong, Kecamatan Wagir, Kabupaten Malang pada (28/6).
Menurut Dosen Pendamping Lapang (DPL) sekaligus Kaprodi Akuakultur UMM, Dr. Hany Handajani, S.Pi, M.Si, program ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan kapasitas budidaya terkhusus pada ikan Nila serta meningkatkan produksinya dengan sistem yang lebih mudah.

Dijelaskan Hany, kelompok pembudidaya ikan Gemari Jaya berdiri sejak tahun 2019 dan sampai saat ini beranggotakan 11 orang. Permasalahan yang seringkali dihadapi oleh kelompok Gemari Jaya, seperti yang disampaikan Prawoto, S.Sos, selaku perwakilan, diantaranya belum diterapkannya manajemen budidaya ikan secara baik.
Sehingga biaya produksi tidak terukur dan kapasitas produksi tidak tercapai. Selain itu persoalan biaya pakan yang tinggi, sehingga keuntungan yang didapat sangat minimalis atau bisa juga balikn modal.

Sebagai DPL PPM Mitra Dosen prodi Akuakultur, Hany menyebutkan saat pengabdian dibantu kelompok mahasiswa yang tergabung dalam program pengabdian yaitu Brilliantino Fiqry, Muhammad Yusuf Adhitya, Sinka Hamada, Muhamad Iqbaludin, dan Nabila Okta Viana.
Selain itu mereka para mahasiswa prodi Akuakultur ini juga dibantu oleh Kepala Laboratorium Perikanan UMM sekaligus dosen akuakultur, Ganjar Adhywirawan S.Pi, MP.

Selama satu bulan tim PMM Mitra dosen dan pendamping melaksanakan program dalam dua tahapan. Yakni tahap pelaksanaan program dan tahap pendampingan program.
Pada tahap pelaksanaan program dilakukan pelatihan manajemen budidaya ikan Nila. Tahap ini dilaksanakan di salah satu rumah pembudidaya. Saat itu para dosen dan mahasiswa menyampaikan materi seperti peluang usaha budidaya ikan Nila, manajemen budidaya ikan Nila, dan budidaya ikan Nila dalam ember (budikdamber).

Dilanjutkan pada tahap pendampingan, lanjut Hany, yang terdiri dari pendampingan manajemen kualitas air, manajemen wadah, dan penerapan budikdamber. Pada pendampingan manajemen kualitas air dilakukan guna mencegah timbulnya serangan penyakit yang disebabkan oleh jamur, bakteri, dan virus dengan empat cara.
Yaitu pengendapan air, pemberian probiotik berbasis herbal, pengukuran dan monitoring mulai suhu, Ph, dan kadar amoniak, serta terakhir monitoring kesehatan ikan. Diikuti dengan manajemen wadah yang menggunakan sistem budidaya semi intensif dalam bentuk yang lebih portable.
Pelatihan juga terkait pendampingan cara budikdamber yang memiliki kelebihan. Sebab selain dapat budidaya ikan Nila juga bisa digunakan menanam sayuran seperti kangkung dan selada dalam ember.

Nah, tandas Hany setelah mencapai waktu tertentu dilakukan evaluasi bersama DPPM UMM. Berdasarkan hasil evaluasi menunjukan angka peningkatan dari 50 persen meningkat menjadi 80 persen baik kapasitas produksi ikan Nila maupun waktu produksi budidaya ikan Nila.
Awalnya 6-7 bulan dapat dicapai pada 5-6 bulan produksi budidaya. Langkah selanjutnya yang bisa dilakukan oleh pembudidaya adalah tetap melaksanakan sistem budidaya yang sudah diajarkan dan melakukan pengembangan pada komoditas lain seperti ikan koi dan gabus. (reporter: hamara/editor: doni osmon)
