Muhisa Scholarship Award, MoU Beasiswa-Kuliah Kerja ke Jepang
TABLOIDMATAHATI.COM, MALANG-Ketua Majelis Dikdasmen (Pendidikan Dasar Menengah) PWM Jatim, Dr. Khozin, secara simbolik melepas keberangkatan angkatan ke X akhir Maret berangkat ke Jepang sementara disusul angkatan XI berangkat ke Jepang pada bulan Oktober nanti. Mereka adalah alumni SMK Muhammadiyah 1 Malang populer disebut SMK Muhisa vokasi internasional bidang kerja sama luar negeri.
Ustadz Khozin-begitu Dr. Khozin disapa-simbolik memberikan paspor kepada para alumni SMK Muhisa apresiasi menyampaikan sambutan bahwa kuliah dan kerja di Jepang merupakan bentuk dari hijrah. Hijrah maknanya bisa berubah kepada sesuatu yang lebih baik, juga bisa berpindah ke satu tempat ke tempat lain untuk meraih maju dan berkembang.

Seperti yang dilakukan para alumni SMK Muhisa Malang ini yang hijrah ke Jepang untuk meraih sukses. Negeri sakura Jepang merupakan negeri yang lokasinya tidak jauh hanya butuh waktu 7 jam dari Jakarta. Selama berada di Jepang untuk selalu menjaga ibadah serta berperilaku baik seperti keluarga besar di SMK Muhisa ini.
“Bahkan kami berfikir di Jepang nanti ada rest area-area semisal mushalla, yang menunggu rest area atau marbotnya adalah orang dari Indonesia. Mereka selain bekerja dan kuliah juga menjadi muadzin dan semisalnya. Sebab di Jepang juga sudah banyak warga muslimnya,” ujar Dekan Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini.

Ustadz Khozin menegaskan bahwa alumni SMK Muhisa yang berkerja dan kuliah di Jepang dikirim sebagai pekerja terampil. Itu sebabnya bisa kuliah dan bekerja. Termotivasi dari ini, jika ada siswa yang ingin hijrah ke Jepang, para orang tua untuk ikhlas jangan ditahan anaknya untuk berkembang dan meraih kesuksesan seperti testimoni para alumni melalui saluran video call yang disaksikan secara bersama tadi.
Farhan Maulana Nur Hidayatullah sebagai perwakilan SMK Muhisa yang sukses berkarir di Jepang memberikan testimoni via video call dari Jepang merasa beruntung dapat meniti karir di Jepang melalui SMK Muhisa. Pertama tidak melalui lembaga penyalur tenaga kerja, kedua gajinya utuh, dan ketiga biaya keberangkatan tidak besar, ke-empat bisa kuliah dan bekerja.

Seperti saat ini ketika dirinya libur kuliah, digunakan Farhan untuk bekerja gajinya mencapai Rp 20 juta per bulan. Jika hari biasa kuliah sambil bekerja gajinya Rp. 11 juta per bulan. Sudah cukup untuk biaya hidup serta mengirimi orang tua.
Selama berada di Jepang, kata Farhan masyarakatnya sangat ramah dan peduli sosial. Itu sebabnya dirinya memotivasi bagi siswa yang ingin berangkat ke Jepang untuk tetap giat belajar sebab semua ilmu tersebut nanti akan dipakai saat berada di Jepang. Terutama kedisiplinan, tepat waktu, serta tidak boleh boros.

Dirinya merasa beruntung dan bangga dengan SMK Muhisa dikarenakan SMK Muhisa menyediakan kursus Bahasa Jepang secara gratis tidak mencari kursus Bahasa Jepang sendiri.
“Prinsipnya bagi para siswa yang ingin kuliah-kerja di Jepang, kami yang sudah berada di Jepang siap membantu untuk kesuksesan bersama SMK Muhisa,” pungkasnya.
Sementara itu, Kepsek SMK Muhisa, Drs. Arif Efendi, mengatakan program kuliah-kerja di Jepang ini langsung bersama Alice International Collage (AIC) sebagai pengguna tenaga kerja terampil yang dikirim SMK Muhisa. Sukses menjaga kualitas serta kredibilitas kedua lembaga ini, terbaru ada penawaran dari pemilik rumah sakit di Jepang siap memberangkatkan alumni SMK Muhisa secara gratis. (doni osmon)
