Melalui ICOHIT UMLA Hadirkan Pakar Rusia, Bahas Teknologi Deteksi Dini Kolesterol Turunan
LAMONGAN – Di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital, kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) diyakini akan menjadi salah satu senjata paling efektif dalam menyelamatkan jutaan nyawa dari ancaman penyakit jantung. Pesan tersebut disampaikan oleh Yulia A. Smolkina, pakar kesehatan masyarakat dan transformasi digital dari National Medical Research Center for Therapy and Preventive Medicine, Kementerian Kesehatan Rusia, saat menjadi pembicara utama pada The 1st International Conference on Health Innovation and Technology (ICOHIT) 2026 yang diselenggarakan Universitas Muhammadiyah Lamongan.
Dalam paparannya yang memadukan ilmu kedokteran, teknologi digital, dan kebijakan kesehatan, Smolkina mengajak peserta melihat penyakit jantung dari perspektif yang berbeda. Menurutnya, persoalan terbesar bukan hanya tingginya angka kematian akibat penyakit kardiovaskular, melainkan masih banyaknya penderita kelainan kolesterol genetik yang tidak pernah terdiagnosis hingga mengalami serangan jantung atau stroke. Banyak pasien sebenarnya telah membawa risiko tersebut sejak lahir, tetapi belum teridentifikasi oleh sistem kesehatan.
Smolkina kemudian memperkenalkan Familial Hypercholesterolemia (FH), salah satu bentuk dislipidemia turunan yang menyebabkan kadar kolesterol jahat (LDL) meningkat sejak usia dini akibat faktor genetik. Berbeda dengan kolesterol yang dipengaruhi pola makan, penyakit ini diwariskan dalam keluarga sehingga sering kali menyerang individu yang tampak sehat. Tanpa deteksi dan penanganan sejak awal, kondisi tersebut dapat memicu penyakit jantung pada usia produktif.
Salah satu sesi yang paling menyita perhatian peserta adalah ketika Smolkina memaparkan bagaimana Artificial Intelligence (AI) mampu merevolusi proses deteksi dini penyakit. Melalui proyek FIND FH, jutaan rekam medis dianalisis menggunakan algoritma AI untuk mengidentifikasi individu yang berpotensi mengalami Familial Hypercholesterolemia. Teknologi tersebut tidak hanya membaca hasil pemeriksaan laboratorium, tetapi juga mengenali pola-pola klinis yang sulit dideteksi melalui metode skrining konvensional. Pendekatan ini dinilai mampu mempercepat diagnosis sekaligus meningkatkan ketepatan dalam menemukan pasien yang selama ini luput dari perhatian sistem kesehatan.
Tidak hanya membagikan pengalaman dari Rusia, Smolkina juga melihat peluang besar yang dimiliki Indonesia. Menurutnya, berbagai infrastruktur digital kesehatan seperti SatuSehat, layanan telemedisin, hingga program Cek Kesehatan Gratis merupakan fondasi yang sangat kuat untuk membangun sistem deteksi dini berbasis data. Dengan memanfaatkan infrastruktur yang telah tersedia, Indonesia dinilai memiliki peluang besar untuk mengembangkan registri nasional penyakit kolesterol turunan tanpa harus membangun sistem baru dari awal.
Sebagai rekomendasi, Smolkina mengusulkan pengembangan registri nasional yang dilakukan secara bertahap, dimulai dari optimalisasi data laboratorium yang telah tersedia, dilanjutkan dengan pembangunan basis data kesehatan yang terintegrasi, hingga penerapan kecerdasan buatan untuk melakukan pencarian kasus secara otomatis dalam skala nasional. Strategi tersebut diyakini mampu mempercepat penemuan kasus, meningkatkan efisiensi pelayanan kesehatan, sekaligus memperkuat upaya pencegahan penyakit kardiovaskular di Indonesia.
Penyelenggaraan The 1st International Conference on Health Innovation and Technology (ICOHIT) 2026 menjadi momentum penting bagi Universitas Muhammadiyah Lamongan dalam mempertemukan akademisi, peneliti, tenaga kesehatan, praktisi, dan pembuat kebijakan dari berbagai negara untuk berbagi inovasi serta pengalaman dalam pengembangan sistem kesehatan berbasis teknologi. Forum ilmiah ini tidak hanya menjadi ajang pertukaran pengetahuan, tetapi juga membuka peluang kolaborasi internasional dalam pengembangan riset dan inovasi kesehatan.
Melalui kehadiran pembicara internasional seperti Yulia A. Smolkina, peserta memperoleh wawasan baru bahwa transformasi digital dan kecerdasan buatan bukan lagi sekadar tren teknologi, melainkan kebutuhan nyata dalam membangun sistem kesehatan yang lebih cepat, lebih akurat, dan lebih berorientasi pada pencegahan. Semangat kolaborasi yang terbangun dalam ICOHIT 2026 diharapkan mampu melahirkan berbagai inovasi yang memberikan kontribusi nyata bagi peningkatan kualitas pelayanan kesehatan, baik di Indonesia maupun di tingkat global. (penulis: sulistiyowati)
