LBSO PP ‘Aisyiyah Screening Film Siti Walidah
TABLOIDMATAHATI.COM, YOGYAKARTA – Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah melalui Lembaga Budaya, Seni, dan Olahraga (LBSO) gelar Bedah Buku dan Private Screening Film Dokumenter Siti Walidah pada Rabu (28/8/25). Kegiatan yang berlangsung di Amphiteater Museum Muhammadiyah ini dihadiri oleh 200 orang yang merupakan para senior ‘Aisyiyah, Dinas Kebudayaan DIY, sejarawan, keluarga Siti Walidah, keluarga pahlawan nasional, keluarga penulis buku Siti Walidah, warga Desa Batur serta Pasuruan yang menjadi lokasi pengambilan film, dan tamu undangan lain.
Ketua LBSO PP ‘Aisyiyah, Widiyastuti menyampaikan bahwa film dokumenter ini disusun berdasarkan fakta, data, dokumen, tradisi lisan, dan memori kolektif. “Semua berbasis pada hal yang bisa dipertanggung jawabkan secara ilmiah,” ucapnya. Untuk merangkum semua data yang sudah dikumpulkan maka LBSO mengemasnya dalam bentuk film dokumenter dan buku. Pada kesempatan ini LBSO dipercaya membuat dokumentasi karya pengetahuan maestro kerjasama dengan kementrian kebudayaan melalui dana Indonesiana
Perempuan yang akrab disapa Wiwied ini menyampaikan bahwa ada banyak pembaharuan yang dilakukan LBSO baik dalam film maupun buku. Buku Siti Walidah ini disebut Wiwied dikembangkan dari buku sebelumnya yang pernah terbit tahun 90-an karya Bapak Suratmin (Alm).”Terimakasih kepada Pak Suratmin yang diwakili keluarga telah mengizinkan kami mengembangkan buku Siti Walidah yang pernah ditulis beliau sehingga kami tidak terlalu banyak kesulitan memulainya, kami menambahkan dengan data dan fakta yg kami kumpulkan,” ucapnya
Film ini disebut Wiwied merupakan kado LBSO bagi ‘Aisyiyah yang kini telah memasuki usia 108 tahun. Melalui film ini masyarakat akan belajar bagaimana gerak perjuangan seorang perempuan bagi masyarakat dan bangsanya. Mulai dari berdakwah hingga pelosok dengan berkuda, memperhatikan pendidikan anak usia dini, menggaungkan pemberantasan buta aksara di tengah keterbatasannya, mempimpin kongres yang pesertanya adalah laki-laki hingga menjadi pemberitaan media luar negeri pada masa itu.
“Siti Walidah bukan hanya inspirasi bagi kita, tetapi secara nasional adalah inspirasi bangsa Indonesia,” tegas Wiwied. Semangat Siti Walidah untuk bergerak membawa kemajuan ini menurut Wiwied menggambarkan kalimatnya yang membawa inspirasi bagi semua perempuan yakni “Perempuan janganlah berjiwa kerdil tetapi berjiwa Srikandi”
Lebih lanjut Wiwied menyampaikan bahwa LBSO ingin agar sosok Siti Walidah dapat dikenal tidak hanya oleh warga persyarikatan, tidak hanya oleh warga Indonesia tetapi juga oleh warga internasional. Sehingga ia harapkan warga persyarikatan dapat bersabar untuk menyimak film Siti Walidah ini hingga tahun depan karena LBSO mengupayakan agar dapat masuk ke festival film internasional terlebih dahulu.
Ketua PP ‘Aisyiyah, Siti Aisyah menyampaikan apresiasi, penghargaan dan ucapan terimakasih kepada LBSO yang telah menghadirkan karya istimewa yakni film dan buku yang dihasilkan setelah melalui proses yang cukup panjang. Pendokumentasian ini disebut Aisyah sangat penting karena tradisi lisan selain bisa berkembang tetapi juga bisa terdistorsi. “Mumpung saksi sejarah masih ada dan masi kuat dalam ingatan maka itu perlu dituliskan, ini juga termasuk unggulan program LBSO yakni literasi,” terangnya.
Film dan buku ini disebut Aisyah juga merupakan bagian dari upaya untuk mengimplementasikan visi pengembangan ‘Aisyiyah 2022-2027 yakni tercapainya usaha-usaha ‘Aisyiyah yang mengarah pada penguatan, pengembangan, peningkatan kualitas, serta perluasan dakwah pencerahan dan tajdid untuk mencapai tujuan organisasi. “Jelas melalui film, melalui buku, dakwah ini akan meluas seluas jangkauan literasi itu sehingga ini merupakan bagian sangat penting dalam mengimplementasikan visi. (putri/rilis grup media afiliasimu)
