LazisMu Lampung Program Zakat Produktif Berbasis Desa, Wujudkan Mustahik Jadi Muzakki
TABLOIDMATAHATI.COM, LAMPUNG– Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) Lembaga Amil Zakat, Infaq, dan Shadaqah Muhammadiyah (LAZISMU) Lampung resmi ditutup. Dalam pidato penutupannya, Ketua LAZISMU Wilayah Lampung, Prof. Syafrimen, M. Ed., Ph.D., menegaskan bahwa forum ini bukan sekadar rutinitas administratif, melainkan momentum tanfiz atau pelaksanaan nyata nilai amanah menuju tahun 2026.
Prof. Syafrimen menekankan pentingnya pergeseran paradigma dalam pengelolaan zakat. Menurutnya, Rencana Strategis (Renstra) dan Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja (RAPB) tidak boleh hanya menjadi dokumen mati di atas kertas. “Zakat bukan hanya sekadar dana yang dihimpun, melainkan energi peradaban yang harus dikelola dengan niat ibadah dan orientasi kemaslahatan umat yang nyata,” ujar Prof. Syafrimen dalam sambutannya, akhir tahun 2025 di SD IT Muhammadiyah Gunung Terang, Bandar Lampung
Dalam pemaparannya, ia menyoroti pentingnya integrasi sebagai kunci dampak dan keberlanjutan lembaga. Ia menyerukan semangat “satu gerak, satu nafas, satu dampak” di seluruh struktur LAZISMU, mulai dari tingkat Wilayah, Daerah, hingga Kantor Layanan. “Integrasi data muzakki dan mustahik, serta integrasi program sosial, pendidikan, ekonomi, dan kemanusiaan harus menjadi budaya kerja. Dengan integrasi, LAZISMU Lampung hadir sebagai sistem yang kokoh, bukan sekadar kumpulan kegiatan yang terpisah-pisah,” tegasnya.
Lebih lanjut, Prof. Syafrimen mendorong lahirnya inovasi sosial yang tidak hanya kreatif, tetapi benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat bawah. Ia mencontohkan program zakat produktif berbasis warga (desa) dan masjid, serta penguatan Sekolah Kader Amil Berkemajuan sebagai prioritas.
Target utamanya adalah transformasi status sosial ekonomi penerima manfaat. “Inovasi kita harus mengangkat martabat, bukan hanya menyentuh kebutuhan sesaat. Kita harus mendampingi mustahik hingga mereka mampu menjadi muzakki,” imbuhnya.
Menutup arahannya, Prof. Syafrimen mengingatkan seluruh amil bahwa setiap rupiah dalam RAPB adalah titipan Allah dan umat yang wajib dikelola secara transparan dan berbasis dampak (outcome), bukan sekadar laporan distribusi (output).
Ia berpesan agar LAZISMU tidak kehilangan ruh utamanya sebagai gerakan moral dan spiritual. “LAZISMU harus ikhlas dalam niat, teguh dalam amanah, lembut kepada mustahik, namun tegas dalam menjaga kepercayaan umat. Cita-cita kita adalah menjadi lembaga yang tidak hanya aktif, tetapi dipercaya umat, dirujuk persyarikatan, dan dirasakan manfaatnya secara luas,” pungkas Prof. Syafrimen.
Rakerwil ini diharapkan menjadi titik tolak bagi LAZISMU Lampung untuk bekerja lebih strategis, sistematis, dan berjiwa profetik dalam menyongsong tantangan kemanusiaan di masa depan. (syafrimen/tri priyo saputro/rilis grup media afiliasimu)
