Jatam Lampung Tengah Panen Perdana Padi Mentari
TABLOIDMATAHATI.COM, LAMPUNG TENGAH – Upaya menciptakan varietas padi unggul lokal yang adaptif terhadap perubahan iklim dan kondisi tanah terus digencarkan oleh masyarakat petani. Hal ini dibuktikan melalui kesuksesan panen perdana padi galur Mentari yang menjadi bagian dari tahapan uji multilokasi di Kampung Mojopahit, Kecamatan Punggur, Kabupaten Lampung Tengah, pada Ahad 1 Maret 2026. Kegiatan panen ini bukan sekadar rutinitas agrikultur biasa, melainkan tonggak awal yang krusial dalam rangkaian evaluasi panjang guna mengukur tingkat produktivitas serta daya adaptasi galur Mentari, sebelum nantinya diajukan untuk ditetapkan secara resmi sebagai varietas padi yang diakui.
Pelaksanaan panen bersejarah tersebut dilangsungkan di hamparan lahan garapan milik Buang Sutrisno, seorang petani lokal yang selama satu musim tanam penuh telah dipercaya untuk memelihara dan merawat padi galur Mentari dalam tahap uji coba ini. Dedikasi Buang Sutrisno dalam mengawasi perkembangan tanaman dari masa semai hingga bulir-bulir padi menguning menjadi kunci keberhasilan panen hari itu. Program penanaman uji coba ini sendiri diinisiasi serta digerakkan secara langsung oleh Ketua Jaringan Tani Muhammadiyah (JATAM) Lampung Tengah, Agung Sarwono. Langkah ini diambil sebagai manifestasi nyata dari upaya berkesinambungan untuk mendorong inovasi pertanian yang berbasis pada kekuatan komunitas, sekaligus sebagai strategi dalam memperkuat fondasi kemandirian para petani di tingkat akar rumput.
Dalam momen panen perdana yang dihadiri oleh berbagai elemen masyarakat tersebut, Agung Sarwono memberikan penjelasan mendalam mengenai urgensi pelaksanaan uji multilokasi. Ia menegaskan bahwa tahapan ini memiliki peran yang sangat fundamental dan tidak boleh dilewatkan dalam memastikan apakah padi galur Mentari benar-benar mampu beradaptasi dengan baik terhadap karakteristik tanah, ketersediaan air, maupun dinamika cuaca yang spesifik di wilayah Lampung Tengah. “Uji multilokasi ini esensinya bukan sekadar menanam padi lalu memanennya, tetapi secara ilmiah menguji konsistensi hasil panen, tingkat ketahanan tanaman terhadap hama dan penyakit, serta respons genetis tanaman terhadap lingkungan sekitarnya,” ujar Agung.
Lebih lanjut, Agung Sarwono mengungkapkan rasa syukurnya atas capaian pada tahap awal ini. Menurutnya, keberhasilan padi galur Mentari tumbuh subur di lahan milik Buang Sutrisno memberikan sinyal yang sangat positif bagi masa depan ketahanan pangan lokal. “Hasil panen perdana hari ini cukup menggembirakan, baik dari segi kuantitas gabah maupun kualitas bulir yang dihasilkan. Pencapaian ini tentunya akan menjadi modal data yang sangat berharga sekaligus pijakan yang kuat untuk melangkah ke proses lanjutan, sebelum pada akhirnya galur ini benar-benar layak ditetapkan sebagai varietas unggul yang bisa didistribusikan,” tambahnya dengan penuh optimisme.
Kegiatan agrikultur yang bernilai strategis ini turut mendapat perhatian khusus dengan hadirnya Eddy Waluyo, figur yang akrab disapa Gus Wal, selaku Ketua Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Lampung. Dalam pandangannya, Gus Wal menilai bahwa agenda penguatan sektor pertanian tidak bisa lagi dilakukan secara sporadis atau individual. “Penguatan ini harus dibangun secara terstruktur melalui kolaborasi sinergis lintas elemen. Sinergi ini mutlak membutuhkan keterlibatan aktif mulai dari para petani sebagai praktisi utama, para penggerak di lapangan, hingga dukungan regulasi dari berbagai organisasi kemasyarakatan,” pungkasnya.
Ia juga menegaskan dukungan kemandirian dan inovasi bagi petani. “Pertanian adalah fondasi utama dari kemandirian sebuah daerah maupun bangsa. Inisiatif-inisiatif inovatif dari bawah seperti ini perlu terus didorong dan difasilitasi, agar ke depan para petani kita memiliki lebih banyak pilihan galur unggul yang pada akhirnya bisa berkembang menjadi varietas tangguh sesuai dengan kebutuhan agroekosistem masing-masing,” tegas Gus Wal.
Dukungan serupa juga mengalir dari tokoh-tokoh lokal yang hadir, di antaranya Sugiyanto selaku anggota Pleno PDM Lampung Tengah, serta Dian Putera Agrika, Ketua MPM PDM Lampung Tengah. Keduanya menyampaikan komitmen penuh terhadap pengembangan benih unggul yang proses evaluasinya melibatkan partisipasi langsung para petani.
Di tengah optimisme keberhasilan panen, perspektif mengenai keberlanjutan lingkungan turut disuarakan dengan lantang oleh Roeslan, Ketua Kelompok Tani Berkemajuan yang selama ini dikenal konsisten pada pengembangan praktik pertanian organik. Roeslan memberikan catatan penting bahwa dalam proses pengembangan benih baru. “Aspek ekologi tidak boleh dikesampingkan demi mengejar kuantitas hasil semata. Penting menjaga harmoni dan keseimbangan ekosistem alam dalam setiap tahapan metamorfosis pengembangan sebuah galur sebelum disahkan menjadi varietas baru yang akan ditanam secara massal,” jelasnya.
Ia juga mengungkapkan harapannya terhadap galur Mentari tersebut dapat berstatus varietas resmi dan diakui. “Kami memiliki harapan besar agar galur Mentari yang sedang diuji coba ini, ketika nanti telah berstatus sebagai varietas resmi, perawatannya tetap sejalan dengan prinsip-prinsip praktik pertanian organik. Syarat mutlaknya adalah tanah agrikultur harus tetap dijaga kesehatannya, hasil panen yang didapat berkualitas tinggi, sehingga muaranya petani semakin sejahtera,” ungkap Roeslan.
Ke depan, panen perdana ini diproyeksikan menjadi batu loncatan yang esensial bagi perluasan lokasi uji multilokasi galur Mentari ke berbagai tipologi lahan lain di Lampung Tengah, demi memastikan kelayakannya sebagai tulang punggung baru penyokong ketahanan pangan daerah. (pri/tri priyo saputro/mpm pwm lampung/rilis grup media afiliasimu)
