Ibrah Isra’ Mi’raj Dikupas Ustadz Suwito di Masjid Ki Bagus Hadikusumo UMLA
TABLOIDMATAHATI.COM, LAMONGAN-Ibrah peristiwa Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW, disampaikan oleh Suwito Abu Kayyis MPdi pada kajian setelah sholat duhur Masjid KI Bagus Hadikusumo Universitas Muhammadiyah Lamongan (Umla), Selasa (21/2/2023).
Di awal, Suwito Abu Kayyis mengatakan Isra’ mi’raj itu benar terjadi dan didasarkan pada Al Quran. Namun kapan terjadinya peristiwa ini, tanggal dan bulannya itu dirahasiakan oleh Allah SWT berdasarkan ilmu dan hikmahnya.
“Jadi, ketika Allah dan Rasulnya tidak menyebut hari dan tanggal pada peristiwa besar. Maka peristiwa itu tidak begitu besar manfaat bagi manusia,” ujarnya.
Kemudian, dia mengibaratkan jumlah Ashabul kahfi. Ada yang menyebut empat bersama anjingnya, Ada yang menyebut lima bersama anjingnya.
Jadi, jumlah pemuda Ashabul kahfi yang ditidurkan oleh Allah selama ratusan tahun di gua, tidak disebutkan dan dirahasiakan oleh Allah. Yang sama dengan Isra’ mi’raj.
Kemudian Suwito Abu Kayyis mengutip Qs. al Isra’ ayat 1:
سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ
Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.
Kemudian, Ustadz Suwito-panggilan akrabnya- menceritakan Isra mi’raj. Sebelum Rasulullah di Isra’ mi’raj kan oleh Allah.
Rasulullah itu tidur di masjidil Haram.
Kemudian datang seseorang, dan mengangkat beliau ke makam Ibrahim, kemudian direbahkan dan dada Rasulullah itu dibelah, dan isinya dikeluarkan, kemudian disucikan dengan air zam zam, sifat jelek dan tercelah di buang dan dimasukkan ilmu dan hikmah di dada Rasulullah SAW.
“Kemudian datanglah binatang buroq. Buraq digambarkan memiliki tubuh seperti kuda putih dengan sayap dan ekor burung merak,” jelasnya.
Peristiwa Isra’ ini, kata Ustadz Suwito, merupakan perjalanan Nabi Muhammad SAW dari Kabah di Mekkah ke Masjid Al Aqsa yang berada di Yerusalem. Saat itu, perjalanan dari Kabah ke Masjid Al Aqsa dapat ditempuh dengan kuda atau unta selama satu bulan.
“Namun, Nabi Muhammad SAW dapat menempuh perjalanan tersebut hanya dalam satu malam. Di perjalanan tersebut, Nabi Muhammad SAW mengendarai hewan bernama Buraq,” lanjutnya.
Kemudian Mi’raj merupakan perjalanan Nabi Muhammad dari Masjid Al Aqsa menujut ke langit ketujuh atau Sidratul Muthana.
“Di tiap tingkatan langit tersebut, Nabi Muhammad SAW bertemu dengan nabi-nabi terdahulu. Nabi-nabi tersebut di antaranya: Nabi Adam di langit pertama. Nabi Isa dan Yahya di langit kedua. Nabi Yusuf di langit ketiga. Nabi Idris, di langit keempat. Nabi Harun di langit kelima. Nabi Musa di langit keenam. Nabi Ibrahim di langit ketujuh,” tuturnya.
“Sejak peristiwa ini, umat Islam diwajibkan menjalankan sholat lima waktu dalam sehari. Pada mulanya, Allah SWT memerintahkan umat Islam untuk melaksanakan ibadah salat sebanyak 50 kali dalam sehari,” tandasnya.
Lantas Pengasuh Pondok Pesantren Al Mizan ini, memberikan hikmah dari peristiwa Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW.
Hikmah yang pertama, kata dia, bahwasannya umat Islam dalam menjalani hidup itu dengan cara-cara khas aturan Islam. Tidak sebagaiamana pola yahudi, nasroni, dan hedonisme.
Kedua, jika perjalanan Isra dan Mi’raj itu dari masjid-masjid. Itu adalah bukti yang sangat nyata. Bahwa masjid itu sentral peradaban islam. Menunjukkan ketika umat Islam ingin Jaya dan ingin menang maka harus memakmurkan masjid.
Ketiga, Isra mi’raj ini. Jika di logika maka tidak masuk akal. Dan keempat, Isra’ Mi’raj ini dalil yang sangat nyata. Ketika ada pertanyaan dimana Allah? Maka jawabanya Allah itu di atas langit dan bersemayam di atas Ars.
“Kelima, Sholat ini menjadi kewajiban yang besar. Menunjukkan sholat ini bukan perkara kecil, namun perkara yang besar,” pungkasnya. (rilis: humas umla/alfain jalaluddin ramadlan)
