FOMO Pada Dewasa Awal di Era Digital
Penulis: Shafa Nurhaliza Rachman, mahasiswa semester 7 Psikologi, Universitas Muhammadiyah Malang. Artikel ini untuk memenuhi tugas mata kuliah Publikasi Akademik.
Mahasiswa Psikologi, Universitas Muhammadiyah MalangDi era digital seperti sekarang, manusia hidup dalam arus informasi yang tidak pernah berhenti. Sehingga seringkali kita menilai hidup kita sendiri berdasarkan pencapaian orang lain. Cukup dengan membuka sosial media, kita dapat melihat teman kuliah meraih prestasi, rekan kerja naik jabatan, atau teman lain tampak bahagia dalam hubungan dan aktivitas mereka. Kadang senang melihatnya, tapi sering juga muncul pikiran: “Kenapa hidupku belum sampai di titik itu?” Seolah semua orang sudah jauh di depan, dan kita tertinggal di belakang.
Menurut laporan We Are Social (2025), Indonesia memiliki sekitar 143 juta pengguna media sosial, setara dengan 50,2% dari total populasi. Kelompok usia 16–24 tahun paling dominan, termasuk dewasa awal 18–25 tahun, yang intens menggunakan media sosial dan sering terpapar kehidupan orang lain secara terus-menerus. Paparan ini membuat individu pada dewasa awal mudah merasa hidupnya penuh perbandingan, meski setiap orang memiliki ritme dan proses yang berbeda.
Fase dewasa awal adalah masa penentuan arah hidup dan pembentukan identitas. Kita mulai memikirkan pendidikan, karier, kemandirian finansial, serta kualitas hubungan sosial. Di tengah proses mencari arah, melihat keberhasilan dan kebahagiaan orang lain secara terus menerus, seringkali membuat kita mempertanyakan pencapaian diri sendiri. Unggahan tentang kesuksesan atau momen bahagia orang lain akhirnya membuat kita merasa pencapain yang sudah diraih belum cukup untuk membuat kita bahagia.
Perasaan ini dikenal sebagai Fear of Missing Out (FOMO) perasaan takut tertinggal dari pengalaman, kesempatan, atau pencapaian yang dimiliki orang lain. Individu dengan FOMO cenderung merasa bahwa kehidupan orang lain lebih menarik, lebih berhasil, atau lebih bahagia dibandingkan kehidupannya sendiri.
Di usia dewasa awal, FOMO bisa terasa semakin kuat karena kita masih dalam proses memahami diri dan menentukan arah hidup. Terlalu sering membandingkan diri dengan kehidupan orang lain membuat pencapaian sendiri kerap terasa kurang berarti, sehingga kepuasan hidup dan rasa percaya diri perlahan menurun. Saat perhatian kita tertuju pada kehidupan orang lain, sulit rasanya menikmati proses yang sedang dijalani, meski sudah berusaha dan meraih berbagai hal. Kita pun mudah merasa iri atau kurang cukup, dan sering mencari pengakuan melalui likes maupun komentar di media sosial.
Media sosial membuat kita terus membandingkan diri dengan orang lain, padahal perbandingan ini biasanya tidak seimbang karena kita melihat hanya sisi terbaik kehidupan mereka. Lama-kelamaan, hal ini bisa menimbulkan tekanan psikologis, menurunkan rasa percaya diri, dan membuat kita meragukan kemampuan maupun nilai diri sendiri. Ketergantungan pada pengakuan di media sosial membuat harga diri terasa sangat dipengaruhi oleh respons orang lain
Selain itu, FOMO dapat membuat seseorang menjadi sangat bergantung pada media sosial. Rasa takut tertinggal mendorong kita untuk terus memantau notifikasi, membuka aplikasi berulang kali, dan merasa tidak tenang jika tidak “update.” Kebiasaan ini bisa menurunkan produktivitas, mengganggu tidur, dan bahkan menyebabkan kelelahan digital.
Meski begitu, FOMO bukan sesuatu yang tidak bisa dikurangi. Langkah pertama yang dapat dilakukan adalah menyadari bahwa feed media sosial hanya menampilkan sebagian kecil kehidupan orang lain. Dengan menyadari hal itu, kita bisa mulai memberi batasan waktu untuk membuka media sosial, sehingga ada ruang untuk fokus pada pengalaman nyata yang lebih memuaskan. Saat kita belajar menghargai proses diri sendiri, menerima ketidaksempurnaan, dan menikmati apa yang dimiliki, dorongan untuk terus membandingkan diri pun perlahan berkurang. Alih-alih menunggu validasi dari media sosial, menjalin hubungan nyata dengan orang-orang di sekitar bisa memberi kepuasan dan rasa terhubung yang lebih kuat.
Dengan kesadaran dan pengelolaan yang tepat, media sosial tetap bisa menjadi sarana komunikasi dan ekspresi diri tanpa membuat kita terjebak dalam rasa takut tertinggal. Kita harus menyadari bahwa, setiap langkah yang dijalani, sekecil apapun, tetap berarti, dan memungkinkan kita untuk menjalani hidup dengan lebih tenang, jujur pada diri sendiri, dan selaras dengan kebutuhan diri sendiri. (*)
Shafa Nurhaliza Rachman
Mahasiswa Psikologi, Universitas Muhammadiyah Malang
