Dapur Makan Bergizi Muhammadiyah Dipastikan Bermanfaat Holistik
SEMARANG – Badan Pelayanan dan Pemenuhan Gizi Muhammadiyah (BPPGM) sidak Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi Muhammadiyah (SPPGM) untuk pastikan manfaat dapur ini secara holistik ke manusia dan lingkungan.
Sidak tersebut dilakukan secara langsung oleh Direktur Pusat, M. Nurul Yamin dan Wakil Direktur Operasional BPPGM Pusat, Ahmad Maruf pada Selasa (8/9) ke SPPGM di Kecamatan Sumowono dan Bawen, Kabupaten Semarang.
Yamin berpesan supaya track record positif yang dimiliki SPPGM harus dijaga, sebab artinya sama dengan menjaga kepercayaan masyarakat. Karena bagi Muhammadiyah ini adalah komitmen kerisalahan Islam dan komitmen kebangsaan.
Di tengah munculnya berita keracunan siswa penerima manfaat Makan Bergizi Gratis (MBG), Yamin menegaskan, belum ada laporan dari SPPGM yang penerima manfaatnya mengalami keracunan.
Zero Tolerance Kelalaian Pangan
Namun demikian, Yamin menyampaikan bahwa hal itu tidak boleh terjadi, sebab mereka adalah anak-anak bangsa yang harus dijaga. Oleh karena itu, pihaknya tidak mentoleransi adanya kelalaian pangan di SPPGM.
Keamanan pangan– seperti keracunan misalnya itu zero toleran bagi kita, selain itu juga keamanan pangan harus dijaga betul,katanya.
Namun dirinya tidak menutup mata, bahwa masih ada beberapa sarana dan prasarana fisik di SPPGM yang masih butuh perbaikan. Akan tetapi kekurangan tersebut bukan suatu yang mayor, akan tetapi hal ini butuh komitmen untuk perbaikan secara maksimal.
Kita juga mengontrol jangan sampai ada celah-celah kecil yang bisa lalat itu masuk ke dapur, kami tidak mau ada lalat pun yang bisa masuk ke dapur,tegas Yamin.
Oleh karena itu, meski saat ini BGN belum menerapkan Hazard Analysis Critical Control Point (HACCP) atau Analisis Bahaya dan Titik Kendali Kritis, tapi di SPPGM diminta sudah menerapkan standar itu, meskipun belum memakai lisensi formal.
Dapur Gizi Muhammadiyah Wajib Taat SOP
Sementara itu, Ahmad Maruf menegaskan supaya jangan sampai ada praktik kurang baik di SPPGM. Senada dengan Yamin, Maruf menyebut ini adalah amanah dan bentuk komitmen Muhammadiyah menguatkan generasi bangsa.
Terkait dengan sarana dan prasarana fisik SPPGM, Maruf meminta harus sesuai SOP. Termasuk pasca produksi, jangan sampai ada limbah yang dibuang ke sungai– harus ada pengelolaan berkelanjutan dan tidak mencemari lingkungan masyarakat.
Sebab selama ini celah masuk terjadinya kasus-kasus makanan rusak, bukan karena pangannya yang tidak baik, tapi 80 persen penyebabnya adalah lali terhadap SOP,ungkapnya.
Dapur Gizi Muhammadiyah Sesuai Aturan dan Bangun Ekosistem
Sedangkan Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Tengah, Kiai Tafsir di hari sama dalam Koordinasi PJ dan Pengawas SPPGM menjelaskan bahwa tantangan program makan bergizi ini sangat besar, sebab program ini yang pertama di Indonesia dan menyerap anggaran yang besar.
Maka Tafir berpesan supaya SPPGM mengikuti SOP yang berpayung Undang-Undang. Namun bagi Muhammadiyah, kata Tafsir, mengikuti SOP dan berlandaskan konstitusi bukanlah suatu yang susah, sebab selama ini jalur itu sudah biasa ditempuh Muhammadiyah.
Maka kita jaga aman organisasi, dari sekian banyak uang yang ada di MBG,tegas Tafsir.
Tafsir juga mendukung terbentuknya ekosistem, sebab jika SPPGM dapat berjalan dengan baik, akan berdampak pada peternak ayam, petani/pedagang sayur, termasuk petani padi dapat diserap oleh dapur-dapur SPPGM.
Sehingga tidak sekadar memberikan makanan bergizi untuk anak-anak kita, tapi juga membangun ekosistem sosial maupun ekonomi di sekitar kita,tutup Tafsir. (adam/rilis grup media afiliasimu)
