Bareng Komika Abdur, Prodi Ekonomi Pembangunan Bahas Kebangsaan, Gue Beda Kita Bhineka
TABLOIDMATAHATI.COM, MALANG – Prodi Ekonomi Pembangunan Universitas Muhammadiyah Malang (EP UMM) bersama salah satu komika Abdurrahim Arsyad disapa Abdur membahas kebangsaan dalam perspektif generasi milenial tematik Gue Beda Kita Bhineka.
Menurut Abdur prodi ekonomi pembangunan UMM merupakan prodi yang dapat di unggulkan. Hal ini dirasakan sendiri sebab dirinya juga pernah menempuh pendidikan sarjana di Universitas Muhammadiyah Malang pada tahun 2010.
Persoalan ekonomi mikro dan makro sering dibahas oleh Abdur komika asal Larantuka NTT ini melalui konten tentang kritik dalam bidang sosial, pendidikan, dan politik yang dibalut komedi. Sebagai alumni dari UMM Abdur merasa senang diundang oleh kampusnya dan berkesempatan berbagi pikiran dengan mahasiswa Prodi Ekonomi Pembangunan.

Saat hadir dalam kegiatan tersebut Abdur menceritakan kisah awal mula dirinya terjun di dunia stand up comedy. Abdur memasuki dunia stand up comedy karena kegemarannya melihat acara di TV dan berniat langsung untuk hadir secara live di Stand Up Indo Malang. Dirinya mengaku, menyelami dunia komedi hanya untuk mengubah cara mengajar muridnya yang saat itu Abdur bekerja sebagai guru matematika di salah satu sekolah di Malang. Itulah awal karirnya sebagai runner upkompetisi stand up comedy.
Abdur memberikan pendapatnya tentang generasi milenial saat ini. Menurutnya generasi milineal adalah generasi yang cepat dalam update informasi. Karakteristik tersebut menyebabkan rawan terkonsumsinya informasi yang tidak benar (hoax). Semua berlaku bagi generasi millennial dari sabang sampai merauke.
Mengulik tentang Bhineka, Abdur memberikan definisi yang menarik dan perlu bagi semua memahaminya. Kebhinekaan adalah sebuah kondisi dimana semua orang hidup dengan identitasnya yang berbeda-beda baik suku, agama, ras, atau budaya. Tidak bisa dipukul rata karena itu sebuah kemustahilan. “Bhineka adalah keberagaman dan adalah satu hal yang tidak terhindarkan” ucap Komika jebolan SUCI 4 ini.

Selain itu Abdur juga menerangkan bahwasannya stand up comedy yang dibawakannya sering menggambarkan kepada semua penonton bagaimana kondisi Indonesia di bagian Timur. Selain karena menurutnya materi-materi tersebut lebih dekat dengannya juga karena keresahannya selama ini.
“Setiap lokasi menentukan bagus tidaknya akses, sebenarnya kalau setiap manusia di Indonesia ini diberikan kesempatan yang sama seperti pendidikan dan lainnya yang sama persis kayanya bakal bagus banget,” ujar Abdur.
Menurut pengalamannya sebelum ke Malang, Abdur tidak pernah merasakan kalau kampung tempat tinggalnya seperti daerah tertinggal atau sejenisnya. Namun setelah pergi merantau ke Malang dengan akses yang luar biasa membuatnya terheran. Abdur memberi contoh seperti perpustakaan yang ada dimana-mana dan terjangkau. Sedangkan di daerah asalnya tidak ada perpustakaan daerah, kalaupun ada hanya toko buku yang menjual buku paket untuk sekolah.
“Kurikulum sebaiknya disesuaikan saja, kalau disamakan pun agak sulit karena kemampuan pengajar berbeda-beda. Tidak perlu membandingkan pengajar antar sekolah, di sekolah yang sama juga bisa terlihat perbedaann daya serap siswa dari guru yang berbeda,” pesan Abdur. (rilis: humas ekonomi pembangunan/editor: hamara)
