PMM 45 UMM Bersama Warga Sengguruh Lestarikan Budaya-Tradisi Burdah
TABLOIDMATAHATI.COM, MALANG – Pengabdian Masyarakat oleh Mahasiswa (PMM) kelompok 45, gelombang 1 bhaktiku negeri Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Pengabdian Masyarakat oleh Mahasiswa (PMM) bhaktiku negeri ini adalah untuk mengaplikasikan Hilirisasi hasil Penelitian Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Pengabdian Masyarakat oleh Mahasiswa (PMM) bhaktiku negeri wadah mahasiswa menyalurkan berbagai macam kegiatan positif pada masyarakat dibawah naungan Direktorat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (DPPM).

Hari Satu Suro adalah salah satu perayaan budaya yang sarat dengan makna di Indonesia, khususnya di desa-desa Jawa. Di Desa Sengguruh, perayaan ini memiliki keunikan tersendiri yang menggabungkan tradisi lokal dengan semangat pengabdian masyarakat. Salah satu elemen menarik dari perayaan ini adalah Burdah Keliling, sebuah tradisi yang menyertai rangkaian acara Hari Satu Suro. Artikel ini akan menggali lebih dalam mengenai keunikan perayaan Hari Satu Suro di Desa Sengguruh dan bagaimana Program Pengabdian Mahasiswa kepada Masyarakat (PMM) bhaktiku negeri Kelompok 45, Gelombang 1 di bawah arahan Dosen Pembimbing Lapang (DPL) M. Irkham Mamungkas, ST., MT, dengan anggota Rafif Ibnu Ardiansyah (koordinator), Mochamad Irvan Fauzi, Henny Dwi Indriani, Devi Herianita Putri, dan Saidah Nur Halisa. Merteka ikut memberikan warna dalam perayaan ini.
Hari Satu Suro: Makna dan Tradisi
Hari Satu Suro merupakan bagian dari kalender Jawa yang menandai tahun baru menurut penanggalan Jawa. Perayaan ini adalah momen penting bagi masyarakat Jawa, yang diisi dengan berbagai ritual dan kegiatan untuk menyambut tahun baru dengan penuh berkah. Pada hari ini, masyarakat biasanya melakukan berbagai kegiatan seperti berdoa, melakukan pembersihan tempat tinggal, dan berbagai ritual adat yang bertujuan untuk membersihkan diri dari segala keburukan dan memulai tahun baru dengan energi positif.
Burdah Keliling: Tradisi Unik Desa Sengguruh
Di Desa Sengguruh, tradisi Hari Satu Suro diwarnai oleh acara khusus yang disebut Burdah Keliling. Burdah adalah sejenis seni di mana orang berulang kali membaca sholawat. Dalam perayaan Hari Satu Suro, orang melakukan Burdah Keliling, di mana mereka berkeliling desa sambil membacakan sholawat dan mendoakan agar semua warga desa selamat dan sehat di tahun baru.

Para peserta Burdah Keliling biasanya mengenakan pakaian muslim dan menggunakan alat pengeras suara saat mereka berjalan. Acara Burdah Keliling dimulai dengan warga desa berkumpul di lokasi tertentu. Mereka berkeliling desa bersama-sama, melantunkan sholawat dan doa. Selain menjadi cara untuk menunjukkan rasa terima kasih, ring-iringan ini menunjukkan rasa syukur dan mengharapkan keselamatan dan keberkahan di tahun baru. Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berperan sebagai fasilitator, membantu menjadwalkan acara dengan baik. Selain itu, mereka berkomunikasi secara langsung dengan warga, yang memperkuat hubungan antara generasi muda dan masyarakat setempat.
Acara berlangsung dengan penuh semangat sepanjang malam, tetap dalam suasana santai. Mahasiswa dan warga desa bekerja sama untuk mempersiapkan segala keperluan, mulai dari perlengkapan hingga bagaimana prosesi dilakukan. Selain itu, tokoh agama setempat memberikan petuah dan doa, yang menambah acara menjadi lebih suci. Tempat yang sama di mana prosesi Burdah Keliling dimulai berakhir dengan doa penutup. Meskipun acara ini sederhana, itu memiliki dampak yang signifikan bagi warga Desa Sengguruh, memberi mereka rasa bangga akan kekayaan budaya mereka

Peran PMM dalam Perayaan
Program Pengabdian Mahasiswa kepada Masyarakat (PMM) memainkan peran penting dalam mempertahankan tradisi ini dan memperkenalkannya kepada generasi muda dan orang-orang yang datang dari luar desa. Untuk menjamin keberhasilan dan kelancaran acara, mahasiswa PMM sering bekerja sama dengan masyarakat setempat. Mereka membantu dalam berbagai hal, seperti merencanakan, mengorganisir, dan melakukan Burdah Keliling.
Mahasiswa juga berpartisipasi dalam mencatat acara tersebut, sehingga tradisi ini dapat dikenal lebih luas dan digunakan sebagai pelajaran untuk generasi berikutnya. Mahasiswa tidak hanya memperoleh pemahaman yang lebih baik tentang budaya lokal tetapi juga memberikan kontribusi yang signifikan untuk pelestarian budaya tersebut.
Pesona dan Dampak Sosial
Di Desa Sengguruh, Burdah Keliling sangat unik karena tradisi ini menyatukan masyarakat. Acara ini meningkatkan rasa solidaritas dan mempererat hubungan warga. Perayaan ini juga menjadi daya tarik wisata budaya yang dapat menarik pengunjung dari luar desa, mendorong pertumbuhan ekonomi lokal.
Manfaat tambahan dari keterlibatan PMM dalam perayaan ini termasuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya pelestarian budaya dan mendorong generasi muda untuk lebih menghargai warisan budaya mereka. Dengan dukungan mahasiswa, tradisi Burdah Keliling dan perayaan Hari Satu Suro dapat terus berkembang dan diterima oleh masyarakat dari berbagai lapisan. (penulis/foto: pmm 45 gelombang 1 umm/editor: hamim)
