Penggunaan Spirulina SP Bahan Alternatif Pembuatan Pakan Ikan Koi-Parameter Uji Kualitas Pakan Ikan
oleh: Zul Akbar, mahasiswa Prodi Akuakultur Universitas Muhammadiyah Malang
TABLOIDMATAHATI.COM, MALANG – Ikan koi (Cyprinus carpio L.) memiliki bentuk badan dan warna yang indah membuat ikan hias ini banyak diminati masyarakat . Para pecinta koi di indonesia meyakini ikan koi membawa keberuntungan membuatnya bernilai ekonomi tinggi. Daya tarik ikan koi terletak pada warna tubuhnya. Warna ikan koi sendiri dikategorikan menjadi 5 warna dasar, yaitu hitam, kuning, merah atau oranye, sel refleksi kemilau dan putih . Kualitas warna yang dimiliki menentukan nilai ekonomi dari ikan koi . Namun warna tersebut dapat berubah maupun pudar sampai menghilang disebabkan berbagai faktor. Faktor tersebut dipengaruhi lingkungan pemeliharaan dan pakan yang diberikan tidak sesuai dengan kebutuhan yang dibutuhkan .

Peningkatan kualitas warna dapat dilakukan dengan menambahkan zat peningkat warna pada komposisi pakan yang diberikan. Karotenoid yang terkandung dalam pakan dapat meningkatkan warna pada ikan . Karotenoid merupakan suatu senyawa/pigmen yang memberikan warna alami merah, kuning, dan oranye pada tanaman dan mikroorganisme. Salah satu sumber penghasil karotenoid yang sering digunakan pada ikan hias yaitu alga spirulina. Spirulina merupakan sejenis alga hijau-biru dan mempunyai bentuk spiral. Pada ikan hias air tawar yang diberi pakan Spirulina dapat membuat warna ikan hias tersebut menjadi lebih berkilau.

Penambahan tepung Spirulina sp. merupakan alternatif yang bisa diterapkan. Spirulina sp. adalah salah satu jenis dari mikroalga yang banyak dimanfaatkan oleh manusia, serta biasa hidup di danau atau perairan yang memiliki kadar garam, sehingga memilki kandungan nutrisi yang cukup tinggi. Selain itu, Spirulina sp. adalah Cyanobacteria yang berbentuk filamen yang menghasilkan berbagai senyawa bioaktif yang bernilai tinggi antara lain karotenoida. Menambahkan tepung Sprirulina sp ke pakan bertujuan untuk meningkatkan intensitas warna ikan Koi. Sebab, kandungan karotenoid dan protein yang terkandung sangat potensial, namun masih perlu dilakukan penelitian lebih lanjut terkait pengaruh tepung Spirulina sp. terhadap intensitas dan pertumbahan ikan Koi (Cyprinus carpio). Dimana hal tersebut menjadi tujuan utama pada penelitian kami kali ini.
Cara Pembuatan
Tahapan persiapan pembuatan pakan uji diawali dengan menyiapkan bahan baku pakan. Bahan baku pakan yang terdiri atas tepung ikan dan tepung maggot sebagai sumber protein,dedak halus sebagai sumber karbohidrat, minyak ikan sebagai sumber lemak, tepung tapioka sebagai perekat, mineral mix sebagai sumber mineral, vitamin mix sebagai sumber vitamin dan tepung spirulina sebagai bahan tambahan karotenoid. Semua bahan baku dibuat dalam bentuk tepung halus dengan menggunakan mesin penepung.
Pembuatan pakan dimulai dari menimbang bahan baku sesuai dengan komposisi bahan baku penyusun pakan. Selanjutnya bahan-bahan tersebut dicampur hingga homogen,dimulai dengan mencampur bahan yang persentasenya sedikit sampai ke persentase tertinggi. Campuran yang telah homogen ditambah air sebanyak 10% dari berat pakan dan diremas-remas hingga menjadi adonan. Adonan dicetak dengan mesin pencetak pakan atau mesin extruder untuk menghasilkan pakan yang berbentuk bulat. Kemudian dikeringkan dengan penjemuran langsung menggunakan panas matahari selama 2-3 hari. Pakan yang telah dikeringkan selanjutnya dimasukkan ke dalam kantong plastik. Pakan kontrol yang digunakan menggunakan pakan komersil yang sering beredar dipasaran .
Parameter yang diuji

Uji Organoleptik
Pengujian organoleptik pada pakan uji meliputi tekstur, aroma, warna dan kenampakan pakan. Tekstur pakan dapat dilihat dari permukaan pakan yang mulus, berserat atau berlubang. Tekstur pakan dipengaruhi oleh kehalusan bahan baku, jumlah serat, dan jenis bahan perekat yang digunakan. Aroma pakan menentukan kualitas pakan karena berkaitan erat dengan penerima atau daya pikat ikan pada pakan. Warna pakan sangat bergantung pada jenis bahan baku yang dugunakan. Uji organoleptik dilakukan oleh panelis sebanyak 30 orang untuk mengamati secara langsung menggunakan panca indra.
Uji fisik
Uji coba pakan secara fisik bertujuan untuk mengetahui stabilitas pellet didalam air (Water Stability Feed) yaitu daya tahan pakan buatan didalam air. Selain itu uji fisik dapat dilakukan dengan melihat kehalusan dan kekerasan bahan baku pakan yang akan sangat berpengaruh terhadap kekompakan pakan didalam air. Hal ini dapat dideteksi dengan daya tahan pakan buatan didalam air. Dengan mengetahui daya tahan pakan buatan didalam air akan sangat membantu para praktisi perikanan dalam memberikan pakan, berapa lama waktu yang dibutuhkan oleh ikan untuk mengejar pakan dikaitkan dengan lama waktu pakan itu bertahan didalam air sebelum dimakan oleh ikan.

Oleh karena itu dalam membuat pakan buatan, bahan baku yang digunakan harus dalam bentuk tepung, dengan semakin halusnya bahan baku yang digunakan maka bentuk fisik akan semakin baik, dan seluruh bahan baku akan tercampur secara sempurna. Hal ini akan menghasilkan dampak terhadap pakan buatan yang dibentuk menjadi lebih kompak dan stabil. Dengan pakan buatan yang kompak dan stabil maka pakan buatan akan mudah dicerna oleh ikan. Pakan buatan yang mudah dicerna oleh ikan akan mengakibatkan efisiensi pakan yang sangat baik dan sangat menguntungkan pemakai/petani ikan. Adapun pengukuran pakan secara fisik meliputi stabilitas pakan dalam air, tingkat kekerasan dan kecepatan tenggelam. Stabilitas pakan dalam air adalah tingkat ketahanan pakan di dalam air atau berapa lama waktu yang dibutuhkan hingga pakan lembek dan hancur. Stabilitas pakan dalam air, meliputi uji kecepatan pecah dan dispersi padatan.
Uji kecepatan pecah mengukur berapa lama waktu sampai pakan hancur di dalam air. Uji pecah diamati secara visual. Pakan sebanyak 5 batang dimasukkan ke dalam gelas beaker yang diisi 1L air, pengamatan dilakukan setiap 5 menit untuk mengetahui pakan sudah lembek atau belum. Pengamatan dilanjutkan sampai pakan pecah/hancur .
Dispersi padatan diamati dengan menggunakan metode Balazs et. al. (1973) dalam Khartiono (2014). Pakan sebanyak 5g dimasukkan ke dalam kotak kasa berukuran 10 x 10 cm dengan pori-pori sekitar 1mm, selanjutnya direndam dalam aquarium. Setelah 6 jam pakan yang masih tersangkut dalam kotak kasa dikeringkan beserta kotak kasa dalam oven pada suhu 105˚C selama 10 jam. Selanjutnya didinginkan dalam desikator, lalu ditimbang sampai berat konstan). Dispersi padatan dihitung dengan menggunakan formula:
Berat kering pakan akhir
Dispersi padatan (%) = ––––––––––––––––––––––– x 100
Berat kering pakan awal
Uji tingkat kekerasan pakan diukur dengan memasukkan 2 g pakan ke dalam pipa paralon dengan tinggi 1m. kemudian pakan dijatuhi beban anak timbangan dengan berat 500g. Pakan yang telah dijatuhi beban kemudian diayak menggunakan siknet ukuran 0,5 sampai 0,063 mm. Tingkat kekerasan dihitung dalam persentasi pakan yang tidak hancur dengan menggunakan ayakan berbagai ukuran.
Uji kecepatan tenggelam dilakukan dengan mengukur lama waktu yang dibutuhkan pakan bergerak dari permukaan air hingga ke dasar media pemeliharaan. Pakan sebanyak 5 batang dimasukkan ke dalam gelas beaker dengan ketinggian dasar wadah 20 cm dari permukaan air. Stopwatch dijalankan tepat pada saat pakan dijatuhkan ke permukaan air. Kecepatan tenggelam adalah jarak di bagi waktu pakan sampai berada didasar gelas ukur .
Uji Kimiawi Pakan
Uji nutrisi pakan secara kimiawi adalah penentuan kuantitas dan kualitas nutrien dalam pakan. Pengujian secara kimiawi merupakan penentuan komposisi proksimat dari protein, lemak, BETN, serat kasar, abu, dan air dalam pakan uji. (*)
