SMPM-One Gandeng Polsek Sumberpucung Sosialisasi Anti Bully
TABLOIDMATAHATI.COM, MALANG – Mengantisipasi terjadinya bullying di SMP Muhammadiyah 2 Sumberpucung populer disebut SMPM-One, Kepsek SMPM-One, ustadzah Musriatim, S.Psi, bekerjasama dengan Polsek Sumberpucung melaksanakan program TP2K (Tim Pencegahan dan Penanganan Kekerasan).
Menurut ustadzah Musriatim kegiatan sosialisasi TP2K ini dilaksanakan pada Jum’at, 15/12, merupakan kelanjutan dari program pencegahan dan penanganan kekerasan yang di instruksi langsung oleh dinas pendidikan.

Menurut ustadzah Musriatim berbeda dari program sebelumnya, untuk kali ini SMPM-One bekerja sama dengan Polsek Sumberpucung dengan menghadirkan bapak Aiptu Didit Eko dan ibu Aiptu Puji Lestari sebagai pemateri pencegahan bullying.
Dua pemateri dari Polsek Sumberpucung ini, kata ustadzah Musriatim menjelaskan kepada para siswa SMPM-One serta wali murid agar mengetahui salah satu permasalahan yang ada di sekolah. Harapannya pihak sekolah bisa bekerjasama dengan wali murid dalam mencari jalan keluar ketika ada masalah bully di sekolah.

Kata ustadzah Musriatim kehadiran wali murid ini pun juga sebagai langkah awal berjalannya program TP2K, karena memang membutuhkan anggota dari kalangan wali murid. “Dari terlaksananya sosialisasi stop bulliying ini diharapkan berkurangnya aksi kekerasan , perundungan juga hal-hal lain yang tidak diinginkan di sekolah,” tandas ustadzah Musriatim.
Raditya Ferliy salah satu siswa SMPM-One mengungkapkan acara ini berlangsung mulai pukul 07.30 hingga pukul 10.00. Begitu banyak yang dijelaskan tentang permasalahan bullying ini. Dirinya mencatat poin penting diantaranya pengertian bullying, penyebabnya, dampak bulliying juga penjelasan mengenai jenis jenis bullying.

Nah untuk bullying sendiri lanjut Ferly, suatu bentuk penindasan atau kekerasan yang dilakukan oleh per sorangan atau suatu kelompok dengan dilakukan secara berkelanjutan. Penyebabnya, yakni sang korban merasa lemah tentang fisik atau alasan lain yang memang bisa menjadi bahan bulliying teman temannya.
Dampak dari bulliying sanggatlah berbahaya baik bagi pelaku ataupun korban. Bagi pelaku, disaat remaja dia akan berlaku sombong di sekolah. Seperti merasa sok berkuasa atau sok kuat, sehingga dia dibenci oleh warga sekolah.

Adapun dampak bagi korban, dia akan takut untuk pergi sekolah dan jika datang kesekolah dia akan mengasingkan dirinya. Bahkan dampak paling buruk korban akan bunuh diri karena tidak kuat.
Ferly mengulan materi dari Polsek Sumberpucung, bahwa bulliying dibagi menjadi dua. Ada bulliying verbal seperti mengejek, mencaci, meneror di media sosial. Sementara kedua adalah bulliying fisik, contohnya memukul, menendang atau hal lain yang bisa menyakiti fisik orang lain.
Bukan hanya itu, ungkap Ferly pihak Polsek Sumberpucung juga berbagi pengalaman penanganan kasus bullying. Salah satu kasus terbanyak dari kalangan remaja adalah kasus seksual. “Sosialisasi Stop Bulliying ini sangat bermanfaat bagi saya. Dengan ini saya bisa mengerti ilmu tentang bahayanya bulliying di sekolah. Sehingga saya dan teman-teman bisa saling menghargai dan juga saling menjaga satu sama lain,” pungkas Ferly. (penulis: ca’hud/editor: hamara)
