SMK Mutu-Wali Siswa Satukan Persepsi Pendidikan Tanggungjawab Bersama
TABLOIDMATAHATI.COM, MALANG– Arti yang sesungguhnya dari pendidikan adalah pendidikan yang menjadi tanggung jawab bersama. Itulah kutipan Ki Hajar Dewantoro yang disampaikan Kepsek SMK Muhammadiyah 7 Gondanglegi, ustadz Munali, St, M.Pd, ketika berada di forum silaturahmi dengan wali siswa di aula 2 Kampus 1 SMK Muhammadiyah 7 Gondanglegi populer disebut SMK Mutu.
Menurut ustadz Munali, forum silaturahmi dengan wali siswa tersebut untuk menyamakan persepsi bahwa pendidikan adalah tanggungjawab bersama. Yakni sekolah (SMK Mutu) bersama wali siswa (keluarga).
Itu sebabnya agar pendidikan kedua selaras silaturahmi di-isi dengan acara diskusi dan sosialisasi program sekolah. Alhamdulillah semua berlangsung nyaman tanpa kendala.

Ustadz Munali menyampaikan rasa terimakasih atas kehadiran wali siswa dari seluruh wilayah Malang Raya, sebagian Lumajang, Blitar, serta wali siswa yang tidak bisa hadir menyempatkan diri bersilaturahmi melalui layar zoom.
Selain itu ustadz Munali juga menyampikan permohonan maaf, karena akan sering mengajak wali siswa untuk datang ke sekolah diwaktu selanjutnya. Sebab era global saat ini pendidikan tidak dapat hanya dipasrahkan atau dibebankan ke sekolah saja.
Berdasarkan hal ini ustadz Munali kembali menegaskan pernyataan Ki Hajar Dewantoro yang memberikan penjelasan tentang arti sesungguhnya dari Pendidikan. Pendidikan yang menjadi tanggung jawab bersama, termasuk peran keluarga dalam membingkai pendidikan khususnsya di SMK Mutu Gondanglegi sebagai SMK Pusat Keunggulan.
Munali lantas mengulang atau refleksi terhadap peran dari keluarga dalam memahami bahwa pendidikan adalah sebuah proses menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak agar mereka dapat mencapai keselamatan, kebahagiaan setingggi-tingginya sebagai manusia maupun anggota masyarakat.
Selain itu penguatan dasar pendidikan yang bertumpu kepada budi pekerti yang mengedepankan olah rasa tentang jiwa manusia secara holistik. Sehingga pembelajaran yang mengedepankan budi akan membuat siswa menjadi mengolah pikirnya, mengolah rasa, serta memperkuat dengan kesehatan jiwa dan raganya.
Kata menuntun, tandas ustadz Munali adalah kata yang bermakna sangat halus, yaitu dengan tetap mengendalikan anak kita, memegang tanganya sehingga jika mereka akan jatuh kita dapat menahan, jika mereka tertinggal kita akan menarik, atau jika kita anggap larinya terlalu cepat kita juga dan mengontrol.
Guru sebagai penuntun, ucap ustadz Munali, memiliki kewajiban untuk membimbing, mendampingi, sampai menuju arah, atau pintu kesuksesan yang di-inginkan. Harapannya melalui silaturahmi tersebut, orang tua siswa akan memahami, bahwa pendidikan tidak dapat hanya diserahkan kepada sekolah.

Namun keluarga juga sangat berperan dalam proses Pendidikan anak. Keluarga yang merupakan salah satu pilar pendidikan, dan tempat pendidikan pertama kali yang dikenal oleh anak-anak, maka orang tua harus menjadikan lingkungan keluarga sebagai salah satu tempat belajar yang baik.
Semoga dengan kegiatan ini, semakin dibangun kebersamaan sekolah, guru, dan orangtua siswa untuk mencapai cita-cita anak menjadi orang yang sukses dunia akhirat. (humas smk mutu/editor: hamim)
