Peserta Musyda Sarungan Semua, Muhammadiyah Jombang Angkat Tradisi Santri-Kyai
TABLOIDMATAHATI.COM, JOMBANG-Ada yang unik dan menarik dari pelaksanaan musyawarah daerah (musyda) Muhammadiyah Jombang beberapa waktu lalu. Apa itu? Ketua PDM Jombang Dr. Ir. Abdul Malik, MP, IPU, mengungkapkan seluruh peserta musyda Jombang menggunakan dress code batik-dan bersarung.
Tidak hanya anggota musyda dan seluruh peserta, peninjau dan undangan musyda wajib menggunakan sarung. Tanpa terkecuali Ketua PWM Jatim ustadz Dr. dr. Sukadiono dan Wakil PWM Jatim, Drs. Mohamad Khoirul Abduh, di daulat maju ke panggung untuk memakai sarung.

Menurut ustadz Malik, dress code tersebut sesuai dengan tematik musyda yaitu mengangkat tradisi pesantren santri yang identik dengan sarung, sementara batik merupakan simbol kearifan lokal yang menjadi komoditas persyarikatan Muhammadiyah dengan aneka macam jenis batiknya.
Suasana menjadi lebih seru dan mencair, lanjut ustadz Malik, saat kehadiran rombongan pengurus PCNU yang dipimpin Kyai H Salmanhudi didampingi beberapa MWC NU, Ketua MUI, Ketua FKUB, tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepala menyaksikan peserta musya Muhammadiyah Jombang semua memakai sarung. Bahkan sepenggal kalimat guyon membuat hadirin tertawa yang berasal dari salah satu rombongan “Wah Muhammadiyah-NU wes gak enek bedane lek ngene (kalau begini (bersarung-red) antara Muhammadiyah-NU tidak ada bedanya,” ucap ustadz Malik mengulang kalimat guyon tersebut.

Tak berhenti sampai di sini, ustadz Malik menyebutkan suasana musyda lebih bergelora dengan tepuk-tangan ketika pemandu acara (MC) menyampaikan bahwa yang memimpin doa musyda Muhammadiyah adalah Ketua PCNU Jombang KH Salmanhudi.
Bahkan sebelum memimpin doa Kyai Salman menyampaikan guyonan jika musyda Muhammadiyah Jombang tahun ini terasa Konfercab NU semua anggota dan peserta sudah berani memakai sarung. Spontan hal ini disambut tawa para hadirin.

Ketua PDM Jombang ustadz Malik dalam sambutannya menyampaikan kenapa mewajibkan anggota dan peserta musyda memakai sarung. Sebab bukan sekedar ingin tampil beda, tetapi ada makna lain yaitu untuk menghilangkan stigma yang masih ada di masyarakat yaitu sarung identik dengan NU, kaum santri identik dengan NU. Juga memberi kebiasaan baru kepada warga Muhammadiyah bahwa pakaian termasuk sarung atau baju hanyalah muamalah.
“Silahkan di acara apapun menggunakan sarung yang penting isi kepala kita, hati kita tetap ber-ideologi Muhammadiyah,” tutur Dosen Prodi Peternakan UMM ini. Malik.

Memakai sarung di acara resmi seperti musyda ini memang bukanlah ajakan ringan karena ini bukan tradisi Muhammadiyah, tetapi melihat semua PCM beserta anggota yang hadir memakai sarung, ini menunjukkan bahwa ketaatan organisasi, ketaatan kepada pimpinan yang lebih tinggi di Muhammadiyah Jombang berjalan dengan baik.
“Pokok-e sing gak gawe sarung tidak punya hak untuk mendapatkan doarprize tiga paket umroh dan empat speda gunung. Bagaimana sepakat?” tandas ustadz Malik langsung idjawab peserta musyada Sepakat.
Sekedar diketahui, tambah ustadz Malik musyda ke XII Muhammadiyah Jombang digelar selama dua kali. Pertama pada (12/3) dengan materi terkait LPJ, evaluasi dan rekomendasi. Sedangkan kedua dilaksanakan pada (19/3) dengan agenda tunggal pemilihan Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Jombang masa bakti 2022-2027. (rilis: lulut/editor: doni osmon)
