Awalnya Tugas Dosen Matkul KWU, Ayu Nilna Justru Omzet Ratusan Juta
TABLOIDMATAHATI.COM, MALANG– Ayu Nilna Syalsabillah, mahasiswa angkatan 2019 Prodi Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi Bisnis Universitas Muhammadiyah Malang (FEB UMM) asal Nguling, Kabupaten Pasuruan ini sangat berkesan dengan ilmu terapan tempatnya belajar sekarang.
Sebab selama belajar di ekonomi pembangunan UMM seluruh ilmu yang dipelajari bermanfaat bagi kelangsungan bisnis skin care yang sekarang ditekuninya.

Menurut Ayu-nama panggilan Ayu Nilna Syalsabillah- semua ilmu ekonomi pembangunan sangat jitu jika diterapkan di bisnis dan pemerintahan. Hal ini sudah dibuktikan dalam mengelola bisnis skin care yang sekarang sudah menembus omzet sekitar Rp. 100 juta per bulan bahkan pernah menyentuh angka Rp. 300 juta per bulan.
Sukses Ayu Nilna ini berangkat dari tugas praktikum dosen kewirausahaan (KWU) ketika pandemi dua tahun lalu. Nekat menggunakan tabungan Rp. 3 juta untuk modal reseller 12 produk kecantikan sekaligus project tugas matkul kewirausahaan. Sehingga secara langsung terjun menekuni usaha sekaligus bagaimana mempertahankan usaha tersebut. Alhamdulillah upaya ini berhasil.
Selain matkul kewirausahaan, Ayu Nilna juga menerapkan matkul pengantar bisnis agar usahanya terus eksis. Di dalam dua matkul ini ilmu branding, serta mengelola sumberdaya manusia menjadi penting diterapkan.

Dua matkul ini akhirnya menjadi pendukung kesuksesan Ayu Nilna yang awalnya hanya satu orang karyawan sekarang sudah berkembang bertambah dua karyawan. Satu orang sebagai admin dan satu karyawan lain sebagai packing. Saat ini bisnisnya tetap stabil. Bahkan beberapa kali menerima reward dari perusahaan induk skin care tersebut. Yakni reward gold berupa cincin emas, dan umroh.
Dari pengalaman bisnis ini, Ayu Nilna mengungkapkan kesan jika selama kuliah di ekonomi pembangunan UMM semua ilmu tentang usaha bisa dipelajari. Seandainya dirinya berada di program studi lain belum tentu mendapatkan ilmu seperti sekarang ini. Meskipun prodi tersebut masih dalam satu fakultas. (rilis: humas ekonomi pembangunan/editor: doni osmon)
