UMM-UNILU Gagas Desa Tukum Menuju Desa Zero Waste melalui Vermikultur Village
MALANG – Desa Tukum, Kabupaten Lumajang, terus diarahkan menjadi Desa Zero Waste berbasis Integrated Farming melalui program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) skema Pemberdayaan Desa Binaan (PDB). Didanai Hibah Kemendiktisaintek Tahun 2026, program kolaborasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dan Universitas Lumajang (UNILU) tersebut mengembangkan konsep Vermikultur Village dengan mengolah limbah organik rumah tangga menjadi pakan cacing hingga menghasilkan pupuk organik.
Program bertajuk “Pengembangan Desa Tukum sebagai Desa Zero Waste Berbasis Integrated Farming melalui Vermikultur Village” ini diketuai Dr. Ir. Asmah Hidayati, MP., bersama anggota Dr. Drh. Imbang Dwi Rahayu, M.Kes., Iis Siti Aisyah, MT., PhD., IPM., dan Dr. Rusli Tonda.

Ketua Tim PDB, Dr. Ir. Asmah Hidayati, MP., menjelaskan bahwa program tersebut dirancang untuk membangun kemandirian masyarakat dalam mengelola lingkungan sekaligus mengoptimalkan potensi lokal untuk mendukung aktivitas pertanian dan peternakan.
“Melalui program PDB ini, kami ingin membangun kemandirian masyarakat Desa Tukum dalam mengelola potensi yang ada di lingkungannya. Sampah organik tidak lagi dipandang sebagai limbah yang harus dibuang, tetapi dapat diolah menjadi sesuatu yang bernilai dan mendukung kegiatan pertanian,” jelasnya.
Menurutnya, konsep zero waste dalam program ini tidak sekadar mengurangi sampah, tetapi membangun ekosistem yang menghubungkan pengelolaan limbah dengan aktivitas pertanian dan peternakan masyarakat.
Pelatihan digelar pada 5 September 2026 di Hall Aby Hotel dan diikuti 40 peserta dari unsur Kelompok Masyarakat (Pokmas) yang diketuai Hendrik. Kegiatan turut dihadiri Kepala Desa Tukum Santo dan Ketua Tim Penggerak PKK Desa Tukum, Ibu Hany.

Selain materi pengolahan limbah organik melalui vermikultur, peserta juga mendapatkan pembekalan mengenai manajemen kandang ayam Kuntara serta teknologi pembuatan pakan ayam. Materi tersebut diberikan untuk memperkuat aspek peternakan dalam konsep integrated farming, sehingga pengelolaan lingkungan dapat berjalan beriringan dengan peningkatan produktivitas usaha masyarakat.
Sementara itu, Iis Siti Aisyah, MT., PhD., IPM., menjelaskan bahwa penerapan zero waste dimulai dari pemilahan sampah di tingkat rumah tangga. Masyarakat diperkenalkan pada pemisahan sampah organik, anorganik, dan residu.
“Kunci dari pengelolaan sampah adalah pemilahan dari sumbernya. Sampah organik seperti sisa sayuran dan buah dapat dipisahkan sejak dari rumah untuk kemudian diolah menjadi bahan pakan cacing. Dengan begitu, sampah yang sebelumnya dibuang dapat kembali dimanfaatkan,” terang Iis.
Peserta kemudian dilatih menyiapkan bahan organik menggunakan mesin pencacah agar ukurannya lebih kecil dan mudah terurai. Bahan tersebut dipersiapkan dengan memperhatikan kelembapan, ukuran, serta tingkat kematangannya agar sesuai untuk pakan cacing.

Pelatihan juga mencakup teknik budidaya cacing, mulai dari penyiapan media, pemberian pakan secara bertahap, pengaturan kelembapan, hingga pemeliharaan media vermikultur. Cacing akan menguraikan bahan organik dan menghasilkan vermikompos atau kascing yang dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik.
Melalui konsep integrated farming, limbah organik rumah tangga diolah menjadi pakan cacing, menghasilkan vermikompos, kemudian dikembalikan ke lahan pertanian. Di sisi lain, penguatan manajemen kandang dan teknologi pembuatan pakan ayam diharapkan meningkatkan efisiensi pengelolaan peternakan masyarakat.
Tim PDB UMM–UNILU menargetkan Pokmas menjadi penggerak keberlanjutan program, mulai dari pemilahan, pencacahan, pengelolaan vermikultur, hingga pemanfaatan hasilnya untuk pertanian dan kegiatan ekonomi produktif.
Melalui Vermikultur Village, Desa Tukum diarahkan tidak hanya mengurangi sampah yang berakhir di tempat pembuangan, tetapi juga menciptakan rantai nilai baru dari limbah organik. Upaya tersebut menjadi bagian dari langkah membangun Desa Tukum yang bersih, produktif, mandiri, dan berkelanjutan. (faqih/humas umm)
