PMM 66 UMM Mitra Dosen, Sosialisasi-Sinkronisasi Metode Pembelajaran pada Anak Usia Dini
TABLOIDMATAHATI.COM, MALANG – Pada bulan Juli 2023 hingga Januari 2024, lima mahasiswa dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) prodi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) dalam kegiatan PMM (Pengabdian Masyarakat oleh Mahasiswa) Mitra Dosen kelompok 66, mengikuti forum yang membahas tentang “Transisi PAUD SD”.
Hal ini dijelaskan salah satu anggota PMM 66 UMM Mitra Dosen Fitriya Maharani, bahwa kegiatan Pengabdian Masyarakat oleh Mahasiswa (PMM) ini adalah untuk mengaplikasikan Hilirisasi hasil Penelitian Universitas Muhammadiyah Malang (UMM).

Selain dirinya, kata Fitriya Maharani, juga terdapat anggota lain atas nama Adelia Ananda Aviva, Febila Serlina Efendi, Viona Dian Septya, dan Niken Salifi Mayang D. Mereka dalam pendampingan Dosen Pembimbing Lapangan Dr. Siti Fatimah Soenaryo, M.Pd.
Menurut Fitriya, kegiatan tersebut dilakukan bertahap yang pertama bertempat di Korwil Pujon dengan tema diskusi “Sosialisasi dan Sinkronisasi Pembelajaran PAUD – SD”, kemudian dilanjutkan dengan ‘Evaluasi Tindak Lanjut Program transisi PAUD ke SD” di ruang tamu prodi PGSD UMM, Mikroteaching Evaluasi, Refleksi dan Rencana tindak lanjut program transisi PAUD ke SD, sosialisasi di tumpang, hingga banyak kegiatan terstruktur lainnya. Kegiatan PMM tersebut melahirkan pengetahuan dan pemahaman penting terkait transisi PAUD SD yang diringkas dalam sebuah laporan.

Beberapa poin penting yang dibahas dan dapat disimpulkan dari kegiatan PMM kelompok 66 yaitu:
Miskonsepsi Pendidikan Anak Usia Dini
Sekolah Dasar (SD) merupakan jenjang pendidikan anak anak yang umumnya berusia 7 hingga 13 tahun. Sekolah dasar merupakan fase selanjutnya yang harus di tempuh setelah anak melewati fase bermain di PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini). Ketika anak telah memulai menjadi anak Sekolah Dasar mereka sering kali dianggap telah cukup dengan masa bermainnya, pembelajaran dianggap telah memasuki fase yang sebenarnya.
Namun benarkah begitu? Lalu bagaimana dengan transisi antara fase bermain dan fase belajar sesungguhnya? Apakah anak bisa langsung menerima perubahan tersebut?
Nyatanya tidak ada yang disebut dengan pembelajaran yang sebenarnya. Sejak anak berada di fase pendidikan PAUD, mereka juga melakukan pembelajaran yang sebenarnya. Bermain adalah bagian dari belajar, bagian dari pendidikan. Saat ini, miskonsepsi praktik pembelajaran di masyarakat masih sangat kuat terkait Pendidikan Anak Usia Dini hingga ke Sekolah Dasar.

Kesalahan tersebut yaitu:
- Belajar dianggap berhasil apabila anak menguasai kemampuan calistung.
- Kemampuan calistung dipahami dengan sempit dan diajari dengan cara instan
- Tes calistung masih diterapkan sebagai syarat masuk Sekolah Dasar
Tiga kesalahan tersebutlah yang bisa dibilang dapat merebut masa kanak kanak pada anak usia dini. Mereka yang seharusnya belajar sambil bermain, atas tuntutan sosial dan pendidikan, dipaksakan untuk belajar calistung pada usia yang terlalu dini. Banyak anak mereka tidak menyukai sekolah karena calistung sebenarnya belum harus mereka pelajari di usia tersebut, sehingga anak merasa terbebani terhadap pendidikan yang diberikan.
Kemampuan Fondasi dalam Penguatan Transisi PAUD-SD
Membangun kemampuan fondasi adalah bentuk pengenalan pertama anak dalam mengenalkan nilai nilai baik yang dimiliki dalam Profil Pelajar Pancasila. Namun, karena PAUD belum wajib belajar dan setiap anak berhak mendapatkan pembinaan kemampuan fondasi, maka kemampuan fondasi dapat dibangun secara bertahap dan berkelanjutan hingga SD kelas awal.
Kemampuan fondasi dapat dibina menggunakan struktur kurikulum PAUD maupun SD, sehingga secara sistemik kemampuan fondasi ini menjadi bagian dari pembiasaan sekaligus pembelajaran di satuan PAUD maupun SD.

Kemampuan fondasi memiliki 6 aspek, yaitu:
- Mengenal Nilai Agama dan Budi Pekerti
Pembelajarannya dapat dilakukan dengan: anak mengenal konsep Tuhan YME melalui kegiatan sesuai agama dan kepercayaannya, anak diajarkan untuk menjalin interaksi dengan teman sebaya.
- Keterampilan sosial dan bahasa
Pembelajarannya dapat dilakukan dengan: Menanamkan kebiasaan pada anak untuk mengucapkan kata “tolong” saat meminta bantuan kepada teman, dan mengucapkan “maaf” saat membuat kesalahan serta “terima kasih” saat anak mendapatkan sesuatu.
- Kematangan Emosi
Pembelajarannya dapat dilakukan dengan: Anak diajari pentingnya bersabar ketika menunggu sesuatu dalam beberapa saat, anak diajari untuk dapat mempertahankan perhatian atau fokus ketika mengikuti kegiatan di kelas dalam rentang waktu yang sesuai dengan usianya.
- Pemaknaan Terhadap Belajar
Perilaku yang tercermin yaitu: senang datang ke sekolah, bersedia mencoba kembali atau memperbaiki pekerjaan jika melakukan kesalahan, menunjukkan keingintahuan dengan mengajukan pertanyaan (Antusias dalam pembelajaran).
- Kemampuan Motorik dan Perawatan Diri
Perilaku yang tercermin: Anak mampu mengelola barang milik pribadi yang ia bawa ke sekolah (Mengenali barangnya dan bisa membereskan tas nya sendiri), mampu secara bertahap menjaga kebersihan diri sendiri.
- Kematangan Kognitif untuk Mengikuti Kegiatan Pembelajaran
Perilaku yang tercermin, yaitu: Anak mampu menyimak informasi dan menyampaikan gagasan sederhana, anak menyadari keterkaitan antara simbol angka/huruf dengan kata dan bilangan, anak mampu membilang jumlah benda atau objek dan menggunakan angka sebagai simbol jumlah objek atau benda, anak mampu memahami konsep waktu (sekarang, hari ini, nanti, besok, lama, sebentar, pagi, siang, malam)
Perubahan yang Ingin Dilihat di PAUD dan SD
Setelah menerapkan pembelajaran yang sesuai dan bertahap, diharapkan terciptanya ‘Transisi PAUD-SD yang Menyenangkan’. Maka perubahan perubahan yang ingin dicapai yaitu:
- SD tidak melakukan tes calistung sebagai dasar penerimaan peserta didik baru yang berasal dari satuan PAUD atau belum pernah mengikuti PAUD
- Satuan pendidikan dapat merancang pembelajaran untuk periode dua Minggu pertama.
- Guru PAUD dan SD mampu:
- Memilih kegiatan pembelajaran yang memberikan pengalaman menyenangkan dan membangun kemampuan fondasi
- Melaksanakan kegiatan asesmen di kelas dengan teknik yang menguatkan sikap belajar positif
- Menyusun informasi perkembangan anak yang penting diketahui orang tua/ wali murid. (*)
