Momentum Ganti Tahun, Gemar Maos Diskusi Literasi-Bedah Buku
TABLOIDMATAHATI.COM, LAMONGAN– Gemar Maos adalah gerakan literasi akar rumput yang berikhtiar untuk cinta membaca, cinta buku, dan cinta ilmu. Pada hari Ahad (31/12/2023) malam Gemar Maos mengadakan kembali kegiatan bertajuk Diskusi Literasi dan Bedah Buku di penghujung tahun 2023. Kali ini buku yang dibedah adalah buku “Semua Guru Semua Murid” karya dari M. Husnaini, Ph.D. dan Dr. Nasaruddin Idris Jauhar, M.Ed.
Diskusi literasi ini dilaksanakan dengan metode hybird, peserta hadir secara offline dan online. Untuk offline tempatnya adalah di rumah basecamp Gemar Maos dan yang online menggunakan Zoom. Acara ini sukses diikuti oleh kurang lebih 30 peserta.
Narasumber agenda ini langsung diisi oleh para penulisnya, yang pertama adalah M. Husnaini, Ph.D. Dan yang kedua adalah Dr. Nasaruddin Idris Jauhar, M.Ed. dengan dipandu dan sebagai pemantik adalah pendiri dari Gemar Maos, Aditya Akbar Hakim.
Pemaparan dilakukan secara bergantian oleh narasumber dan dilanjutkan diskusi dari para peserta dari pukul 19.00 WIB hingga 21.45 WIB. “Acara berlangsung sangat hikmat dan antusias dari para audience, sekaligus menjadi refleksi akhir tahun mempersiapkan diri di tahun 2024 agar menjadi pribadi yang siap menjadi guru dan siap menjadi murid dalam mengarungi kehidupan.” kata Bakhrus Salam selaku ketua penyelenggara.
Narasumber menyampaikan poin-poin penting dalam bedah buku kali ini, yakni 1) Pentingnya menjadi seorang Ulul Albab, 2) Menjadi Hamba Allah yang cinta ilmu dan belajar, 3) Mengambil hikmah dari setiap kejadian dan setiap orang yang ditemui, 4) Siap menjadi pribadi yang selalu menyebarkan kebahagiaan dan kebaikan, 5) Pentingnya membaca dan menulis, dan 6) Dakwah melalui tulisan.
Aditya Akbar Hakim mengatakan bahwa Gemar Maos selalu mengadakan agenda rutin diskusi tiap bulan. Bedah buku adalah salah satu menu pada forum majelis ilmu bernama “diskusi literasi”. Kami hadirkan guna memberi alternatif forum ilmu pada misi gerakan akar rumput literasi yang kami usung. Juga memantik gairah agar siapa saja mau menjadikan membaca lalu menulis sebagai laku utama pada ritual kehidupan.
“Gemar Maos berupaya terus konsisten, kami hadir memberi membuka ruang diskusi dan tempat nongkrong bertukar gagasan saling sinau perihal apa saja via alat bernama literasi. Bukan berbasis anggaran, tapi murni swadaya sosial. Jadi, kami tak terlalu pusing pada jumlah siapa dan dari mana saja yang hadir datang. Namun, kami bersyukur bila taburan kemanfaatan bisa meluas hingga radius yang tak terbatas.” imbuhnya. (muzaki/alfain)
