Sekitar 177 Pelajar-Mahasiswa Indonesia di Suriah Selamat Gempa Turki
TABLOIDMATAHATI.COM, SURIAH-Ratusan pelajar dan mahasiswa asal Indonesia yang berada di Suriah dipastikan aman atau selamat dari dampak gempa. Kabar baik ini disampaikan langsung oleh Ketua PPI (Perhimpunan Pelajar Indonesia) Suriah, Robeth Buldan Kanzy Bahruliman disapa ustadz Robert kemarin (7/2) kepada wartawan tabloidmatahati.com.
Menurut ustadz Robert sekitar 177 pelajar dan mahasiswa asal Indonesia yang tercatat di PPI Suriah dipastikan selamat dari gempa yang berpusat di Turki tersebut. Sebab semua pelajar dan mahasiswa asal Indonesia bermukim di ibukota Suriah yakni Damaskus.

Sementara dampak gempa Turki yang paling parah di Suriah berada di kota-kota yang ber-batasan dengan negara Turki. Kota dimaksud seperti Aleppo, Idlib, Lattakia, dan Hama. Di empat kota wilayah utara Suriah ini korban jiwa dan materi-il diperkirakan mencapai 1450 jiwa meninggal dan 3.400 mengalmi luka-luka. Korban gempa ini diperkiran akan terus bertambah karena masih proses identifikasi awal.
Ditegaskan ustadz Robert yang saat ini menempuh pendidikan di Universitas Bilad Al-Syam, Mujamma’ Syekh Ahmad Kaftaro, Damaskus, pelajar maupun mahasiswa yang berada di Damaskus hanya merasakan getaran ringan gempa. Sebab jarak antara Damaskus ke empat kota terdampak gempa Turki tersebut mencapai ratusan kilometer dengan waktu tempeh sekitar enam jam perjalanan darat Damaskus-Aleppo.
Saat ini PPI terus berkomunikasi dengan KBRI Suriah. Bahwa di-imbau agar warga negara Indonesia di Suriah untuk berhati-hati meningkatkan kewaspadaan, menginformasikan kondisi dan keadaan di sekitar tempat tinggalnya, segera menghubungi KBRI Damaskus apabila ada perkembangan atau masalah lain yang dianggap perlu.

Menariknya, tambah ustadz Robert terjadinya gempa ini menumbuhkan empati sosial sebagai warga Indonesia yang berada di luar negeri. Bentuknya PPI se Timur Tengah sudah merencanakan untuk mengggalang donasi bagi korban gempa Turki-Suriah. Namun informasi lebih lanjut masih menunggu koordinasi dengan KBRI apakah memungkinkan untuk penyaluran dan semisalnya.
“Masih kami pertimbangkan juga sebab akses ke Suriah semenjak perang di Aleppo sangat terbatas. Apalagi untuk pengiriman bantuan harsu melalui negara lain terlebih dulu seperti Lebanon dan semisalnya baru bisa masuk Suriah melalui jalur darat,” ujar pria asal Kabupaten Probolinggo ini. (doni osmon)
